Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 50


__ADS_3

Loveta menemani sang mami berbelanja. Karena hari ini mereka harus menyiapkan makanan untuk nanti malam.


Sebenarnya Mami Neta sudah memesan makanan. Jadi dia pergi berbelanja hanya untuk melengkapi saja.


“Ta, setelah ini kita ke toko kue sekalian. Mami mau beli kue.” Mami Neta yang memilih-milih buah memberitahu rencananya.


Loveta diam saja. Tidak menjawab ucapan sang mami. Dia memikirkan harus bagaimana bertemu dengan Liam di padatnya rencana lamaran.


Mami Neta yang melihat sang anak diam saja langsung menepuknya.


“Ta, kamu dengar yang Mami bilang?” tanya Mami Neta.


“Hah ....” Loveta kaget ketika sang mami menepuk.


“Kamu memikirkan apa? Kenapa melamun?” Mami Neta merasa jika ada yang dipikirkan anaknya.


“Mi, Kak Liam  ternyata adalah kakak tiri Leo.” Loveta akhirnya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


Mami Neta terkejut ketika anaknya akhirnya tahu. Namun, dia memilih untuk bersikap tenang ketika mengetahui hal itu. Tak mau kelihatan jika dia sudah tahu perihal Liam merupakan kakak Leo. Dia memilih pura-pura tidak tahu.


“Lalu?” tanya Mami Neta. Sebenarnya Mami Neta lebih penasaran dengan apa tanggapan sang anak.


“Leo bilang Kak Liam mau merebut restoran, Mi, tapi, aku masih belum percaya. Aku belum dengar cerita dari Kak Liam sendiri. Jadi aku belum bisa membenarkan apa yang dikatakan Leo. Lagi pula, aku masih tidak yakin jika Kak Liam akan merebut restoran atau mungkin ada alasan khusus dia ingin merebut restoran.” Loveta menatap sang mami. Masih ada keraguan di dalam hatinya. Dia masih yakin Liam adalah pria baik. Jadi tidak mungkin berbuat jahat.


“Bagus kamu mau mendengarkan kedua belah pihak. Memang harus begitu. Kamu harus dengarkan dulu dari pihak Liam juga.” Mami Neta ikut senang, karena anaknya bersikap dewasa. Tidak marah dan gegabah menyalahkan Liam. Ternyata ketakutan salah. Anak sambungnya itu sudah dewasa dan dapat memilah-milah.


“Tapi, aku belum bisa mendengarkan penjelasan Kak Liam, Mi. Sejak kemarin aku belum sempat berbicara dengan Kak Liam. Karena Leo terus menghalangi aku bertemu dengan Kak Liam.” Loveta merasa sedih karena begitu sulit bertemu dengan Liam. Padahal dia ingin mendengar penjelasan Liam.

__ADS_1


Mami Neta mengerti kegundahan yang dirasakan anaknya. Dia mengerti sekali jika anaknya penasaran tentang kenyataan yang sebenarnya.


“Temuilah dia sekarang.” Mami Neta menepuk bahu sang anak. Menatapnya dengan tatapan teduh.


“Tapi, kita sedang berbelanja.” Loveta merasa tidak enak jika harus meninggalkan sang mami berbelanja sendiri dan pergi menemui Liam.


“Mami tidak belanja banyak. Jadi tidak masalah. Kamu bisa pergi.” Mami Neta meyakinkan Loveta.


Loveta bersyukur sekali sang mami mengerti. Jadi paling tidak dia akan bisa mendengar penjelasan dari Liam.


“Terima kasih, Mi.” Loveta langsung memeluk sang mami. “Aku akan segera menemui, Kak Liam,” ucapnya seraya melepaskan pelukannya itu.


“Pergilah.” Mami Neta mengangguk.


Loveta segera pergi. Namun, sebelum pergi dia mendaratkan kecupan di pipi sang mami. Walaupun sang mami adalah mami sambung, dia lebih tahu dirinya. Jadi Loveta begitu menyayangi Mami Neta.


Loveta segera ke tempat parkir. Sambil berjalan, dia mencoba menghubungi Liam.


“Aku di apartemen.”


“Aku akan ke sana.”


Loveta segera mematikan sambungan telepon. Kemudian masuk ke mobilnya. Dengan segera dia melajukan mobilnya ke apartemen. Ini adalah kesempatannya untuk mendengarkan cerita Liam.


Jarak supermarket dengan apartemen cukup dekat. Jadi tentu saja membuat Loveta akan cepat untuk sampai. Kesempatan berharga seperti ini tak akan pernah disia-siakan.


 

__ADS_1


...****************...


Liam mematikan  sambungan telepon. Bersyukur Loveta akan datang ke apartemennya. Paling tidak, dia bisa mengungkapkan kenyataan yang terjadi. Agar Loveta tidak salah paham padanya.


Hari ini dia bekerja di apartemen.  Ada beberapa file yang harus dicek olehnya. Jadi sebelum Loveta datang. Dia ingin menyelesaikan semuanya.  


Setengah jam berlalu akhirnya suara bel terdengar. Liam segera menutup laptopnya dan membuka pintu.


Saat pintu terbuka, tampak Loveta di sana. Liam melihat ke sekitar dulu. Memastikan tidak ada Leo.


“Dia tidak akan datang.” Leo pastinya sedang sibuk menyiapkan acara lamaran. Jadi tentu saja itu membuatnya tidak akan datang tiba-tiba.


“Ayo masuk,” ajak Liam melebarkan pintu.


Loveta segera masuk dan duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Menunggu Liam yang sedang menutup pintu.


Liam segera menghampiri Loveta yang sudah menunggunya.


“Sekarang jelaskan semua, Kak. Aku ingin dengar dari Kak Liam cerita sebenarnya. Agar aku tidak mengambil kesimpulan sepihak,” pinta Loveta.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2