Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 112


__ADS_3

Setelah semalam membeli alat tes kehamilan, pagi ini Loveta mencobanya. Walaupun tidak terlalu yakin, dia mau tetap mencoba.


Tangan Liam yang memeluknya membuat Loveta sulit untuk bangun. Jadi dia harus menyingkirkan tangan Liam dengan perlahan lebih dulu.


Baru saja mengangkat tangan Liam, tiba-tiba suaminya itu  merasakan gerakkan tubuh Loveta. Membuatnya membuka mata.


“Sayang, kamu mau bangun?” tanya Liam dengan suara serak khas bangun tidur.


“Iya, aku mau bangun.” Loveta membenarkan ucapan Liam.


“Apa kamu mau coba alat tes kehamilan?” tanya Liam memastikan. Liam ingat jika pagi ini sang istri akan mencoba alat tes kehamilan.


“Iya.” Loveta mengangguk.


Mendapati jawaban itu, Liam langsung menyingkirkan tangannya. Memberikan ruang pada Loveta untuk melakukannya.


Loveta segera menyingkirkan selimut dan berangsur bangun. Liam juga ikut bangun menyusul sang istri. Terduduk di tempat tidur sejenak.


Melihat sang suami yang ikut bangun justru membuat Loveta sedikit ketakutan. Takut jika hasilnya tak sesuai dan akan membuat sang suami kecewa.


“Kenapa diam?” Liam melihat sang istri yang tak beranjak dari tempat tidur. Hanya duduk termenung saja.


“Jika hasilnya tidak sesuai, kamu tidak apa-apa?” tanya Loveta memastikan kembali.


Liam akhirnya tahu apa yang dipikirkan sang istri.


“Aku tidak apa-apa.” Liam kembali meyakinkan sang istri.


Loveta berusaha untuk tetap tenang. Dia sadar suaminya adalah orang yang sangat pengertian. Jadi wajah sikapnya tenang sekali.


Dengan segera Loveta mengambil alat tes kehamilan yang diletakkan di laci. Kemudian membawanya ke kamar mandi.


Liam mengikuti sang istri. Tepat di depan kamar mandi, dia menunggu sang istri. Walaupun terlihat tenang, Liam sebenarnya juga berdebar-debar. Ingin tahu apakah istrinya hamil atau tidak.


Di dalam kamar mandi, Loveta mencoba sesuai dengan petunjuk penggunaan. Tak satu pun terlewatkan oleh Loveta.

__ADS_1


Untuk sesaat Loveta harus menunggu hasilnya. Tentu saja itu membuatnya begitu berdebar-debar. Karena dia takut dengan hasil yang akan mengecewakan.


Akhirnya garis yang terdapat di alat tes kehamilan terlihat juga. Hati Loveta terasa sakit ketika mendapati satu garis yang artinya itu adalah negatif. Artinya dia tidak hamil. Sekali pun lidahnya berkata jangan terlalu berharap, nyatanya hatinya sangat berharap.  


Untuk sesaat Loveta duduk termangu di kamar mandi. Dia masih tidak berani untuk keluar. Seolah sedang memberikan harapan kosong pada Liam.


Perasaan sedih seketika menghampiri Loveta. Rasanya masih belum terina ketika mendapati hasil tak sesuai dengan keinginannya.


“Apa Kak Liam benar-benar tidak akan kecewa?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut Loveta tanpa suara. Masih ragu jika sang suami akan menerima hasilnya.


Di luar Liam terus menunggu. Namun, sang istri tak kunjung keluar sama sekali. Liam memilih menunggu dari pada mengetuk pintu. Takut Loveta tidak nyaman ketika diburu-buru keluar.


Sayangnya, pilihan menunggu ternyata salah. Karena Loveta justru tak kunjung keluar. Membuat Liam yang berada di luar panik.


Liam segera mengetuk pintu kamar mandi. Memastikan jika sang istri sudah selesai. “Sayang, apa sudah selesai?” Liam bertanya seraya mengetuk pintu.


Loveta yang berada di dalam kamar mandi seketika tersadar. Sejak tadi dia memikirkan bagaimana caranya untuk berusaha mengatakan pada suaminya, dan ketukan pintu itu menghentikannya.


“Iya, sebentar.” Loveta segera menyelesaikan semuanya. Membuang bungkus alat tes kehamilan ke tempat sampah dan segera kelua dari kamar mandi.


Saat hatinya sudah terasa baik-baik saja, Loveta segera keluar dari kamar mandi. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah sang suami yang tampak tenang. Tidak menyambutnya dengan panik.


