Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 178


__ADS_3

Akhirnya Loveta mengambil cuti juga. Kandungannya sudah mencapai delapan bulan. Jadi tinggal sebulan lagi dia akan melahirkan. Mami Neta selalu datang ke rumah Loveta untuk menemani Loveta. Alhasil Loveta tidak kesepian.


Siang begitu panas sekali. Loveta sampai memperbesar pendingin ruangan di ruang keluarga. Semakin besar perutnya, dia merasa jika memang selama hamil, dia mudah kepanasan.


“Panas … panas seperti ini enak sekali jika makan es krim gelato.” Loveta membayangkan es krim khas Italia itu. Tentu saja pasti akan sangat menyegarkan sekali.


“Sepertinya di mal dekat sini ada.” Mami Neta memberitahu.


Mendengar hal itu, Loveta langsung berbinar. Dia segera meraih ponselnya untuk menghubungi suaminya. “Sayang, pulanglah.” Tanpa basa-basi Loveta meminta Liam untuk pulang.


“Apa kamu sudah akan melahirkan?” Liam diseberang sana panik.


“Tidak. Aku belum akan melahirkan. Lagi pula masih delapan bulan. Aku hanya ingin makan es krim gelato.” Loveta mencoba menjelaskan.


Liam bernapas lega, karena istrinya memintanya pulang bukan untuk hal itu. Melainkan mau makan sesuatu. “Baiklah, aku akan segera pulang.” Liam tentu saja tidak akan bisa menolak keinginan dari sang istri.


Satu jam kemudian Liam pulang. Dia segera membawa sang istri untuk ke mal yang tak jauh dari rumah mereka. Mencari makanan yang dicari sang istri.


Loveta begitu lahapnya makan es krim miliknya. Karena terbuat dari buah asli, jadi terasa segar sekali. Hingga setiap suapan yang masuk ke mulut tak bisa dilepaskan begitu saja.


“Kamu mau aku harus stay di rumah berapa hari sebelum tanggal melahirkan?” Liam menatap sang istri yang sedang asyik makan.

__ADS_1


Mendapati pertanyaan itu, Loveta tampak berpikir. Kapan seharusnya suaminya mulai di rumah. “Kalau di akhir sembilan bulan. Sepuluh hari sebelum perkiraan melahirkan.” Loveta memberikan saran.


“Baiklah.” Liam merasa tidak masalah. Karena pekerjaanya bisa dibawa ke rumah.


 


...****************...


Benar saja. Memasuki akhir sembilan bulan, Liam memutuskan untuk bekerja dari rumah. Sekalian mengawasi sang istri. Mulai memasuki akhir bulan ke sembilan, Mama Arriel mulai intens ke rumah. Sebelum berangkat bekerja, dia menyempatkan diri untuk datang. Mengecek keadaan Loveta.


Mami Neta dan Papi Dathan justru mulai tinggal di rumah Loveta dan Liam. Mereka tidak bisa membiarkan anak pertama mereka sendiri menjelang melahirkan.


Danish dan Nessia terpaksa ikut mami dan papinya. Tak mau di rumah sendiri. Alhasil, rumah menjadi ramai. Tentu saja itu membuat Loveta dan Liam senang.


Liam membawakan segelas jus buah untuk sang istri. Menyegarkan sang istri yang baru saja berolahraga.


“Terima kasih.” Loveta segera meminum jus yang dibuatkan oleh sang suami. Rasanya nikmat ketika benar-benar haus dan diberikan jus oleh suaminya.


“Sama-sama.” Liam membelai lembut perut Loveta. Dia semakin gemas dengan perut Loveta yang sudah semakin membesar.


Mami Neta dan Papi Dathan yang melihat pemandangan romantis itu tersenyum. Mengingatkan mereka pada masa lalu di mana ketika Mami Neta hamil si kembar.

__ADS_1


“Apa dulu papi dan mami semesra Kak Cinta dan Kak Liam?” Nessia begitu penasaran sekali.


“Tentu saja, papi adalah orang yang sangat romantis.” Papi Dathan membanggakan diri.


Nessia percaya karena di usia papinya yang sudah kepala enam saja, dia masih begitu romantis sekali. Jadi jelas pasti waktu muda papinya sangat romantis.


“Aku juga mau punya suami yang romantis.” Nessia membayangkan hal indah itu setelah melihat sendiri orang tua dan kakaknya.


“Pacar saja tidak punya membayangkan suami.” Danish tertawa.


“Suka sekali merusak kebahagiaan orang.” Nessia memukul saudara kembarnya itu.


Mami Neta dan Papi Dathan hanya bisa pasrah ketika dua anaknya itu berdebat. Karena memang itu sudah menjadi hal biasa.


Loveta yang selesai berolahraga segera menyegarkan diri dengan membersihkan tubuhnya. Liam mulai bekerja di kamar. Selama menunggu waktu melahirkan sang istri, memang dia mengerjakan pekerjaan dari rumah.


Loveta keluar dari kamar mandi seraya mengusap rambutnya yang basah. Dia buru-buru mengganti bajunya dan menghampiri sang suami.


“Apa banyak pekerjaan hari ini?” tanya Loveta.


“Tidak banyak.” Karena Loveta berdiri tepat di samping Liam, dia dapat membelai perut sang istri dengan mudah. Tak hanya membelai, Liam juga mendaratkan kecupan di perut sang istri.

__ADS_1


“Ach ….” Baru saja dicium tiba-tiba Loveta merasa sakit.


“Sayang, kenapa?” Liam panik ketika melihat sang istri yang tiba-tiba kesakitan.


__ADS_2