
Seorang wanita paruh baya menghampiri Liam. “Liam, kapan kamu kembali dari luar negeri?” tanya wanita tersebut langsung mencubit pipi Liam.
“Saya baru kemarin datang, Bi.” Liam memaksakan senyumnya.
“Bibi sudah lama sekali tidak bertemu denganmu.” Kedua tangan wanita itu mencubit pipi Liam.
Loveta merasa heran sekali karena wanita paruh baya itu terlihat begitu dekat sekali dengan Liam. Sampai mencubit pipi Liam.
“Hai, siapa wanita cantik ini?” Wanita paruh baya itu melihat Loveta.
Loveta tersenyum ketika wanita itu mengalihkan pandangan padanya.
“Dia istriku, Bi.” Liam mencoba menjelaskan pada Bibi Anne.
Bibi Anne adalah teman mamanya dulu. Sejak dirinya kecil dia begitu gemas sekali. Sampai-sampai selalu mencubit pipinya. Dulu Liam selalu menghindar jika bertemu. Karena tidak mau pipinya jadi sasaran.
Sampai Liam sebesar pun Bibi Anne masih melakukannya. Membuat Liam selalu menghindar.
“Kamu menikah tidak mengabari Bibi. Anak nakal!” Bibi Anne menjewer telinga Liam.
“Auch ... sakit, Bi.” Liam selalu tersiksa ketika bertemu Bibi Anne.
“Hai, aku Bibi Anne, teman Mama Liam.” Bibi Anne memperkenalkan diri.
“Saya Loveta.” Loveta memperkenalkan diri.
__ADS_1
“Kamu cantik sekali?” Bibi Anne menatap Loveta berkaca-kaca. “Pasti Marlene jika melihat menantunya pasti akan senang.” Bibi Anne membelai lembut pipi Loveta.
“Terima kasih.” Loveta tersenyum.
“Kamu menikah di mana? Kenapa tidak mengundang Bibi?” Bibi Anne beralih pada Liam lagi.
Liam merasa tidak enak sekali karena menikah tanpa memberitahu Bibi Anne. Padahal Bibi Anne menganggapnya seperti anaknya.
“Aku menikah di Indonesia. Nanti aku akan buat pesta dan mengundang Bibi.” Liam akhirnya berpikir untuk membuat pesta kecil-kecilan untuk merayakan pernikahannya dengan Loveta bersama dengan keluarga di sini.
“Baguslah, undanglah aku jika acaranya sudah siap.” Bibi Anne kembali mencubit Liam.
Liam tetap saja kena dari Bibi Anne. Dia pikir Bibi Anne tidak akan melakukannya.
Bibi Anne baru datang. Hal itu membuat Liam akhirnya buru-buru pergi. Karena takut jadi sasaran lagi. Lagi pula makannya sudah selesai.
...****************...
“Apa Kak Liam benar-benar akan mengadakan pesta?” tanya Evelyn teringat dengan ucapan Liam tadi.
Liam yang sedang menyetir melihat istrinya dari pantulan kaca di atas dasboard mobil.
“Sepertinya tidak ada salahnya untuk membuat pesta, tapi setelah urusan pekerjaan selesai tentunya.” Saat menatap istrinya. Matanya seolah bertanya pada sang istri.
Loveta tersenyum. Merasa jika tidak masalah jika Liam akan mengadakan pesta kecil-kecilan.
__ADS_1
Liam senang ketika ternyata Loveta juga ikut senang dengan keputusannya.
“Aku akan bantu siapkan semua.” Evelyn tentu saja tidak mau kalah. Dia akan membantu kakak sepupunya.
“Baiklah.” Liam setuju. Dia yakin adik iparnya akan mengurusnya semua.
...****************...
“Apa kamu keberatan mengadakan acara pesta di sini?” Saat sang istri berada di pelukan, Liam bertanya.
“Tentu saja tidak. Aku rasa kita memang harus membagi kebahagiaan kita sedikit di sini.” Loveta menengadah. Melihat sang suami.
“Terima kasih kamu mau mengerti.” Liam mendaratkan kecupan di bibir sang istri.
“Kapan kira-kira kita akan mengadakan pesta?” Loveta begitu penasaran sekali.
“Sepertinya setelah pekerjaanku selesai saja. Masih banyak yang harus aku kerjakan.” Liam membelai lembut rambut sang istri.
Loveta mengangguk. Merasa jika tidak ada salahnya jika menunggu urusan selesai.
“Sekarang tidurlah. Besok kita harus ke makam pagi.” Liam mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Loveta membalas pelukan itu. Memejamkan matanya untuk segera tidur. Besok adalah hari panjang. Karena dari makam dia harus ke pabrik melihat pembuatan sepatu. Jadi dia harus menyimpan tenaga untuk esok.