Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 64


__ADS_3

“Bagaimana keadaan papa Leo?” Papi Dathan menatap sang anak.


“Masih di ruang ICU, Pi.” Loveta menjelaskan. Baru saja dia menghubungi Leo dan mendapati jika orang tua Leo masih di ruang ICU.


“Pasti ini pukulan berat untuk keluarga Leo.” Papi Dathan merasa kasihan juga.


“Iya, mereka cukup sedih ketika mendapati fakta jika restoran sekarang miliki Kak Liam.” Loveta ikut sedih ketika mengingat bagaimana terpukulnya mama Leo dan Leo sendiri.


“Kadang kita memang harus siap ketika memang apa yang dimiliki bukan hak kita.” Papi Dathan merasa memang Liam lebih berhak. Terlepas dari Josep yang sudah membuat restoran semakin besar.


Loveta mengangguk. Ada pelajaran yang diambil. Jika memang kita tidak boleh mengambil hak orang lain.


“Lalu bagaimana hubunganmu dengan Leo? Apa kamu sudah siap menerima Leo dengan segala kekurangan yang terjadi di masa depan?” tanya Papi Dathan. Sebagai orang tua, dia sedikit khawatir. Karena takutnya anaknya akan kesulitan kelak.


“Jika Leo mau berjuang, tentu aku tidak masalah. Aku akan mendukungnya.” Loveta merasa jika semua kembali pada Leo.


“Papi akan dukung apa pun keputusanmu.” Papi Dathan sadar sebagai orang tua dia hanya bisa menasihati. Tidak bisa memaksakan kehendaknya.

__ADS_1


“Iya, Pi.” Loveta berharap jika keputusannya tidak salah. Berharap Leo mau berusaha setelah kehilangan restoran.


 


...****************...


Leo berada di ruang tunggu bersama dengan pengacara. Saat pengacara datang Loveta pun juga datang. Loveta sengaja datang pagi-pagi untuk mengantarkan makanan untuk Leo dan mamanya. Namun, tidak menyangka jika Leo sangat sibuk pagi-pagi sekali. Karena itu dia memilih menunggu Leo menyelesaikan lebih dulu apa yang dilakukan Leo.  


“Berapa peluang kemenangan jika kita mengajukan banding?” Leo menatap pengacara.


“Maaf, Pak. Melihat bukti yang dimiliki lawan, tampaknya akan sulit untuk mengajukan banding.” Pengacara tidak mau memberikan harapan pada kliennya.


“Saya minta dicarikan solusi. Mungkin ada cara lain agar restoran tetap menjadi milik kami.” Leo hanya bisa meminta tolong pada pengacara.


“Baik, Pak. Kami akan coba lagi. Jika kami mendapatkan solusi terbaik, kami akan kabari.” Pengacara segera berdiri. Menjabat tangan Leo.


Leo segera berdiri dan menjabat tangan pengacara. Saat pengacara pergi, Leo segera beralih pada Loveta yang duduk tak jauh dari tempatnya.

__ADS_1


“Maaf membuatmu menunggu.” Leo duduk tepat di samping Loveta.


“Tidak apa-apa.” Loveta mengangguk. “Aku membawakan makanan untukmu.” Dia memberikan tempat makan pada Leo.


“Terima kasih.” Leo senang karena Loveta begitu perhatian padanya.


“Apa kamu masih berusaha untuk mendapatkan restoran?” Loveta menatap Leo. Dia tadi mendengar obrolan Leo dengan pengacara.


“Iya, aku sedang berusaha keras untuk mendapatkannya lagi.” Leo membenarkan ucapan loveta.


“Tapi, pengacaramu bilang peluangnya kecil. Kenapa tetap memaksakan? Bukankah lebih baik kamu fokus memikirkan bisnis lain saja dari pada memaksakan merebut kembali restoran.” Loveta memberikan pendapatnya. Dia merasa Leo membuang waktu dengan memikirkan restoran yang sudah jelas sulit untuk dimiliki.


Leo menatap tajam pada Loveta. Tidak suka dengan pendapat Loveta. “Apa kamu tahu seberapa berharganya restoran itu untuk papaku. Jadi aku harus mendapatkannya kembali.”


Loveta meliat kemarahan yang terpancar dari sorot mata Leo. “Tapi, kamu akan melakukan hal yang sia-sia. Lebih baik kamu fokus berusaha dari awal. Aku akan menemanimu.” Loveta mencoba meyakinkan Leo.


“Aku tidak akan menyerah mendapatkan restoran. Kenapa aku harus berusaha dari bawah lagi, jika aku bisa memulainya dari atas. Restoran itu tinggal dikembangkan. Jika pria brengsek itu mendapatkan restoran, itu terlalu menyenangkan untuknya.”

__ADS_1


Loveta tidak habis pikir dengan pikiran Leo. Jika Leo seperti itu bagaimana dia mengantungkan hidupnya pada Leo. Harusnya Leo berusaha mendapatkan usaha barua atau pekerjaan baru dari pada mengurus restoran yang jelas sudah menjadi milik Liam. Loveta jadi ragu menyerahkan hidupnya pada pria yang tidak mau berusaha sama sekali.


 


__ADS_2