
Liam mulai mengambil alih restoran. Mempelajari bisnis barunya itu. Banyak hal yang harus dipelajari. Dibantu asistennya, Liam mulai mempelajari bisnis ini.
Restoran pusat menjadi kantor baru untuk Liam. Jadi kini setiap pagi dia ke restoran untuk bekerja. Seperti halnya pagi ini, dia sudah mulai bekerja sejak pagi.
Siang hari dia rapat dengan manajer restoran masing-masing cabang. Mendengarkan presentasi mereka tentang cabang-cabang yang mereka pegang. Liam cukup terkesan karena papanya punya karyawan-karyawan hebat. Jadi tidak perlu ada yang diganti. Hanya perlu diperbaiki sistemnya.
Suara ponsel Liam yang berdering membuat Liam yang sedang akan pulang, menghentikan langkahnya. Mengambil ponsel di dalam saku celananya.
Nama Loveta tercantum di layar ponselnya. Setelah sekian lama gadis itu menghubunginya juga. Sejak melihat Loveta di pemakaman kala itu, dia belum melihat Loveta lagi.
“Halo, Cinta.” Liam menyapa Loveta di sambungan telepon.
“Halo, Kak. Apa Kak Liam sibuk?” tanya Loveta memastikan.
“Tidak, aku sedang akan pulang.” Liam menjelaskan apa yang dilakukannya.
“Bisakah kita bertemu?” tanya Loveta.
“Tentu saja bisa. Mau bertemu di mana?” tanya Liam.
__ADS_1
“Di apartemen saja, kebetulan aku baru bertemu klien di dekat sini.”
“Baiklah, kita bertemu di apartemen.”
Sambungan telepon pun berakhir. Liam segera memasukkan ponselnya. Segera dia melanjutkan langkahnya untuk segera pulang ke apartemen. Namun, langkah Liam terhenti ketika baru saja keluar dari kantor. Dia berpikir akan makan malam sekalian dengan Loveta di apartemen. Jadi dia memilih untuk memesan makanan pada chef restoran dan membawanya pulang.
...****************...
Loveta datang lebih dulu. Sayangnya, Liam belum datang. Saat menghubungi Liam, justru Liam meminta Loveta masuk. Kode apartemen masih sama dan tidak diganti. Masih menggunakan tanggal lahir Loveta.
Saat masuk, Loveta memilih di ruang tamu. Menunggu Liam yang belum sampai di rumah.
Rasa penasaran Loveta mengantarkannya melihat ke setiap sisi apartemen. Mengecek apakah semua juga sama rapinya.
Dapur, balkon, tempat cuci begitu rapi sekali. Hal itu membuat Loveta kagum. Namun, tak hanya cukup melihat bagian luar, Loveta begitu ingin melihat keadaan kamar Liam. Karena Liam tidak ada di rumah, jadi Loveta diam-diam masuk ke kamar Liam.
Saat masuk ke kamar, aroma parfum Liam tercium menguar. Padahal pemilik kamar tidak ada, tetapi aromanya masih tertinggal.
Loveta masuk lebih dalam kamar lebih dalam. Kamar tampak begitu rapi sekali. Saat masuk, Loveta melihat foto di atas meja.
__ADS_1
Rasa penasaran mengantarkan Loveta melihat lebih dekat. Alangkah terkejutnya ketika melihat ternyata itu adalah foto masa kecil Liam dan Loveta.
“Dia masih menyimpan foto ini.” Dia melihat jelas jika foto itu diambil sewaktu Loveta umur lima tahun. Sekarang umur Loveta sudah dua puluh lima tahun.
“Emm ....”
Saat sedang asyik melihat foto dirinya, suara deheman terdengar. Loveta segera mengalihkan pandangan ke sumber suara. Dilihatnya ada Liam di sana.
“Kak.” Loveta langsung meletakkan foto di atas nakas kembali.
Liam mengayunkan langkahnya masuk ke kamarnya. Menghampiri Loveta.
“Tadi aku melihat-lihat apartemen yang rapi. Lalu aku melihat ke kamar dan aku menemukan foto kita.” Dengan sedikit gugup Loveta menjelaskan.
“Apa kamu tahu jika sangat bahaya sekali masuk ke kamar seorang pria?” tanya Liam menatap lekat Loveta.
“Hah ....” Seketika Loveta ketakutan. Dia tidak pernah berpikir sejauh itu.
__ADS_1