
Pagi ini Liam dan Loveta pergi bekerja seperti biasanya. Tinggal dua hari lagi mereka akan pergi. Jadi mereka berdua benar-benar sedang sibuk sekali.
“Aku sudah izin mama untuk pulang di jam istirahat. Jadi nanti aku bisa packing dulu.” Loveta menjelaskan pada sang suami tentang rencananya hari ini.
Mereka berdua sedang dalam perjalanan ke kantor dan toko. Tentu saja Liam akan mengantarkan sang istri ke toko lebih dulu, sebelum ke kantornya.
“Aku akan menjemputmu nanti sebelum ke tempat pengacara Leo.” Liam menjelaskan rencananya.
“Tidak perlu. Kamu pergi saja langsung ke tempat pengacara. Aku akan pulang naik taksi. Lebih cepat selesai masalahnya, semakin cepat kita fokus pada urusan kita. Lagi pula nanti aku harus mengambil beberapa barang juga ke rumah papi.” Loveta menolak rencana sang suami. Memilih membagi tugas agas lebih cepat selesai urusannya.
“Baiklah kalau begitu.” Liam mengangguk.
Akhirnya setelah perjalanan setengah jam, Liam dan Loveta sampai juga di toko Malya Jawelry.
“Kabari aku tentang informasi yang kamu dapat.” Loveta sangat-sangat penasaran sekali dengan keberadaan Leo. Apalagi terakhir kali bertemu Leo, pria itu pergi begitu saja.
“Aku akan mengabarimu.” Liam mengangguk.
Loveta mendaratkan kecupan di pipi Liam sebelum keluar dari mobil.
Loveta yang sudah keluar menunggu sang suami yang pergi meninggalkan toko. Saat mobil Liam hilang dari pandangan, Loveta segera masuk ke toko.
“Selamat pagi.” Loveta menyapa karyawan toko.
“Pagi, Kak.” Karyawan memang memanggil dengan panggilan ‘kak’ atas permintaan Loveta. Lagi pula, dia juga belu. Terlalu tua untuk dipanggil ‘bu’.
Saat masuk perhatian Loveta mengarah pada seseorang yang juga ikut menjawab sapaannya.
“Kamu di sini?” tanya Loveta ketika melihat adiknya.
“Iya, aku antara mama sekalian mau belajar di sini. Melihat bagaimana toko.” Alca tersenyum.
“Ayo, ke ruanganku. Aku akan ajari banyak hal.” Loveta langsung mengajak adiknya itu.
__ADS_1
Rencananya kelak toko Malya Jawelry akan dikelola Loveta dan Alca. Jadi mereka tentu akan bekerja sama. Alca lebih memilih bekerja di toko, dibanding di perusahaan milik Janitra. Janitra terlalu besad untuknya. Jadi dia tidak mau. Lagi pula Alca berpikir sudah ada Dima. Jadi aman saja jika dia tidak memilih Janitra.
“Ayo.” Alca bersemangat sekali mengikuti kakaknya.
...****************...
Jam istirahat tiba. Loveta pergi makan siang dulu dengan mama dan adiknya sebelum pergi ke rumah maminya.
“Apa persiapannya sudah selesai?” Mama Arriel menatap anaknya di tengah-tengah makannya.
“Belum semua sebenarnya. Baru nanti aku akan packing. Lagi pula aku masih punya waktu besok juga.” Besok Loveta sudah mulai cuti. Jadi dia bisa langsung berkemas.
“Kenapa mendadak berkemasnya?” Mama Arriel heran dengan anaknya itu.
“Aku tidak bawa banyak barang, Ma. Jadi aku tidak perlu harus berkemas jauh-jauh hari.” Loveta menjawab dengan senyuman.
“Kamu tahu saja.” Loveta tersenyum.
Mama Arriel tersenyum. Di tengah makan dan obrolan ringan itu, dia mengambil ponselnya. Untuk sesaat dia sibuk dengan ponselnya.
“Mama kirim uang untuk kamu.” Sebagai orang tua, Mama Arriel selalu ingin memberikan yang terbaik.
Loveta sempat terkejut dengan apa yang dilakukan sang mama. Dia langsung mengecek rekeningnya melalui ponselnya.
Dua bola mata indah miliki Loveta langsung membulat sempurna ketika melihat nominal yang dikirim sang mama.
“Mama kirim sebanyak ini?” tanya Loveta memastikan. Mamanya mengirim lima puluh juta untuknya.
“Di sini kamu bilang banyak. Di sana itu hanya untuk jajan saja.” Mama Arriel tersenyum. Tahu betul jika di luar negeri mahal-mahal.
Loveta tersenyum. “Tapi, lima puluh juta lumayan untuk beli dompet merk terkenal.” Dia menyeringai.
__ADS_1
“Terserah kamu mau pakai apa uangnya. Yang jelas Mama mau oleh-oleh cucu.” Sudah melihat anaknya menikah, tentu saja dia berharap cucu dari anaknya.
“Aku akan bekerja dengan giat untuk membuat cucu. Jadi Mama tenang saja.” Loveta begitu bersemangat memberitahu sang mama.
Alca yang melihat aksi sang kakak justru tertawa. Ada-ada saja kakaknya itu.
...****************...
Tepat setelah istirahat, Liam melajukan mobilnya ke kantor pengacara Leo. Dia berharap dapat menemukan Leo.
Saat datang sekretaris langsung memintanya untuk masuk. Apalagi tadi pagi Liam sudah membuat janji.
“Selamat siang Pak Liam.” Pengacara langsung mengulurkan tangan pada Liam saat tamunya itu masuk.
“Selamat siang, Pak.” Liam menerima uluran tangan pengacara Leo tersebut.
“Silakan duduk. Sudah lama tidak bertemu.” Pengacara segera duduk.
“Iya, terakhir kali saat di pemakaman papa.” Liam duduk tepat di depan pengacara Leo.
Pengacara mengangguk membenarkan ucapan Liam. Terakhir kali adalah saat pemakaman.
“Apa yang membuat Pak Liam ke sini? Apa ada yang bisa saya bantu?” Pengacara merasa tidak mungkin Liam tidak memiliki tujuan datang menemuinya.
“Iya, saya ke sini memang ingin menanyakan sesuatu.”
“Tentang apa kalau boleh saya tahu?” Pengacara begitu penasaran sekali.
“Apakah Anda tahu di mana Leo sekarang berada?” Liam langsung menanyakan apa yang membuatnya sampai datang ke kantor pengacara Leo.
__ADS_1