Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 77


__ADS_3

“Memang apa yang akan terjadi jika aku masuk ke kamar pria?” tanya Loveta polos.


“Bisa saja, mereka menerkammu.” Liam menjawab sambil menggerakkan tangannya seperti mau menerkam. Tawa Liam pun mengiringi gerakkannya.


Loveta yang tadinya takut, langsung tertawa. Merasa lucu sekali.


“Kak Liam pikir pria itu singa?”


“Pria bisa jadi singa di saat-saat tertentu.” Liam menatap Loveta.


Untuk sesaat Loveta terdiam. Dia merasa takut kembali. Namun, tawa Liam seketika menghentikan ketakutannya itu.


“Ayo, aku sudah bawakan makanan untukmu.” Liam segera mengalihkan pembicaraan. Dia tahu jika raut wajah Loveta tampak berubah.


Loveta langsung mengangguk. Bersama Liam dia keluar dari kamar. Menuju ke ruang makan.


Di ruang makan, Loveta membantu Liam menyajikan makanan di atas piring saji.


“Leo pindah ke luar kota. Apa Kak Liam sudah dengar?” Loveta menatap Liam saat memindahkan ayam saus asam manis ke atas piring saji.

__ADS_1


Liam yang juga sedang memindahkan nasi ke wadah, langsung mengalihkan pandangan pada Loveta. Dia justru baru tahu dari Loveta.


“Dia menemui aku kemarin. Sekalian berpamitan karena dia ingin memulai hidup baru.” Loveta menceritakan apa yang diceritakan Leo padanya kemarin.


Ada rasa sedih menyelimuti perasaannya. Liam sadar jika Leo mungkin sengaja tidak memberitahunya karena tidak mau berurusan lagi dengan dirinya.


“Apa dia bilang pindah ke mana?” tanya Liam ingin tahu.


“Dia tidak bilang. Hanya bilang jika dia akan pindah ke tempat di mana restoran tidak akan pernah buka di sana.”


Mendengar cerita itu, tentu saja membuat Liam memikirkan ke mana mereka tidak akan membuka restoran. Rasanya Liam penasaran di mana Leo tinggal.


Liam dan Loveta menikmati makanan bersama. Saling bercerita satu dengan yang lain.


“Apa persiapan pernikahanmu sudah dibatalkan?” Liam memasukkan makanan setelah bertanya.


“Belum. Aku berencana menghubungi WO dan pihak hotel nanti.” Loveta mengembuskan napasnya. Rasanya baru saja memimpikan pernikahan, tetapi semua sudah sirna. Sejak kemarin, Loveta belum mengurus semuanya karena merasa belum siap.


“Sayang sekali.” Liam tersenyum tipis.

__ADS_1


“Jika Kak Liam merasa sayang boleh saja dibarter.” Loveta menyeringai. Ide bisnisnya mulai keluar.


“Maksudnya?” tanya Liam memastikan.


“Pesta pernikahan itu sudah terjadwal, hotel sudah ada, WO sudah siap. Jadi Kak Liam tinggal pakai saja. Jadi Kak Liam tinggal ganti uangnya” Loveta menawarkan pesta pernikahannya. Lumayan bukan jika uangnya kembali.


“Kamu menawarkan pestamu, tapi kenapa tidak menawarkan pengantinnya juga?” Liam menyeringai.


Pipi Loveta langsung merona. Jelas dia tidak mungkin menawarkan dirinya, karena Liam sendiri sudah punya calon istri.


“Kak Liam sudah punya calon istri, kenapa butuh pengantinnya.”


“Benar juga.” Liam tersenyum. “Aku akan coba menanyakannya apakah sudah siap untuk menikah denganku apa belum. Jika sudah, maka aku akan memakai pesta pernikahanmu.” Liam tersenyum merasa ide Loveta bagus juga.


Loveta sendiri yang menawarkan, tetapi dia sendiri yang merasa sedih. Rasanya tidak rela jika Liam menikah dengan wanita lain. Namun, dia tidak berhak melarang.


“Apa kamu mau membantuku? Aku akan melamarnya  besok. Aku akan bertanya apakah dia mah menikah denganku atau tidak.” Liam seketika punya ide. Jadi langsung memberitahu Loveta.


Membantu Liam melamar tentu saja membuat Loveta merasa sedih. Namun, dia tidak mau merusak kebahagiaan Liam. Apalagi Liam sangat baik padanya.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan membantu Kak Liam.” Loveta mengangguk. Walaupun sedih, Loveta tetap akan membantu Liam.


__ADS_2