
“Ma ....” Leo memanggil sang mama. Suaranya yang berteriak membuat seisi rumah keluar. Termasuk asisten rumah tangga.
Bella yang ada di kamarnya pun ikut keluar dari kamar ketika mendengar suara anaknya.
“Kamu kenapa teriak-teriak?” tanya Bella.
“Kenapa Mama meminta Lolo membujuk Liam untuk memberikan restoran?” Leo tidak terima ketika sang mama dengan seenaknya mengatakan hal itu.
“Lolo cerita kamu.” Bella merasa kesal karena calon menantunya itu mengadu pada Leo.
“Kenapa Mama melakukan itu?” tanya Leo.
“Kamu tahu bukan jika kita sulit mendapatkan restoran karena bukti yang dimiliki anak itu kuat. Karena itu Mama berusaha untuk mendapatkannya. Lagi pula ini demi kebaikanmu. Kelak kamu dan Lolo yang akan menikmati restoran itu.” Bella mencoba menjelaskan pada anaknya.
“Jadi karena Mama takut kehilangan restoran sampai harus menyuruh Lolo memohon?” Leo benar-benar geram sekali.
“Apa salahnya jika Mama meminta? Lagi pula harusnya jika dia mengerti keadaanmu. Harusnya ikut membantu kamu. Sayangnya, dia tidak terlalu cinta denganmu. Sampai berpikir jika tidak masalah jika kehilangan restoran.” Bella masih kesal dengan Loveta yang tidak sama sekali mau membantunya. “Sebaiknya kamu berikan saja Lolo pada anak itu, dan dapatkan restoran dengan mudah. Mama akan carikan kamu wanita lain.” Bella menambahkan.
__ADS_1
Leo membulatkan matanya. Tidak menyangka jika mamanya mengatakan hal seperti itu. “Apa-apaan Mama ini? Kenapa justru meminta aku mengakhiri hubungan hanya demi restoran? Aku mencintai Loveta. Jadi tentu saja aku tidak akan melepaskannya.” Leo benar-benar tidak terima dengan hal itu.
“Jangan buta karena cinta, Leo. Kamu harus berpikir realistis.” Bella masih mencecar sang anak.
“Realistis dengan berpikir menikahi atasan mama dan merebutnya dari istrinya? Apa itu yang Mama bilang realistis?” tanya Leo menyindir sang mama.
Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Leo ketika anaknya dengan tidak sopannya mengungkit masa lalunya.
Leo tidak menyesal sama sekali. Karena memang itu adalah kenyataan. Sang mama benar-benar merebut papanya.
Leo menatap tajam pada sang mama. Tak mau berdebat lebih lama, akhirnya Leo memilih ke kamarnya.
...****************...
“Apa kamu yakin menerima Leo sebagai menantu?” Mami Neta bertanya seraya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
“Kita kenal Leo jauh sebelum ada kejadian ini. Lagi pula yang berkonflik adalah orang tuanya. Bukan anaknya. Aku rasa tidak masalah jika menerima Leo.” Papi Dathan memberikan pendapatnya.
“Jika Leo kehilangan restoran bagaimana? Apa kamu tidak kasihan pada Cinta.” Mami Neta memastikan lagi pada suaminya.
“Jika Leo tidak memiliki restoran, dia bisa memulai bisnis. Aku yang akan mengajarinya nanti.”
Mami Neta tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia merasa sang suami punya pilihan sendiri kenapa tetap ingin melaksanakan pertunangan anaknya.
“Cinta sangat mencintai Leo. Apalagi mereka sudah berpacaran sejak lama. Jadi aku rasa kita harus mendukung.” Papi Dathan memberikan pendapatnya.
“Tapi, justru aku merasa perasaan Cinta pada Leo tidak seperti itu.” Mami Neta merasa ada yang aneh dengan anaknya.
“Kenapa berpikir seperti itu?” tanya Papi Dathan.
“Saat acara kemarin, Cinta melamun. Seolah ada yang mengganjal di hatinya. Bisa jadi perasaan cintanya berkurang.” Mami Neta mengatakan pada sang suami.
Papi Dathan memikirkan apa yang sedang terjadi pada anaknya. “Cinta sudah memutuskan menerima Leo. Aku rasa dia pasti sudah memikirkan yang terbaik.” Papi Dathan mencoba meyakinkan sang istri.
__ADS_1
Mami Neta mengangguk. Berharap keputusan anaknya tidak salah.