
Loveta sampai di kafe yang terdapat di dekat toko perhiasan. Dia harus segera kembali bekerja. Jadi tidak punya banyak waktu untuk bicara.
“Ada apa Kak Liam ingin bertemu denganku?” Loveta menatap Liam yang duduk di depannya.
“Apa benar kamu akan mengadakan acara pertunangan sebentar lagi?” Liam memastikan lebih dulu sebelum mengatakan apa pun.
“Iya, aku akan bertunangan dengan Leo minggu nanti.” Loveta membenarkan ucapan Liam.
“Apa kamu benar-benar akan bertunangan dengannya?” Leo kembali memastikan.
“Sejak kemarin Kak Liam bertanya apakah aku yakin atau tidak? Sebenarnya apa yang ingin Kak Liam katakan?” Loveta merasa bingung sekali.
“Aku-aku-aku—“
Baru saja Liam ingin mengatakannya, tiba-tiba suara ponsel Loveta berdering. Loveta terpaksa mengabaikannya. Saat melihat layar ponsel, ternyata sang mama yang menghubunginya.
“Iya, Ma.” Loveta menyapa sang mama di seberang sana.
“Ada pelanggan yang mencarimu.” Mama Arriel memberitahu.
“Baiklah, aku akan segera ke sana, Ma.” Loveta segera mematikan sambungan telepon. Kemudian beralih ke Liam. “Kak Liam mau bicara apa?” tanya Loveta. Tadi dia mendengar jika Liam ingin bicara. Jadi dia ingin mendengar.
Liam belum punya keberanian untuk mengatakan cinta pada Loveta.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memberitahu jika aku akan datang ke pertunanganmu.” Alih-alih mengatakan cinta, Liam justru mengatakan hal itu. Tentu saja itu menjadi penyesalannya nanti.
“Tentu saja, aku sangat berharap Kak Liam mau datang.” Loveta tersenyum. “Karena aku buru-buru, maaf aku tidak bisa berlama-lama dengan Kak Liam.” Loveta segera meraih tasnya.
__ADS_1
“Baiklah.” Liam mengangguk.
Loveta langsung pergi meninggalkan Liam.
Liam hanya bisa menyesali. Kenapa dia tidak berani mengatakannya. Padahal kesempatan tidak datang dua kali.
...****************...
“Kejutan.” Leo tersenyum ketika Loveta masuk ke ruangannya.
Loveta tidak menyangka jika pelanggan yang dimaksud sang mama adalah Leo.
“Kamu di sini?” Loveta mengayunkan langkahnya ke meja kerjanya.
“Iya, karena aku ingin memesan cincin pertunangan kita.” Leo begitu bersemangat sekali. Karena tinggal beberapa hari pertunangan mereka akan dilaksanakan.
“Mama bilang ada koleksi yang sudah dibuat khusus untuk kita. Kamu mau lihat?” tanya Loveta menatap Leo.
“Boleh.” Leo tentu senang jika sudah ada pilihan khusus untuknya. Tentu saja dia tidak perlu susah payah memilih.
Loveta mengajak Leo ke ruangan pameran khusus milik sang mama. Di sana Loveta meminta Leo memilih.
“Ada lima pilihan yang aku suka. Karena aku bingung, kamu bisa pilihkan.” Loveta menunjukkan koleksi dari perhiasan milik sang mama.
Leo dengan senang hati memilih perhiasan. Dia memerhatikan dengan cermat perhiasan itu.
“Tadi kamu keluar ke mana?” Sambil memilih cincin pernikahan, Leo bertanya pada sang kekasih.
__ADS_1
“Bertemu dengan mamamu.” Lovete mengatakan apa adanya.
Leo langsung mengalihkan pandangan ketika mengetahui jika Loveta bertemu dengan sang mama. Karena sang mama tidak menceritakan apa-apa sebelum ini.
“Ada apa kamu bertemu mama? Apa membahas tentang acara pertunangan?” tanya Leo.
“Tidak.” Loveta menggeleng.
“Lalu?” tanyanya ingin tahu.
“Mamamu meminta aku membujuk Kak Liam untuk memberikan restoran padamu.” Loveta mengatakan apa adanya.
Leo langsung membulatkan matanya. Dia benar-benar terkejut dengan ucapan Loveta. Ternyata mamanya melakukan itu di belakangnya. Tanpa izin lebih dulu padanya.
“Dengar Leo, jika sampai restoran itu jatuh ke tangan Kak Liam, aku harap kamu bisa berjuang dari awal. Aku akan menemanimu.” Loveta sadar kemungkinan itu bisa saja terjadi. Jadi dia akan mendukung Leo
“Itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak akan membuatmu susah dengan harus berjuang dari bawah bersamaku.” Leo tidak mau membuat orang yang dicintainya harus berjuang. “Aku akan mendapatkan restoran itu.” Leo tidak akan melepaskan restoran yang dibangun papanya itu.
Bicara dengan Leo yang keras kepala memang sulit. Loveta sudah mengenal Leo sejak lama. Jadi dia tahu persis bagaimana Leo.
“Aku pilih yang ini.” Leo menunjuk satu perhiasan. Fokus kembali pada tujuan awalnya.
Loveta segera mengambil cincin itu. Meminta Leo mencoba untuk mencari ukuran yang pas. Setelah mencoba beberapa ukuran, akhirnya Loveta dapat juga ukuran untuk Leo.
“Aku harus segera kembali. Nanti akan menghubungimu.” Saat urusannya sudah selesai, Leo memilih untuk berpamitan. Leo harus bertemu dengan sang mama. Ada banyak hal yang harus disampaikan.
“Baiklah.” Loveta mengangguk saja. Dia menebak jika Leo pasti ingin bertemu mamanya. Apalagi baru saja dia mengadu.
__ADS_1