
Sebulan setelah dinyatakan hamil, Loveta lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Semua pekerjaan ditangani oleh Mama Arriel sendiri. Kini setelah keadaan sudah membaik, Loveta mulai bekerja kembali. Dia sudah disibukkan dengan produk baru yang cukup banyak peminatnya. Karena sepatu memang dibuat sesuai jadwal. Jadi Loveta sudah dapat mengatur waktunya dengan baik. Sudah ada team yang mengerjakan sepatu pesanan. Loveta tinggal mengawasi saja.
Kandungan Loveta sudah mencapai dua bulan. Dia masih terus mual setiap hari. Namun, Loveta menikmati proses itu. Liam yang awalnya kasihan dengan sang istri pun kini sudah bisa terbiasa. Hanya berusaha ada saat istrinya sedang mual dan muntah saja.
“Apa mualnya berkurang?” Liam sengaja membelikan permen. Berharap itu dapat mengurangi mual yang dirasakan oleh istrinya.
“Lumayan. Mualnya berkurang.” Loveta tersenyum. Dia senang karena rasa manis dan asam dari lemon terasa enak di lidahnya.
Liam senang mendengarnya. Tidak sia-sia dia membelikan permen rasa lemon tersebut. Paling tidak itu dapat mengurangi rasa mual.
“Baiklah, kalau begitu makanlah nanti saat bekerja. Semoga bisa mengurangi.” Liam hanya berharap yang terbaik untuk sang istri, karena dia tidak bisa menggantikannya.
Loveta segera turun dari mobil. Sebelum turun, dia mendaratkan kecupan di pipi sang suami. Memberikan kecupan manis di sana.
Mobil Liam melaju meninggalkan rumah. Saat mobil hilang dari pandangan, barulah Loveta masuk ke dalam toko. Hari ini, ada banyak pekerjaan yang harus dilakukannya.
...****************...
__ADS_1
Loveta mencium aroma manis ketika menikmati tidurnya. Aroma itu membuatnya membuka mata. Saat membuka mata, sisi ranjang kosong. Tidak tampak suaminya di sebelah. Hal itu membuat Loveta bangun dan segera mencari suaminya.
Saat keluar dari kamar, aroma manis semakin menyeruak tercium. Loveta segera mencari sumber aroma itu. Ternyata sang suami sedang berada di dapur. Dengan menggunakan apron di dadanya, suaminya sudah seperti chef ternama.
“Kamu masak apa?” Loveta penasaran sekali dengan apa yang dimasak sang suami. Kenapa aroma manisnya menggoda sekali.
“Kamu sudah bangun?” Liam yang mendengar suara sang istri segera menoleh ke belakang.
Loveta mengangguk seraya mengayunkan langkahnya menghampiri. “Apa yang kamu masak?” Dia mengintip apa yang dimasak sang suami.
“Croffle.” Liam menunjukan apa yang dimasaknya.
“Em … pakai sirup maple pasti enak sekali.” Dia membayangkan pasti enak sekali.
Lovete mengangguk. Kemudian menuju ke ruang makan. Duduk di kursi menunggu sang suami.
Liam segera menyajikan croffle dengan siraman sirup maple. Memberikan pada sang istri yang sudah tidak sabar. Tidak butuh waktu lama Loveta segera memakannya.
“Em … enak sekali.” Loveta merasa croffle meleleh di mulutnya. Rasanya enak sekali. Tak butuh waktu lama dia menghabiskan satu croffle. Tadi pagi dia sudah muntah. Alhasil perutnya kosong saat ini. Jadi saat makanan bisa masuk ke mulutnya, dia makan cukup banyak.
Liam senang melihat sang istri yang makan dengan lahapnya. Jarang-jarang sang istri bisa makan dengan baik saat pagi hari. Biasanya, sang istri selalu mual.
__ADS_1
“Apa yang akan kita lakukan di rumah?” Loveta menatap sang suami.
Hari ini Loveta dan Liam libur bekerja. Jadi mereka akan menikmati waktu berdua. Waktu libur memang waktu pas untuk dimanfaatkan untuk quality time.
“Aku mau menghabiskan waktu denganmu.” Liam membelai tangan sang istri.
Loveta was-was. Dia curiga dengan apa yang dilakukan sang suami. Kemarin, mereka baru saja memeriksakan kandungan ke dokter. Dokter sudah mengizinkan mereka untuk melakukan hubungan intim karena sudah memasuki trimester kedua. Artinya, keadaan bayi sudah boleh untuk ditengok.
Liam mendekat ke arah sang istri. Tempat yang dituju adalah mulut sang istri. Namun, Loveta langsung memasukkan croffle ke dalam mulutnya. Menghalangi sang suami. Liam yang melihat aksi sang istri justru mengabaikannya. Dia tetap mendaratkan bibirnya. Tak peduli dengan apa yang dilakukan oleh sang istri.
Loveta memukul sang suami, dia tidak bisa mengunyah makanan dengan sambil berciuman. “Kamu.” Dia kesal karena sang suami iseng sekali.
Liam hanya tertawa. “Kamu yang iseng. Sudah tahu aku mau menciummu, tapi justru memakan croffle.” Liam tak mau kalah.
“Kamu tidak ada aba-aba. Harusnya kamu bilang apa yang akan kamu lakukan.” Loveta sama juga tak mau kalah.
“Baiklah, sekarang aku akan bilang apa yang akan aku lakukan.” Liam tak mau berlama-lama berdebat.
“Memang apa yang ingin kamu lakukan?” Loveta menghadap ke arah sang suami.
“Aku ingin menengok anak kita.” Liam langsung mengangkat tubuh sang istri. Menggendongnya bak koala. Membawanya ke kamar.
__ADS_1
Loveta tersenyum. Dia mendaratkan bibirnya di bibir sang suami. Mencium sambil sang suami membawanya ke dalam kamar. Mereka sama-sama rindu dengan kegiatan candu itu. Apalagi sejak dinyatakan hamil, mereka tidak berani melakukannya. Takut terjadi apa-apa pada anak di kandungan Loveta. Kali ini mereka akan melepaskan rindu. Merengkuh kenikmatan yang telah lama mereka tidak dapati.