Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 120


__ADS_3

“Sayang, bangun.” Liam berbisik pada sang istri.


Loveta yang mendengar hal itu juga langsung membuka matanya. Lampu bioskop yang sudah menyala membuatnya langsung menyipitkan matanya. Belum bisa beradaptasi dengan cahaya itu.


Saat mulai beradaptasi, dia mulai melebarkan matanya. Alangkah terkejutnya Loveta ketika mendapati film sudah selesai. Ditambah lagi orang-orang sudah mulai pergi dari bioskop.


“Aku ketiduran.” Loveta malu sekali. Tadi niatnya bersembunyi malah justru tertidur.


“Iya.” Liam tersenyum.


“Filmnya sudah selesai.” Dengan polosnya dia mengomentari film yang tadi ditontonnya.


“Iya, dan kamu tidur sampai film habis.” Liam mencubit hidung Loveta.


Loveta semakin malu sekali.


“Ayo, keluar. Nanti jika kelamaan di sini akan horor.” Liam menggoda sang istri. Dia segera berdiri untuk keluar dari bioskop.


Loveta yang takut langsung segera ikut berdiri. Dia tidak mau sampai sendiri di bioskop.


Mereka segera keluar dari bioskop. Liam mengajak Loveta untuk ke restoran yang berada di mal. Mereka memilih restoran Japan.


“Apa tadi ceritanya seru?” tanya Loveta di tengah-tengah makan.


“Seru, hantunya cukup menyeramkan. Jika kamu lihat, aku jamin kamu tidak akan bisa tidur.” Liam tertawa.


“Syukurlah aku tidur.” Loveta tertawa. Dia merasa beruntung sekali.


“Tapi, aku tidak mau jika menonton film ditinggal tidur. Lain kali kita menonton di rumah saja. Jika kamu tidur aku bisa tidur—“


Loveta langsung menutup mulut Liam. Takut jika Liam mengatakan hal tidak pantas di tempat umum.

__ADS_1


“Kenapa ditutup?” Liam melepaskan tangan sang istri.


Loveta mendekatkan wajah ke arah sang suami. “Kamu tadi mau bilang jika aku tidur, kamu akan meniduri aku ‘kan?” ucapnya dengan nada lirih.


Liam langsung tertawa. Dia tidak menyangka jika sang istri mengatakan itu. “Aku mau bilang, aku mau ikut tidur juga.” Dia kembali tertawa.


Seketika Loveta malu sekali. Dia sudah berpikir menjurus ke sana. Ternyata suaminya tidak berpikir ke sana.


Loveta yang malu, memilih makan. Tak mau melihat sang suami.


Liam hanya tersenyum melihat sikap malu-malu istrinya.


...****************...


Usai makan malam, Liam dan Loveta segera pulang. Waktu di luar rumah berdua sudah cukup dihabiskan bersama. Tinggal menikmati waktu berdua di apartemen.


Sesampainya di apartemen. Liam memilih untuk mandi lebih dulu, sedangkan Loveta membersihkan wajahnya terlebih dahulu sebelum mandi.


Loveta begitu ketakutan. Apalagi bayang-bayang hantu dalam film tadi terlintas.


“Sayang.” Loveta memanggil sang suami.


Sayangnya, tidak ada jawaban sama sekali dari Liam.


Loveta merasa takut. Dia memilih membuka gorden di kamar agar cahaya dari luar masuk. Saat memerhatikan unit apartemen lain, ternyata tidak. Artinya hanya apartemennya.


Loveta segera mencari ponselnya. Agar dapat penerangan.


Loveta berjalan dengan pelan ke arah nakas agar tidak menabrak apa pun di depannya.


Akhirnya ponsel didapat juga. Dengan segera, dia menyalakan lampu tersebut.

__ADS_1


Sesaat menyalakan lampu di ponselnya, tiba-tiba tangan Loveta ditarik.


“Ach ....” Tubuh Loveta jatuh ke atas tempat tidur.


Loveta benar-benar ketakutan. Namun, sesat kemudian dia tersadar ketika aroma sabun milik Liam tercium. Dia yakin sekali jika yang menariknya adalah suaminya.


Untuk memastikan hal itu, Loveta langsung berusaha mengarahkan ponsel ke wajah orang yang menariknya. Benar saja, saat lampu ponsel mengarah ke wajah, ternyata wajah Liamlah yang terlihat.


“Hah ....” Liam menakuti sang istri.


“Menyebalkan.” Loveta langsung memukul Liam. Kesal dengan aksi sang suami.


Liam langsung tertawa. Senang sekali menggoda sang istri.


Loveta menekuk bibirnya. Merasa kesal dengan sang suami.


Liam melihat jelas jika sang istri sangat marah. Namun, dia tidak tinggal diam. Dengan segera, dia mendaratkan kecupan di bibir sang istri.


“Maaf, aku bercanda.” Liam merasa bersalah ketika sang istri marah.


“Kamu membuat aku ketakutan.” Loveta meluapkan kekesalannya.


“Iya, Maaf.” Liam tersenyum.


Loveta tidak bisa marah pada Liam. Apalagi sang suami memohon.


“Kalau begitu lepaskan dulu. Aku mau pakai baju.” Loveta baru selesai mandi. Jadi belum memakai baju. Tentu saja dia harus segera bangun dan berganti baju.


“Tidak perlu pakai baju.” Liam membuka tali bathrobe yang dipakai sang istri.


Loveta hanya pasrah saja. Dia tahu ke mana arah tujuan sang suami. Ke mana lagi jika bukan pencarian kenikmatan.

__ADS_1


 


__ADS_2