
“Jangan menangis. Aku tidak suka melihat kamu menangis.” Leo menjauhkan tubuhnya untuk menjangkau wajah Loveta. Dia menghapus air mata Loveta.
“Kamu yang membuat aku menangis.” Loveta meluapkan kekesalannya. Dia berusaha untuk tidak menangis lagi.
“Iya, aku yang salah.” Leo memilih mengalah. Walaupun tidak ada permintaan maaf secara langsung yang terucap dari mulut Leo, tetapi Loveta sudah luluh. Mereka memang akan berbaikan begitu saja. Tidak pernah secara formal mengatakannya.
“Jangan menyalahkan orang lain untuk kesalahanmu.” Loveta memberitahu Leo.
“Siapa yang menyalahkan orang lain?” Dengan polosnya Leo menyangkal.
“Kamu lupa semalam kamu menyalahkan Kak Liam yang membuat aku tidak menghubungimu.” Loveta mengingatkan Leo.
Sejenak Leo teringat jika semalam memang dia menyalahkan pria bernama Liam itu.
“Bagus kamu membahas Liam. Kenapa kamu tidak menceritakan padaku jika kamu bertemu Liam?” Leo mengambil kesempatan untuk membahas Liam.
“Kamu ke luar kota. Lalu bagaimana bisa aku membahasnya?” Loveta balas bertanya. Walaupun Liam datang sebelum Leo pergi ke luar kota, tetap saja dia tidak mau disalahkan.
Leo tidak berkutik. Jika itu permasalahannya, tentu saja itu membuatnya harus sadar diri jika kesalahan ada padanya.
__ADS_1
“Sekarang ceritakan. Apa dia ke sini untuk bertemu denganmu?” Leo begitu penasaran. Ada rasa cemburu yang menghantuinya. Mengingat dulu Loveta sempat menangisi Liam yang tak ada kabar.
“Tentu saja tidak. Dia ke sini untuk bisnis dan juga untuk bertemu orang-orang yang ada di masa kecilnya. Itu bukan aku saja. Ada Bu Kania, Mami, Papa Adriel, dan anak-anak panti asuhan lainnya.” Loveta tak mau sampai Leo berpikir seperti itu.
Leo masih tidak percaya. Mengingat Loveta dulu dekat, tentu saja itu membuat Leo takut.
“Kamu cemburu?” tanya Loveta menggoda.
“Tidak.” Leo menggeleng.
“Yakin?” Loveta memandangi Leo. Mencari kebohongan dalam ucapan Leo.
Loveta begitu senang karena baru kali ini Leo menunjukkan rasa cemburunya.
“Aku tidak ada apa-apa dengan Kak Liam. Jika kamu tidak percaya aku akan mengajakmu bertemu dengannya nanti setelah ini. Agar kamu lihat sendiri.” Loveta mencoba menenangkan Leo.
Leo tidak menjawab. Namun, dia harus bertemu dengan Liam karena agar tahu sejauh apa kekasihnya dekat.
“Baiklah.”
__ADS_1
Tepat saat obrolan mereka selesai, makanan yang dipesan datang. Leo segera berpindah ke kursinya. Duduk tepat berhadapan dengan Loveta.
Loveta yang sudah lebih tenang, bisa menikmati makannya dengan baik. Suasana lebih baik dibanding tadi. Kini senyum tipis sudah menghiasi wajah Loveta.
“Kamu tidak bekerja tadi?” tanya Loveta. Tadi dia melihat Liam tidak membawa tas seperti biasanya. Jadi dia yakin Leo sedang tidak bekerja.
“Iya, aku tidak bekerja hari ini. Aku tadi dari pengadilan.” Leo menceritakan.
“Apa ini terkait kakak tirimu yang mau merebut restoran?” Loveta mencoba menebak.
“Iya, ini karena hal itu. Sepertinya dia lawan yang kuat.” Leo merasa jika bisa saja dia kehilangan restoran jika Liam punya banyak bukti.
“Jahat sekali dia. Aku tidak suka orang-orang yang merampas milik orang lain.” Loveta merasa jika kakak tiri Leo begitu jahat. Tanpa dia tahu jika kakak tiri Leo adalah Liam.
“Sudah lupakan. Aku malas membahas itu lagi.” Leo cukup pusing hari ini. Jadi tentu saja dia tidak mau memikirkan hal itu.
“Sudah lupakan.” Loveta juga tidak mau suasana berbaikan mereka jadi buruk membahas masalah ini.
“Karena hari ini kamu tidak bekerja, setelah ini aku akan ajak kamu bertemu dengan Kak Liam. Agar kamu tidak curiga lagi. Agar masalah kita cepat selesai.” Loveta tak mau berlarut-larut. Nanti dia akan izin pada sang mama, jika keluar setelah jam istirahat.
__ADS_1
“Baiklah. Kita temui setelah makan.” Leo setuju untuk bertemu dengan Liam.