Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 151


__ADS_3

Sebulan ini Loveta bekerja begitu keras. Membuat sepatu untuk kolaborasi. Sepatu hanya dijual pre order dan by custum saja. Karena itu, Loveta hanya akan membuat contohnya.


Loveta mengerjakan sepatu itu sendiri dengan team. Memastikan permata terpasang dengan benar di sepatu.


Loveta juga membuat team promosi. Nantinya sepatu akan dipromosikan di media sosial, majalah, dan banner di jalan. Ini akan efektif sekali. Tak hanya itu, dia akan endorse artis-artis yang akan menikah untuk membuat daya tarik konsumen.


“Sayang, makan dulu.” Liam memanggil Loveta yang sedang asyik menempelkan beberapa permata pada sepatu sesuai desain.


“Iya, sebentar.” Loveta menjawab seraya menghetikan pekerjaannya. Dia kemudian melepaskan kacamatanya.


Sudah sebulan ini Loveta membawa pekerjaannya ke rumah karena Liam tidak mengizinkannya lembur di toko. Lebih baik di rumah saja.


Loveta menghampiri sang suami. Sudah sebulan ini suaminya yang mengambil alih tugas memasak. Tak mau mengganggu sang istri.


“Berapa banyak sepatu yang belum selesai dibuat?” tanya Liam seraya meletakkan makanan.


“Tinggal satu itu saja.” Loveta mencoba menjelaskan.


Akan ada lima koleksi dibuat di ukuran sepatu tiga puluh tujuh sampai empat puluh satu. Total satu sepatu dibuat dua buah. Satu akan ditaruh di Malya Jawerly dan satu ditaruh di Marlene Shoes. Pameran akan dilaksanakan dua hari lagi. Jadi Loveta harus ekstra kerja keras.


“Syukurlah, aku benar-benar tidak tega melihatmu kerja begitu keras.” Liam merasa jika  istrinya bekerja tanpa henti.

__ADS_1


“Tenanglah, aku baik-baik saja. “ Loveta tersenyum.


Liam mengembuskan napasnya. Istrinya masih baru di dunia kerja. Jadi semangatnya membara. Namun, tidak melihat kekuatannya.


“Tetap saja kamu harus menjaga kesehatanmu. Tidak bisa memaksakan diri.” Liam memberikan nasihat pada sang istri.


“Iya.” Loveta tersenyum lebar.


Mereka berdua menikmati makan bersama. Tak mau memperpanjang perdebatan.


Saat Loveta memasukkan makanan ke dalam mulutnya, dia merasa sedikit mual.


Pertanyaan itu menghiasi pikiran Loveta. Karena merasa jika perutnya tidak nyaman sekali.


“Kenapa?” Liam melihat jelas jika Loveta tampak diam saja.


“Tidak apa-apa.” Loveta menggeleng. Tak mau suaminya tahu apa yang dirasakannya. Yang ada suaminya menyalahkan dirinya yang bekerja terus.


Loveta kembali melanjutkan makannya. Berusaha menikmati makannya. Tak mau suaminya curiga.


Liam ikut melanjutkan makannya. Dia merasa jika sang istri baik-baik saja.

__ADS_1


 


...****************...


Loveta membuka matanya ketika merasakan perutnya yang bergejolak. Saat membuka mata, dia melihat Liam yang serang memeluknya. Karena tidak mau mengganggunya, Loveta menyingkirkan tangannya itu perlahan.


Ketika tangan suaminya sudah tersingkir, Loveta langsung bergegas bangun. Kemudian menuju ke kamar mandi.


Di kamar mandi, Loveta memuntahkan isi perutnya. Dia berusaha keras untuk mengeluarkan isi perutnya agar bisa merasa lega.


“Apa aku kelelahan?” tanya Loveta pada dirinya sendiri. Dia membasuh mulutnya yang kotor. Kemudian menatap wajahnya dari pantulan cermin.


“Jangan sampai aku sakit?” Loveta melihat wajahnya yang sedikit pucat.


Loveta benar-benar takut jika sakit. Karena soft lauching sepatu kolaborasi akan diadakan dua hari lagi. Jika sampai dia sakit. Yang ada semua bisa berantakan.


“Sayang.”


Ketika sedang memikirkan akan hal itu, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Loveta takut sekali jika suaminya tahu dirinya sedsng tidak enak badam. Bisa-bisa soft launching dibatalkan Liam.


“Iya, sebentar.” Loveta segera mencuci mukanya agar terlihat segar. Tak mau suaminya melihatnya pucat.

__ADS_1


__ADS_2