Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 102


__ADS_3

Semua keluarga ikut membantu Loveta pindah. Kebetulan Danish dan Nessia sudah libur sekolah. Mereka sedang sibuk mendaftarkan diri untuk masuk ke perguruan tinggi.


Papi Dathan juga tidak pergi ke toko. Sebagai pemilik toko, sekarang dia memang lebih banyak di rumah. Mengecek pekerjaan dari rumah. Hanya sesekali dia tetap datang ke toko.


“Apa hanya ini saja yang dibawa, Kak?” tanya Danish. Dia sedari tadi yang memasukkan barang-barang milik kakaknya.


“Iya, hanya itu saja.” Loveta mengangguk.


“Liam belum datang?” tanya Papi Dathan.


“Sebentar lagi, Pi. Sedang dalam perjalanan.” Loveta memberitahu.


Selang beberapa saat Liam datang. Mereka segera berangkat. Papi Dathan, Mami Neta, dan Nessia naik mobil dengan Danish yang mengemudikan mobil, sedangkan Liam bersama Loveta dengan mobil Loveta. Kebetulan barang-barang sudah dimasukkan ke bagasi mobil Loveta. Jadi mereka bisa langsung berangkat.


Sesampainya di apartemen, mereka bahu membahu membawa barang-barang milik Loveta. Ada tiga koper yang dibawa dan satu koper kecil.


Liam, Loveta, dan Danish masing-masing membawa satu koper besar, dan Nessia membawa satu koper kecil. Papi Dathan dan Mami Neta dibiarkan tidak membawa apa-apa.


Saat masuk ke apartemen mereka semua terkejut. Karena sejak apartemen di beli, merek hanya datang sekali ketika selesai penyerahan kunci.


“Ternyata apartemen ini rapi sekali.” Mami Neta tidak menyangka jika apartemen sudah banyak berubah sejak saat dibeli.


“Dan Kak Liam lebih rapi dibanding Lolo.” Loveta tersenyum memuji sang suami.

__ADS_1


“Wah ... jika nanti Kak Liam dan Kak Cinta punya rumah, aku mau tinggal di sini.” Danish tampak suka sekali pemandangan kota yang terlihat dari apartemen.


“Untuk apa kamu tinggal di apartemen? Pasti kamu mau bebas!” Nessia meledek saudara kembarnya itu.


“Sembarangan!” Danish tidak mau dituduh seperti itu.


“Untuk apa kamu tinggal sendiri. Rumah kita saja cukup besar.” Mami Neta menegur anaknya.


Danish sepertinya harus memupuskan harapannya. Karena ternyata orang tuanya tidak mengizinkannya.


Loveta dan Liam membawa koper-koper itu ke kamar. Meninggalkan keluarga di ruang tamu.


Suara bel yang terdengar membuat Mami Neta, Papi Dathan, Nessia, dan Danish mengalihkan pandangan ke arah pintu. Mami Neta segera meminta Danish membuka pintu. Mengecek siapa yang datang.


“Makanannya sudah datang?” Liam segera menyusul Danish.


“Iya, Kak.” Danish mengangguk.


Liam meminta pengantar makanan masuk ke apartemen. Karena makanan yang dipesan Liam cukup banyak.


Pengantar makanan meletakkan makanan di meja makan sesuai dengan permintaan Liam.


“Kenapa banyak sekali, Liam?” Mami Neta merasa heran karena pesanan makanan cukup banyak.

__ADS_1


“Karena akan banyak yang makan di sini nanti.” Liam tersenyum. Dia segera beralih pada pengantar makanan setelah mereka selesai menurunkan makanannya. “Ini untuk kalian. Bisa dibagi.” Liam memberikan tips sebelum karyawannya itu pergi.


“Terima kasih banyak, Pak.” Tips yang diberikan Liam cukup besar. Jadi mereka merasa senang.


“Sama-sama.” Liam mengangguk.


Mami Neta langsung merapikan makanan yang dipesan Liam. Mami Neta masih merasa ini masih terlalu banyak.


Loveta ikut keluar setelah merapikan barangnya. Dia segera membantu sang mami merapikan makanan.


“Kenapa pesan sebanyak ini?” Mami Neta masih protes. Karena makanan yang datang terlalu banyak


“Ini pas untuk sembilan orang, Mi. Jadi tidak kebanyakan.” Loveta menjelaskan pesanan yang dipesan sang suami.


“Sembilan?” tanya Mami Neta bingung. “Siapa lagi yang tiga?” tanyanya memastikan.


Tepat saat pertanyaan Mami Neta itu muncul, suara bel terdengar.


“Itu mereka.” Loveta tersenyum.


Mami Neta bingung siapa yang diundang Loveta dan Liam selain mereka sekeluarga. Pikirannya tertuju pada seseorang. Untuk memastikan. Dia segera mengintip ke arah pintu. Memastikan yang pikirannya benar.


 

__ADS_1


__ADS_2