“Sudah ada hasilnya?” Liam bertanya dengan lembut.


Mendapati sikap Liam yang lembut itu membuat Loveta merasa sedih. Dia justru menangis.


Liam segera memeluk sang istri ketika suara tangis itu terdengar. Dia masih belum bisa menebak tangis apa yang dilakukan sang istri. Tangis bahagia atau tangis sedih.


“Maaf, Sayang.” Di dalam isak tangis itu terdengar permintaan maaf. Loveta merasa bersalah sekali dengan yang terjadi.


Mendengar permintaan maaf itu, Liam yakin jika hasilnya pasti tidak sesuai dengan keinginan Loveta.


“Tidak perlu meminta maaf. Bukankah aku sudah bilang jika kita bisa coba lagi.” Liam membelai lembut rambut sang istri.


Sayangnya, kalimat itu tidak menenangkan bagi Loveta. Mungkin karena terlalu berharap sekali.

__ADS_1


Liam membawa Loveta ke sofa yang berada di kamar mereka. Meminta Loveta untuk duduk. Liam sendiri memilih bersimpuh di depan tubuh sang istri.


“Sayang.” Liam menarik dagu sang istri agar melihat ke arahnya. Sejak tadi kepala sang istri tertunduk.


Loveta memberanikan diri untuk menatap Liam. Walaupun dia merasa tidak enak sama sekali.


“Dengar, kita tidak pacaran. Aku mengungkapkan cinta dan kamu langsung menerimanya. Jadi jika boleh dibilang kita belum puas berduaan. Anggap saja Tuhan sedang ingin kita menikmati waktu bersama sebelum nanti kita disibukkan dengan mengurus anak kita.” Liam mencoba memberikan pengertian pada sang istri.


Mendengar ucapan suaminya, membuat hati Loveta jauh lebih tenang. Dia sadar jika memang semua yang terjadi pastinya sudah garis takdir. Seperti yang dikatakan sang suami, jika pun belum hamil, itu adalah cara Tuhan memberikan waktu bersama dengan sang suami.


Apa yang dikatakan Liam selalu saja menenangkan. Hingga membuat Loveta yang tadinya sedih, perlahan menghilangkan rasa sedihnya.


Sebuah pelukan diberikan pada sang suami. Ungkapan bahagia karena sang suami bisa menenangkan  hatinya.


“Tenanglah. Tidak semua hal buruk yang terjadi pada kita adalah buruk. Ada hikmah yang bisa diambil dari semua itu.” Liam mencoba meyakinkan sang istri. Tangannya membelai lembut rambut sang istri.


Di dalam pelukan sang suami, Loveta mengangguk.


“Mau coba lagi.” Tiba-tiba Liam melepaskan pelukannya dan menatap Loveta penuh arti.


Sudah hampir dua minggu ini mereka berdua tidak sesering waktu baru menikah. Jadi pastinya kali ini dia begitu merindukan kenikmatan bersama istrinya itu.


Pipi Loveta seketika langsung merona ketika mendapatkan pertanyaan itu.


Melihat wajah malu-malu sang istri membuat Liam tersenyum. Tanpa menunggu jawaban Loveta, dia langsung menangkup tubuh sang istri. Membawanya ke tempat tidur.


Loveta selalu saja tidak siap dengan gerakan Liam. Selalu saja membuatnya terkejut. Seperti halnya kali ini. Sebuah teriakan kecil pun terdengar.


Liam menurunkan sang istri ke tempat tidur dengan perlahan. Tatapannya penuh damba pada wanita yang dicintainya itu.


“Kita masih punya waktu untuk bersenang-senang. Jadi jangan sedih. Percayalah, Tuhan akan berikan kita anak di waktu yang tepat.” Liam membelai lembut wajah sang istri.


Loveta selalu saja tenang ketika sang suami bicara. Kalimat yang lembut dan menenangkan memang membuat hatinya menghangat. Dengan penuh keyakinan Loveta mengangguk. Membenarkan ucapan Liam. Jika Tuhan akan memberikan mereka keturunan di waktu yang pas.


“Mari kita coba lagi kalau begitu.” Sebuah ciuman mendarat di bibir Loveta sebagai pembuka.

__ADS_1


Pencarian kenikmatan memang tak habis untuk dijelajah. Berharap setiap kepuasan yang didapat mengantarkan benih yang akan tubuh. Manusia hanya bisa berusaha, biarkan Tuhan yang menentukan semuanya.


__ADS_2