
Di waktu yang bersamaan, Leo hanya menyesali karena tidak bisa mengejar Loveta. Apalagi dia tidak memakai pakaian sama sekali. Jelas itu membuatnya tidak bisa keluar dari apartemen.
Leo buru-buru mengambil pakaiannya dan membersihkan tubuhnya. Dia memilih mandi di kamar mandi di luar karena baju-bajunya tadi berserakan di ruang tamu.
“Tidur dengan siapa aku tadi?” Di bawah kucuran air, Leo memikirkan siapa yang tidur dengannya tadi malam.
Sejenak Leo mengingat jika semalam ada seorang gadis yang menghampirinya.
Semalam ....
“Wah ... restoran ini menjual wiski?” tanya seorang gadis pada Leo.
“Kamu mau?” tanya Leo seraya menatap gadis itu. Karena sudah sedikit mabuk, tentu saja Leo asal menawari.
“Tentu saja.” Gadis itu langsung mengangguk. Menarik kursi dan duduk bersama Leo.
Mereka berdua minum. Tampak keduanya sedang sama-sama meluapkan kekesalan yang dirasakannya.
“Apa kamu tahu, aku benci sekali dengan papaku? Dia adalah pria paling menyebalkan.” Gadis itu mengeluhkan keluarganya.
“Orang tua memang menyebalkan.” Leo menambahkan.
Mereka berdua sama-sama sedang bermasalah dengan keluarga. Hingga sama-sama melampiaskan pada minuman.
__ADS_1
Pramusaji yang melihat dua orang yang sudah mabuk langsung mendekat.
“Pak Leo, sebaiknya saya akan antarkan Anda pulang.” Pramusaji melihat Leo yang mulai mabuk.
“Baiklah.” Leo merasa kepalanya sudah sakit. Jadi dia harus pulang.
“Hai, kau! Mau ke mana? Aku ikut.” Gadis itu menarik tangan Leo.
“Aku mau pulang.” Di saat mabuk, Leo masih bisa menjawab.
“Aku ikut.” Gadis itu pun ikut juga dengan Leo.
Leo membiarkan gadis itu ikut dengannya.
Pramusaji hanya menurunkan mereka di lobi apartemen. Selebihnya, Leo dan gadis itu pergi ke unit apartemen sendiri.
...****************...
Leo buru-buru keluar dari kamar mandi. Dia ingin melihat gadis yang semalam tidur dengannya itu.
Saat sampai di di depan kamar, Leo melihat wajah gadis itu tertutup dengan selimut. Leo hendak membuka selimut tersebut, tetapi suara ponselnya tiba-tiba berdering. Dengan segera dia keluar kembali untuk mengambil ponsel yang tergeletak di lantai ruang tamu.
__ADS_1
Ponsel yang tergeletak itu tampak menampilkan siapa yang menghubungi Leo. Sambungan telepon itu berasal dari mamanya. Leo tahu jika mamanya sudah mencarinya sejak tadi. Sampai-sampai menyuruh Loveta untuk mencari. Jadi Leo segera mengangkat sambungan telepon tersebut. Ingin tahu apa yang ingin dikatakan sang mama.
“Leo, papamu kritis. Cepatlah ke mari.” Di seberang sana Bella memberitahu Leo.
Leo membulatkan matanya. Padahal kemarin papanya sudah jauh lebih baik, tetapi kenapa sekarang kritis lagi.
Tak pikir panjang, Leo memilih untuk segera pergi. Dia mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan gadis yang semalam tidur dengannya.
Leo memilih mencari taksi. Dia tidak tahu juga di mana keberadaan mobilnya. Mungkin masih berada di restoran. Dia yakin jika mobilnya pasti akan aman di restoran.
Setengah jam Leo melalukan perjalanan ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit , dia segera menemui mamanya. Saat masuk ke ruangan papanya, dia melihat sang mama yang menangis kencang sambil memeluk papanya.
Tubuh Leo lemas ketika melihat mamanya menangis sambil memeluk sang papa.
“Ma.” Leo memanggil sang mama.
“Leo, papamu. Bangunkan papamu.” Bella menangis histeris sambil menggoyangkan tubuh sang suami.
“Papa.” Leo seketika menangis seraya menghampiri sang papa. Dia menangis kencang karena tak kuasa melihat papanya terbujur kaku.
Hati Leo hancur melihat orang yang disayanginya meninggalkannya. Belum habis kesedihan kehilangan restoran, dia kembali mendapat pukulan keras, papanya meninggal.
“Papa, jangan tinggalkan aku.” Leo hanya bisa menangis sambil memeluk papanya. Dia tak sanggup jika tidak ada papanya.
__ADS_1