Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 104


__ADS_3

“Sudah malam, kamu bisa lanjut besok saja.” Liam melihat sang istri yang masih asyik memasukkan baju ke dalam lemari. Padahal sudah jam dua belas malam. Tentu saja itu membuatnya menegurnya.


“Besok aku sudah mulai kerja. Jadi aku mau besok sudah tidak melakukan apa-apa lagi.” Loveta masuk memasukkan bajunya ke dalam lemari. Tadi Liam memberikannya ruang untuk menaruh baju. Jadi dia langsung menaruh baju-bajunya.


“Tapi, ini sudah malam, Sayang.” Liam menghampiri sang istri. Menghentikan aksi sang istri.


“Kamu yang membuat aku melakukan sampai malam.” Loveta melirik sang suami.


Dahi Liam berkerut dalam. Dia merasa heran. Kenapa bisa dirinya yang disalahkan. Padahal jelas istrinya sendiri yang mau melakukannya malam-malam.


“Iya, andai tadi kamu tidak membuat keributan terlalu lama. Pasti aku sudah melakukannya sejak tadi.” Loveta mengingatkan apa yang dilakukan Liam tadi.


Liam memikirkan maksud sang istri. Sampai akhirnya dia sadar apa yang dimaksud sang istri. Apalagi jika buka kegiatan candu tadi yang dilakukannya cukup lama.


“Baiklah, aku yang salah.” Liam tak menampik tuduhan sang istri. Sebagai gantinya, dia segera membantu sang istri memasukkan pakaiannya ke dalam lemari.


Loveta hanya tersenyum saja ketika sang suami mengakui kesalahannya. Dia juga senang ketika Liam mau membantunya.


Dengan cepat pakaian-pakaian itu selesai juga. Alhasil, Liam dan Loveta bisa segera beristirahat.


Loveta dan Liam naik ke atas ranjang. Loveta masuk ke dalam pelukan sang suami. Memeluk erat tubuh sang suami.

__ADS_1


“Besok kamu mulai bekerja.” Liam membelai lembut rambut sang istri. “Besok aku akan mengantarmu.” Liam tak mau membiarkan sang istri sendiri.


“Aku biasa berangkat sendiri. Tidak suka menunggu dijemput. Apa aku boleh bawa mobil sendiri?” tanya Loveta menatap Liam.


“Kenapa harus berangkat sendiri jika ada aku?” tanya Liam.


“Aku merasa jika lebih leluasa saja.” Loveta merasa jika akan nyaman jika dirinya berangkat sendiri.


“Tidak boleh. Aku akan mengantarkanmu.” Mana bisa Liam membiarkan sang istri sendiri.


“Baikah.” Loveta pasrah saja. Karena tidak mau berdebat, akhirnya dia setuju saja.


 


Pagi ini mereka sarapan roti yang kemarin dibawakan oleh Mama Arriel kemarin. Beruntung sekali Mama Arriel membawakan roti jadi pagi ini Loveta bisa memanggangnya, kemudian mengolesi selai coklat.


Loveta dan Liam menikmati sarapan pagi mereka. Walaupun sederhana, tetapi cukup mengganjal perut mereka.


“Sepertinya hari ini kita harus berbelanja. Karena kulkas benar-benar kosong.” Di tengah-tengah sarapannya, Loveta memberitahu.


“Kita pergi saat pulang kerja saja.” Liam setuju dengan ide sang istri.

__ADS_1


Mereka berdua menikmati sarapan kembali. Saat selesai mereka segera berangkat bekerja.


Liam mengantarkan Loveta lebih dulu. Sebelum ke restoran. Ada beberapa hal yang masih harus dikerjakannya.


“Sayang, sepertinya kita belum bisa ke Italia. Aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan.” Liam menoleh ke arah sang istri. Membagi konsentrasinya pada jalanan.  


Loveta tahu jika Liam masih sibuk mengurus restoran miliknya. Apalagi banyak hal yang harus dilakukan.


“Tentu saja. Kita akan pergi saat pekerjaanmu sudah selesai.”  Loveta tidak masalah kapan pun Liam akan mengajaknya pergi.


“Baiklah, aku akan cepat selesaikan pekerjaanku.” Liam tersenyum. Senang sang istri mengerti dirinya.


“Apa kamu jadi bertemu dengan papi hari ini?” tanya Loveta memastikan.


“Jadi, papi bilang mau mengenalkan temannya pemilik gedung.” Liam menjelaskan pada sang istri.


“Teman yang mana yang mau dikenalkan padamu?” Loveta memikirkan teman yang dimaksud oleh papinya.


“Entah, aku juga penasaran.” Liam sendiri tidak tahu karena Papi Dathan tidak menjelaskan detail siapa temannya.


 

__ADS_1


__ADS_2