Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 33


__ADS_3

Liam melajukan mobilnya. Tiba-tiba pesan masuk ke ponselnya. Karena jalanan komplek sepi, jadi Liam bisa sambil melihatnya.


[Liam, Leo ada di rumah.]


Pesan itu seketika membuat Liam yang nyaris sampai di rumah keluarga Fabrizio, mengurungkannya niatnya. Liam melajukan mobilnya melewati rumah keluarga Fabrizio.


Tepat saat melintas rumah keluarga Fabrizio, Liam melihat Leo yang berada di depan. Menunggu Loveta. Liam bersyukur jika Mami Neta mengirimi pesan. Jika tidak, dia akan bertemu dengan Leo sekarang.


Liam yang melajukan mobilnya memilih meninggalkan rumah keluarga Fabrizio.


Sebuah pesan lagi masuk ke ponselnya. Liam melihat ternyata Loveta yang mengirim pesan.


[Kak, apa Kak Liam sudah sampai?]


[Maaf baru mengabari kamu. Pagi ini aku ada urusan. Jadi tidak bisa mengantarkan kamu.]


Sengaja Liam membalas seperti itu agar Loveta tidak kebingungan ketika dirinya akan datang.  


[Baiklah, Kak. Sampai jumpa lagi.]


Mendapati pesan itu Liam memilih meletakkan ponselnya lagi. Fokus pada jalanan di depannya.


...****************...

__ADS_1


Loveta segera keluar dari rumah. Diikuti dengan Mami Neta.


“Tante.” Leo menyapa Maami Neta.


Mami Neta tersenyum.


“Mi, kami berangkat dulu.” Loveta segera berpamitan. Tak mau lama-lama karena takut jalanan macet.


“Iya, hati-hati.”


“Iya.” Loveta segera mengayunkan langkahnya ke mobil Leo. Disusul oleh Leo di belakangnya.


Leo segera menyalakan mobilnya. Kemudian berlalu meninggalkan kediaman Fabrizio.


“Kenapa diam saja?” Leo menoleh ke arah Loveta sejenak. Dia merasa aneh ketika kekasihnya itu diam saja.


“Tidak apa-apa.” Loveta menggeleng.


“Biasanya kamu sibuk bertanya banyak hal. Sekarang kamu diam saja.” Liam merasakan perubahan Loveta. Biasanya Loveta akan langsung mencecar dirinya dengan begitu banyak pertanyaan, tetapi sekarang tidak.


Loveta sadar di depan Leo ada perubahan signifikan yang dilakukan. Jelas itu membuat Leo curiga.


“Aku sedang kesal saja padamu.” Loveta menutupi sikapnya itu. Agar Leo tidak curiga.

__ADS_1


“Kesal kenapa?” tanya Leo.


“Kamu tidak pernah mengabari apa-apa saat di luar kota. Lalu tiba-tiba datang seenaknya saja.” Loveta pura-pura marah. Walaupun dia akan tahu jawaban Leo apa. Karena kejadian ini memang sudah sering terjadi.


“Bukankah kita sepakat untuk tidak membahas ini. Sejak awal aku bilang, aku ke sana kerja. Aku harus fokus. Sekalian agar aku dan kamu ada waktu tidak bersama.” Leo merasa ini adalah cara agar mereka tidak bosan satu dengan yang lain. Sejak kecil mereka selalu bersama. Walaupun kuliah di jurusan berbeda, tetapi mereka menghabiskan waktu bersama. Jadi saat keluar kota, mereka bisa merasakan tidak bertemu dan merasakan rindu.


“Tapi, aku juga mau dikabari. Aku ingin tahu apa yang kamu lakukan di sana.” Loveta yang tadinya pura-pura justru tiba-tiba kesal.


“Aku akan ceritakan ketika aku kembali. Lalu apa bedanya?”


“Tetap saja berbeda.” Loveta masih dengan pemikirannya.


“Aku sedang tidak mau berdebat pagi-pagi. Jadi jangan memancing masalah yang seharusnya tidak dipermasalahkan. Kita sudah kenal satu dengan yang lain, jadi tanpa aku menjelaskan panjang lebar, kamu sudah tahu.” Leo melihat sejenak Loveta ketika bicara, tetapi buru-buru dia kembali ke jalanan di depannya.


Loveta merasa kesal. Namun, saat Leo memintanya berhenti, tentu saja dia langsung berhenti.


Sampai di toko pun Loveta langsung turun. Tak berpamitan dengan Leo.


Leo yang melihat kemarahan Loveta memilih untuk membiarkan saja. Biasanya Loveta akan luluh dengan sendirinya.


Loveta yang melihat Leo pergi meninggalkan begitu saja, justru semakin kesal.


“Apa dia tidak berusaha membujukku?” Loveta bertanya pada dirinya sendiri. Walaupun sebenarnya itu adalah hal biasa, tetapi kali ini dia merasa tidak terima dengan sikap Leo itu. “Aku tidak akan menemuinya jika dia tidak menemuinya.” Entah kenapa kali ini Loveta memilih untuk tidak mengalah seperti biasa. Jika biasanya Loveta marah dan akaj datang pada Leo sendiri, kini dia tidak akan melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2