Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 166


__ADS_3

Liam yang mendengar suara istrinya memanggil langsung berlari ke kamar mandi. Karena posisi pintu dikunci, dia tidak bisa langsung masuk. Dia harus mengetuk pintu lebih dulu.


“Sayang … Sayang.” Liam benar-benar panik sekali. Karena tidak biasa-bisanya Loveta memanggilnya dari kamar mandi. Sampai dia mual pun tidak pernah memanggilnya.


Di dalam kamar mandi Loveta mencoba mengganti pakaian dalamnya lebih dulu dan mengambil pembalut di dalam kabinet yang ada di kamar mandi. Dia kembali memakai pakaiannya. Kemudian membuka pintu.


“Ada apa?” Saat membuka pintu, pertanyaan dari Liam langsung menyambut Loveta.


“Ada darah di pakaian dalamku.” Loveta takut sekali. Dia takut anaknya kenapa-kenapa.


Liam tak kalah panik. Dia memikirkan hal buruk terjadi pada anaknya. Apalagi terjadi flek saat kehamilan. “Kita ke dokter.” Liam tidak mau tinggal diam. Dia harus segera membawa sang istri ke rumah sakit. “Apa kamu kuat berjalan?” tanyanya.


“Kuat.” Loveta mengangguk.


Liam langsung memapah sang istri. Membawanya ke tempat parkir. Kemudian membawanya ke rumah sakit. Sepanjang jalan Liam berharap jika keadaan sang istri baik-baik saja.


Rumah sakit berada cukup jauh dari apartemen, jadi Liam harus bersama cukup lama untuk sampai di rumah sakit. Satu jam waktu yang harus ditempuh mereka.


Saat sampai, Liam langsung membawa Loveta ke dokter kandungan. Karena Loveta masih merasa tidak sakit sama sekali.


Mengingat ini sudah sore, jadi dr. Lyra sedang tidak bertugas. Liam memilih dokter lain untuk memeriksakan kandungannya.


Setelah melakukan beberapa prosedur, mereka akhirnya masuk ke dalam ruangan dokter. Seorang dokter muda yang dia temui.

__ADS_1


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya dokter.


“Saya sedang hamil enam minggu, lalu tiba-tiba ada flek tadi.” Loveta menceritakan pada dokter.


“Apa banyak darah yang keluar?” tanya dokter.


“Tidak, hanya sedikit.” Loveta menjelaskan pada dokter.


Dokter segera meminta Loveta untuk naik ke atas ranjang. Memeriksa kandungan Loveta dengan alat USG.


Dengan segera Loveta naik ke atas ranjang, dibantu oleh Liam. Perawat langsung menuangkan gel di perut Loveta untuk membantu pemeriksaan dengan alat USG.


Dokter mengecek keadaan kandungan Loveta. Dilihat keadaan janin baik-baik saja.


“Lalu kenapa ada flek yang keluar, Dok?” Loveta begitu penasaran sekali. Jelas hal itu membuatnya ketakutan.


“Flek terjadi saat kehamilan awal itu wajar. Karena ada penempelan embrio ke dalam rahim. Selama darah yang keluar hanya sedikit, tidak masalah. Jika berlangsung terus menerus, Ibu bisa kembali ke rumah sakit untuk mengecekkan lebih lanjut. Jika terjadi pendarahan yang banyak. Silakan langsung ke rumah sakit.” Dokter menjelaskan pada Loveta dan Liam.


Mendapatkan jawaban itu membuat Liam dan Loveta merasa lega sekali. Ternyata tidak separah yang mereka bayangkan. Paling tidak, mereka sudah mendapat jawaban jika keadaan anak mereka baik-baik saja.


Dokter mengakhiri pemeriksaan. Kemudian menuju ke mejanya.


Perawat membersihkan perut Loveta. Liam dengan perlahan membantu sang istri untuk turun dari ranjang. Memapah sang istri untuk kembali duduk di depan dokter.

__ADS_1


Dokter membaca rekam medis milik Loveta.


“Kemarin sudah diberikan vitamin oleh dr. Lyra ‘kan? Dilanjutkan saja. Banyak istirahat. Jangan bekerja yang berat-berat.” Dokter memberikan saran lagi.


“Baik, Dok.” Liam mengangguk.


Setelah pemeriksaan selesai, Liam dan Loveta segera keluar. Mereka cukup lega karena akhirnya keadaan anak mereka baik-baik saja. Berharap tidak ada pendarahan berlebihan setelah ini. Cukup hanya flex tadi saja.


“Sayang, aku mau ke toilet dulu. Bisakah kamu duduk dan tunggu di sini.” Liam tidak tahan ingin ke toilet. Jadi dia meminta sang istri untuk menunggunya lebih dulu.


Loveta mengangguk. Tentu saja dia akan menunggu sang suami. Dia memilih untuk duduk di ruang tunggu yang berada di lobi.


Liam segera berlalu. Meninggalkan sang istri sendiri.


Loveta menunggu Liam sambil melihat televisi di rumah sakit tersebut. Walaupun tidak ada suaranya, tetapi ada tulisan di bawahnya. Jadi dia bisa melihat apa yang dijelaskan di televisi itu.


Bosan melihat layar televisi, dia mengalihkan pandangan ke lobi rumah sakit. Melihat lalu lalang orang yang berada di rumah sakit.


Dua bola mata Loveta membulat sempurna ketika melihat dua orang yang dikenalnya berada di lobi. Tampak dua orang itu sedang menunggu taksi.


“Leo.” Loveta melihat Leo dan sang mama. Tampak Leo memapah mamanya. Sejenak dia teringat jika dia berjanji pada Lavelle untuk mencari Leo, dan kini pria itu ada di depan matanya.


Tanpa menunggu lama, Loveta mengejarnya. Dia harus menghentikan Leo dan mengatakan apa yang terjadi pada Lavelle pada Leo.

__ADS_1


__ADS_2