Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 124


__ADS_3

“Kenapa orangnya berbeda?” Lavelle memikirkan Liam yang ditemuinya tadi. “Tapi, wajahnya mirip.” Dia mencoba mengingat-ingat wajah pria yang pernah tidur dengannya dulu. “Apa karena ada jambangnya jadi wajahnya berbeda?” Lavelle merasa jika bisa jadi karena jambang Liam membuat wajahnya berbeda.


Lavelle adalah wanita yang pernah tidur dengan Leo. Dia sengaja mencari informasi tentang Leo. Tak banyak yang didapat oleh Lavelle. Yang didapatnya hanya jika pria itu adalah anak pemilik restoran Italia, Smith Resto yang kini berubah jadi Marlene Resto.


“Apa aku minta dia untuk potong jambangnya dulu. Agar aku bisa memastikan jika dia adalah pria itu?” Lavelle bertanya pada dirinya sendiri. “Bagaimana bisa aku memintanya seperti itu? Itu tidak sopan.” Lavelle menggeleng. “Aku harus bagaimana?” Lavelle mengusap wajahnya.


Lavelle benar-benar berada di dalam dilema. Dia tidak yakin dengan pria yang ditemui kemarin. Walaupun mirip, tapi hatinya mengatakan jika bukan pria itu yang tidur bersamanya.


“Aku akan mencoba meminta bertemu dengannya saja. Memastikan sekali lagi jika itu adalah pria yang tidur denganku waktu itu.” Lavelle segera meraih ponselnya. Mencoba menghubungi Liam lagi.


...****************...


Suara ponsel yang terdengar, membuat Loveta yang sedang merias wajahnya, mengalihkan pandangan. Dilihatnya ponsel Liamlah yang berdering.


Rasa penasaran Loveta mengantarkannya melihat layar ponsel Liam. Tertulis ‘Lavelle-manajer FFS’ di layar ponsel Liam.


“Apa dia orang yang ditemui Kak Liam kemarin?” Loveta bertanya pada dirinya sendiri.


Tetap saat Loveta sedang melihat layar ponsel, Liam keluar dari kamar mandi. Liam  mendengar suara ponselnya berdering, ditambah istrinya yang sedang melihat ke arah ponselnya.


“Siapa, Sayang?” tanya Liam.


Loveta langsung menoleh ketika mendengar suara suaminya. “Lavelle.” Dia menjawab siapa yang menghubungi suaminya itu.

__ADS_1


“Angkat saja.” Liam dengan enteng meminta sang istri mengangkat sambungan teleponnya. Dia memilih berlalu untuk mengambil baju di lemari.


Loveta memikirkan sejenak permintaan sang suami. Melihat sang suami yang mengabaikan telepon dan justru pergi, membuatnya merasa bingung.


“Aku angkat?” Loveta memastikan lagi.


“Iya, angkat saja.” Liam memakai kemejanya.


Mendapati izin dari sang suami, membuat Loveta segera menerima sambungan telepon tersebut.


“Halo,” sapa Loveta.


Untuk sejenak Lavelle di seberang sana terdiam. Dia cukup terkejut ketika mendengar suara wanita. Namun, beberapa saat kemudian, dia tersadar.


“Selamat pagi. Apa Pak Wiliam ada?” Lavelle di seberang sana bertanya dengan sopan.


“Pak Wiliam sedang bersiap ke kantor. Jika ada yang ingin disampaikan, boleh sampaikan pada saya.” Saat orang di seberang sopan. Tentu saja Loveta juga sopan.


“Baiklah, tolong sampaikan untuk memberikan kabar kerja sama yang akan dilakukan Marlene Resto dengan Fresh-Fresh Shop. Karena saya harus ke luar kota minggu depan.” Lavelle memang sengaja ingin bertemu Liam. Jadi tentu saja dia memilih alasan bertemu perihal kerja sama.


“Baiklah, saya akan sampaikan.”


“Baik, terima kasih.”

__ADS_1


Loveta segera mematikan sambungan telepon tersebut. Kemudian menghampiri sang suami untuk memberikan ponsel tersebut.


“Wanita di telepon tadi bilang kapan surat kerja samanya jadi.” Loveta menjelaskan sambil memberikan ponsel pada sang istri.


“Suratnya sedang dibuat. Nanti biar aku hubungi dia jika sudah jadi.” Liam menerima ponsel dari sang istri.


Loveta menekuk bibirnya. “Apa dia harus langsung menghubungimu untuk menanyakan itu?” Loveta merasa seharusnya semua itu bisa ditangani asisten Liam. Namun, hal seperti itu ditangani Liam sendiri. Belum lagi yang bersangkutan adalah seorang wanita.


“Aku hanya ingin dia percaya jika kami ingin bekerja sama.” Liam meyakinkan sang istri.


Loveta masih tidak suka. Apalagi yang menghubungi adalah seorang wanita.


“Kamu tidak suka?” tanya Liam menarik tubuh sang istri untuk mendekat.


“Siapa wanita yang suka suaminya bicara dengan wanita lain. Tentu saja semua wanita tidak suka.”


Liam melihat sorot mata cemburu dari sang istri. “Aku sudah bilang padanya jika aku punya istri. Jadi jangan khawatir.” Liam mencoba menenangkan sang istri.


“Kamu pikir wanita-wanita sekarang peduli status. Tentu saja tidak. Yang penting tampan dan mapan. Mereka akan dekati.” Loveta merasa takut jika sang suami tergoda dengan wanita lain. Tidak dipungkiri jika suaminya tampan dan mapan. Jadi pasti jadi incaran para wanita.


“Aku tidak akan melakukannya. Percayalah padaku.” Liam meraih dagu sang istri agar sang istri menatapnya.


Ingin rasanya Loveta percaya, tetapi rasa takutnya jauh lebih besar.

__ADS_1


“Aku percaya padamu.” Loveta memilih memberikan kepercayaan pada Liam.


Sebuah kecupan mendarat di dahi Loveta. Liam merasa jauh lebih tenang. Dia juga tidak berpikir sejauh itu. Karena memang dia sangat mencintai istrinya. Untuk apa melirik wanita lain, jika wanita di depannya saja sangat cantik.


__ADS_2