Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 74


__ADS_3

Sore ini Leo pergi ke rumah keluarga Fabrizio. Leo sadar jika ada banyak hal yang harus diselesaikan. Leo sudah mengirim pesan pada Loveta. Walaupun pesan itu tidak dibalas oleh Loveta, Leo yakin jika kekasihnya itu sudah membaca pesannya dengan baik.


Saat sampai di rumah keluarga Fabrizio, Leo melihat mobil Papi Dathan terparkir. Artinya papi dari Loveta itu sudah pulang. Mobil Loveta juga tampak terparkir di depan rumah. Berarti Loveta juga sudah pulang.


Setelah memarkirkan mobilnya, Leo memilih segera masuk. Asisten rumah tangga mempersilakan Leo untuk menunggu di ruang tamu.


Perasaan Leo benar-benar campur aduk. Rasa takut dan malu bercampur jadi satu.


Papi Dathan dan Mami Neta yang keluar untuk menemui Leo. Tidak ada Loveta yang mengikuti mereka. Leo yang menyadari itu, merasa jika Loveta memang tidak mau bertemu dengannya. Namun, Leo mengerti kenapa Loveta tidak mau bertemu dengannya.


“Saya ke sini ingin meminta maaf atas apa yang sudah saya lakukan terhadap Lolo. Maaf juga karena baru bisa datang untuk meminta maaf. Saya tahu sudah menyakiti Lolo. Jadi saya akan meneriam semua konsekuensi dari apa yang saya perbuat.” Leo dengan kerendahan hati meminta maaf pada keluarga Fabrizio.


Papi Dathan menatap sang istri. “Bagus kalau kamu mau datang sendiri dan mengakui kesalahan.” Dia merasa Leo cukup berani untuk datang. Apalagi mengakui kesalahannya. “Kamu sudah melakukan hal buruk yang membuat Cinta terluka. Jadi kami tidak bisa mengizinkan kamu melanjutkan hubungan ke pernikahan. Kami ingin rencana pernikahan kalian dibatalkan.” Papi Dathan langsung pada intinya.


Leo sudah menebak jika akan seperti ini. Akhir dari hubungan mereka adalah pembatalan pernikahan.


“Saya menerima pembatalan pernikahan ini, Om.” Leo dengan berat hati menerima karena memang dia tahu kesalahannya di mana.


Loveta di balik dinding mendengar jelas jawaban Leo. Air matanya langsung meneteskan. Merasa kini hubungannya berakhir sudah. Perjalanan panjang kisah cintanya berakhir dengan sebuah pengkhianatan.

__ADS_1


“Apakah saya bisa bertemu Lolo?” tanya Leo.


“Maaf Leo, Cinta sudah bilang belum bisa bertemu denganmu dulu. Dia masih butuh waktu.” Mami Neta mencoba menjelaskan.


Leo tidak bisa memaksakan kehendaknya. Dia sadar jika memang kesalahannya akan sulit sekali dimaafkan.


“Tidak apa-apa, Tante. Sampaikan permintaan maaf saya pada Lolo. Maaf jika sudah membuat dia kecewa. Saya berharap, Lolo bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari saya.” Melepaskan Loveta bukan perkara mudah bagi Leo. Namun, kesalahannya tidak bisa dimaafkan. Jadi tentu saja dia lebih memilih untuk melepaskannya.


Loveta terus menangis. Untuk saat ini dia masih belum mau bertemu dan bicara dengan Leo. Perasaannya masih carut marut. Jika nanti perasaannya jauh lebih tenang. Mungkin dia tidak akan keberatan bertemu.


“Kalau begitu saya permisi dulu.” Leo berpamitan.


Leo segera pergi dari rumah keluarga Fabrizio. Walaupun sakit melepaskan Loveta, tetapi Leo lega karena tidak memaksa Loveta tetap bersamanya. Karena Loveta berhak untuk bahagia.


Leo segera pulang ke rumah. Seharian dia mengurus banyak hal. Jadi dia cukup kelelahan.


Sampai di rumah, Leo melihat mamanya yang hanya diam saja. Dia masih merasa terpukul kehilangan mamanya.


“Mama sudah makan?” tanya Leo seraya mendudukkan tubuhnya.

__ADS_1


Bella menggeleng. Dia tidak nafsu makan.


Mendapati sang mama tidak mau makan, Leo segera mengambilkan makanan untuk sang mama.


“Ayo, Mama makan dulu.” Leo menyodorkan sendok berisi makanan.


Bella justru menangis. “Kenapa hidup kita seperti ini? Apa ini karma untuk kita?” Bella sudah tahu jika Leo pergi untuk membatalkan pernikahan dengan Loveta. Membuatnya merasa kemalangan terus datang pada keluarganya.


Leo yang tidak tega segera meletakkan piring di atas meja. Kemudian memeluk sang mama.


“Tidak ada karma, Ma. Yang ada Tuhan ingin kita memperbaiki diri. Tuhan ingin kita berusaha sendiri. Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa atas apa yang terjadi. Ini adalah takdir kita. Jadikan semua pelajaran untuk berjalan maju lagi.” Terkadang orang-orang dewasa dipaksa keadaan. Begitu juga Leo. Apa yang terjadi membuatnya sadar. Jika apa yang dilakukan selama ini salah.


“Tapi, Mama tidak sanggup.”  Bella masih belum bisa jika orang tahu bertapa hancur keluarganya.


“Kita akan pindah, Ma. Memulai kehidupan baru, tanpa ada orang yang kita kenal. Leo akan menjaga mama. Kita akan bahagia nanti.” Leo meyakinkan sang mama.


Bella hanya bisa menangis. Apa pun keputusan sang anak, dia ikut saja.


Walaupun ke depan hidup tidak akan mudah, Leo akan terus berusaha. Apalagi mamanya butuh dirinya.

__ADS_1


__ADS_2