Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 132


__ADS_3

“Kita harus tetap bilang Lavelle jika kita tidak menemukan Leo.” Liam tentu saja tidak mau memberikan harapan kosong. Mengingat Lavelle pasti ingin sekali bertemu Leo.


Loveta membayangkan bagaimana perasaan Lavelle. Pasti akan sedih jika tidak bertemu Leo.


“Begini saja. Setelah pulang dari Italia, kita bantu lagi Lavelle.” Loveta memberikan ide pada suaminya. Sebagai seorang wanita, dia tentu saja tidak tega jika melihat wanita lain hamil tanpa suami.


Liam merasa ide istrinya cukup baik. Mengingat mereka akan pergi ke Italia besok lusa, tentu saja tidak bisa mencari sekarang. Ada hal yang harus dikerjakan.


“Baiklah, kita akan hubungi dia dan mengatakan padanya sekaligus memberitahu jika kita tidak bisa menemukan Leo.” Liam setuju dengan ide sang istri.


“Kamu akan mengatakan lewat telepon?” Loveta memastikan.


“Iya.” Liam mengangguk.


“Ini sedikit sensitif. Aku rasa kita harus menemuinya. Agar dia tidak salah paham. Aku takut dia berpikir, kita tidak mau mencari Leo.” Berbicara di telepon menurut Loveta tidak pas sama sekali. Jadi dia menyarankan untuk bicara langsung.


Yang dikatakan istrinya memang benar. Apalagi ibu hamil mungkin saja sensitif. Liam tidak berpikir sejauh itu.


“Baiklah, kita temui dia sebentar. Nanti aku akan buat janji.” Liam akhirnya setuju lagi dengan ide sang istri.


Mereka berdua merasa masalah Lavelle sudah terselesaikan. Nanti, sepulang dari Italia, mereka akan kembali mencari.


“Apa kamu sudah selesai berkemas?” Liam menatap sang istri. Teringat dengan istrinya yang pulang lebih awal untuk berkemas.


“Sudah untuk baju-bajuku, tapi bajumu belum.” Loveta tersenyum malu. Dia belum merapikan barang-barang miliknya.


“Aku tidak perlu bawa apa-apa.” Liam tertawa.


Loveta mengerutkan dahinya mendengar ucapan Liam. “Kenapa tidak bawa apa-apa?” tanya Loveta.


“Aku punya banyak baju di sana. Jadi untuk apa aku membawanya.” Liam tersenyum.


Loveta lupa jika Liam berasal dari sana. Jadi wajar jika tidak memerlukan baju. Pasti baju-bajunya sudah ada banyak di sana.


“Berarti hanya tinggal barang-barangku saja.” Loveta merasa tidak akan banyak yang dikerjakan jika begitu.

__ADS_1


“Iya.” Liam mengangguk.


“Baiklah, jika itu semua sudah beres. Baju yang aku ambil dari rumah, peralatan mandi, peralatan make up, semua sudah siap.” Loveta senang saat ternyata tidak banyak yang akan dilakukan besok.


Saat sang istri membahas baju yang diambil dari rumah, Liam teringat jika sang istri tadi ke rumah.


“Tadi kamu ambil apa saja?” tanya Liam.


“Aku ambil beberapa baju. Kamu tahu sendiri jika di sini aku tidak punya banyak baju.


Kesepakatan mereka hanya akan tinggal sementara di apartemen memang membuat Loveta tidak membawa banyak baju. Jadi wajar jika saat pergi seperti ini, dia mengambil baju di rumah orang tuanya.


Liam mengangguk-anggukan kepalanya. Mengerti apa yang dikatakan sang istri.


“Apa kamu lama tadi di sana?” Liam memastikan kembali.


“Tidak terlalu lama.” Loveta menggeleng. “Aku pulang setelah dapat uang dari papi.” Loveta tersenyum puas ketika mengingat bagaimana senangnya saat mendapatkan uang dari sang papi.


Liam memicingkan matanya. Diikuti dengan dahinya yang berkerut dalam.


Loveta keceplosan mengatakan tentang uang. Padahal suaminya tidak bertanya akan hal itu.


“Iya, tadi papi dan mama memberiku uang untuk ke Italia.” Loveta malu-malu menjelaskan pada suaminya.


Liam terkejut ketika sang istri dapat uang untuk jalan-jalan. Sudah seperti anak kecil saja.


“Kamu sudah menikah, kenapa minta uang pada orang tua? Kamu punya suami bukan?” Liam merasa sang istri tidak pas jika meminta pada orang tuanya. Karena dia kini tanggung jawabnya.


“Aku tidak meminta. Mereka yang mau berikan.” Loveta memberikan alasan. Padahal pada Papi Dathan dia minta, sedangkan pada Mama Arriel tidak. Karena Mama Arriel memberikan sendiri.


Liam mengembuskan napasnya. Jika orang tuanya memberikan sendiri memang dia tidak bisa berbuat apa-apa.


“Diberikan berapa oleh orang tuamu?” Rasa penasaran Liam menggelitik.


“Mama Arriel lima puluh juta, Papi Dathan dua ratus juta.” Loveta menjelaskan.  

__ADS_1


Liam tersenyum. Ternyata cukup banyak sekali.


“Aku punya banyak uang.” Senyum Loveta mereka membayangkan uangnya cukup banyak.


Melihat sang istri ingin rasanya Liam tertawa. “Apa kamu tidak pernah cek saldo kartu yang aku berikan?” Liam penasaran sekali.


“Tidak. Aku hanya menggunakannya tanpa tahu berapa isinya. Yang aku tahu, aku gunakan untuk apa saja. Karena aku mencatatnya.” Loveta mencoba menjelaskan. “Memang berapa isinya?” Loveta jadi penasaran berapa isi dari uang di dalam kartunya itu.


“Lima puluh.” Liam menjawab enteng.


“Oh ... Lima puluh juta.” Loveta mengangguk-anggukan kepalanya.


“Bukan lima puluh juta, Sayang.” Liam membenarkan ucapan Loveta.


“Lalu?” tanya Loveta bingung.


“Lima puluh milyar.”


“Apa?” Loveta berucap dengan berteriak. Matanya membelalak terkejut dengan yang dikatakan Liam.


Liam sampai menutup telinganya karena sang istri begitu kencang sekali berteriak. Membuat telinganya sakit.


Loveta tiba-tiba langsung berlari ke kamarnya. Liam yang penasaran langsung mengejar sang istri.


“Kenapa, Sayang?” tanya Liam panik.


Loveta langsung meraih kartu yang diberikan Liam yang ditaruhnya asal di atas nakas. Dia pikir seperti kartu-kartunya yang lain, dia memperlakukannya sesuka hati.


“Aku menaruh asal uang lima puluh milyar. Jika hilang, matilah aku.” Loveta dengan wajah polosnya tampak pucat sekali.


Tadi dia merapikan dompetnya. Karena belum selesai, dia menaruh isi dompet asal di atas nakas.


Liam hanya tertawa. Apalagi melihat wajah pucat istrinya. Sangat menggemaskan sekali. Padahal jika di rumah tidak akan hilang. Karena mereka hanya tinggal berdua.


 

__ADS_1


__ADS_2