
“Tidak, aku tidak punya kekasih.” Liam dengan percaya diri menjawab.
“Aku tidak percaya jika Kak Liam tidak punya kekasih. Kak Liam tampan, bagaimana bisa tidak punya kekasih?” Loveta tidak percaya dengan yang dikatakan Liam.
Liam tersenyum. “Kamu benar, aku tidak punya calon kekasih, tapi aku punya calon istri.”
Loveta membulatkan matanya. “Kak Liam punya calon istri?” tanya Loveta memastikan.
“Iya.” Liam menangguk.
“Siapa calon Kak Liam? Apa dia tinggal di luar negeri?” tanya Loveta memastikan.
“Em ... aku akan beritahu jika waktunya tepat.”
Loveta harus kecewa karena Liam tidak mau mengatakannya. Padahal dia begitu penasaran dengan wanita yang beruntung mendapatkan Liam.
Kamu akan tahu nanti, Cinta. Siapa calon istriku.
Liam hanya tersenyum saja. Kali ini biarkan hanya dirinya saja yang tahu siapa calon istrinya. Karena calon istrinya sedang diperjuangkan.
Setelah makan malam, Liam mengantarkan Loveta pulang. Mereka berencana untuk bertemu lagi saat makan siang. Liam akan menjemput Loveta besok di toko perhiasan.
__ADS_1
Loveta melambaikan tangan ketika mobil Liam meninggalkan rumahnya. Saat mobil hilang dari pandangannya, segera dia masuk ke rumah.
“Kak Cinta pulang dengan Kak Liam?” Nessia langsung menyambut Loveta dan melemparkan pertanyaan.
“Iya.” Loveta menjawab seraya mengayunkan langkahnya. Dia sudah sangat lelah sekali. Ingin sekali mandi dan segera beristirahat.
“Kenapa Kak Liam tidak masuk? Padahal aku mau bertemu dengannya.” Nessia begitu senang ketika memandangi Liam. Pria dewasa yang begitu memesona.
“Kamu mau apa? Mau tebar pesona?” sindir Loveta. Dia terus mengayunkan langkahnya ke kamarnya. Diikuti dengan adiknya yang berjalan di sebelahnya.
“Kak Cinta tahu saja.” Nessia menyeringai.
“Kak Liam sudah punya calon istri. Jangan macam-macam.” Loveta sampai di kamarnya. Dengan segera membuka pintu kamarnya.
Tubuh Loveta sudah sangat lelah, tetapi adiknya terus mengganggu.
“Iya, dia baru saja bilang tadi.” Loveta menyingkirkan tangan adiknya.
“Orang mana calon istrinya? Orang Italia juga? Atau dia bertemu dengan wanita di sini?” tanya Nessi.
Loveta benar-benar kesal sekali karena adiknya mengusiknya terus menerus.
__ADS_1
“Aku tidak tahu, dia tidak mau bilang.” Loveta kembali menyingkirkan tangan adiknya.
“Kenapa Kak Cinta tidak desak terus untuk tahu asal calon istrinya?” Nessia kembali menghentikan sang kakak.
Loveta benar-benar kesal sekali. Bisa-bisanya adiknya sedari tadi mengganggu.
“Aku bukan polisi yang sedang melakukan penyelidikan, kenapa juga aku harus mendesaknya untuk mengatakan siapa calon istrinya. Jika dia tidak mau memberitahu, itu haknya.” Loveta meluapkan kekekalannya pada Nessi. Suaranya meninggi karena merasa kesal sekali.
Nyali Nessia langsung ciut. Merasa takut dengan Loveta yang meninggikan suaranya.
“Sudah sana pergi ke kamarmu. Aku lelah. Kamu juga masih harus kuliah yang benar. Jadi jangan memikirkan pria yang sudah memiliki kekasih.” Loveta menasihati adiknya. Kemudian membuka pintu kamar.
Nessia menekuk bibirnya. Kemudian berlalu pergi begitu saja.
Ketika sang adik pergi, Loveta segera masuk ke kamar. Tubuhnya begitu lelah sekali. Hal pertama yang dilakukan adalah membersihkan tubuhnya lebih dulu sebelum tidur.
Lima belas menit Loveta mandi. Kini tubuhnya sudah bersih dan bersiap untuk tidur. Sebelum tidur dia melihat ponselnya lebih dulu.
“Tidak ada pesan.” Loveta meletakkan kembali ponselnya.
Leo memang tidak pernah mengirim pesan atau pun mengabari. Leo tidak suka jika saat bekerja diganggu. Karena itu Loveta tidak pernah menghubungi Leo ketika di luar kota.
__ADS_1
Terkadang Loveta merasa terluka ketika Leo tidak mau memberikan kabar. Namun, sikap dingin Leo sudah sejak lama seperti itu. Loveta memaklumi itu. Tanpa protes sama sekali.