Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 167


__ADS_3

Loveta mengejar Leo. Sayangnya, Leo sudah masuk mobil saat Loveta mengejarnya. Karena tidak mau sampai kehilangan jejak Leo, Loveta mempercepat langkah kakinya.


“Sayang.” Liam menarik Loveta ketika Loveta berusaha untuk setengah berlari.


Loveta langsung menoleh ke belakang. Tampak suaminya menatapnya dengan tajam.


“Apa kamu tidak bisa menjaga dirimu dengan baik? Apa kamu tidak sadar jika kamu sedang hamil?” Liam tadi dibuat panik ketika melihat sang istri hampir berlari. Karena itu dengan cepat dia mengejarnya. Menghentikan aksi istrinya itu.


Loveta terdiam. Dia tersadar jika baru saja dia nyaris berlari. Padahal harusnya dirinya berhati-hati karena sedang dalam keadaan hamil.


“Maaf.” Loveta menyesal sekali dengan apa yang baru saja dilakukannya.


Melihat sang istri yang tampak bersalah, tentu saja membuat Liam tidak tega. “Kenapa kamu nyaris berlari?” Dia ingin tahu alasan sang istri.


Mendapati pertanyaan itu Loveta mengalihkan pandangan ke pintu lobi. Taksi yang dinaiki Leo sudah tidak ada. Artinya Loveta sudah kehilangan jejak Leo.

__ADS_1


Liam ikut mengalihkan pandangan pada apa yang dilihat Loveta. Tampak sang istri melihat ke arah Lobi. Sayangnya, tidak ada apa-apa di sana.


“Apa yang kamu lihat?” tanya Liam.


“Aku lihat Leo dan mamanya tadi.” Loveta menjelaskan apa yang dilihatnya tadi.


Dengan segera Liam melepaskan tangannya yang menggenggam sang istri. Dia berlari ke arah lobi untuk mengecek keberadaan Leo. Sayangnya, tidak ada siapa-siapa di sana.


Loveta menghampiri Liam. Dilihatnya taksi yang membawa Leo sudah pergi. “Dia sepertinya sudah pergi.”


Mendengar itu Liam jadi sedikit menyesal. Jika tadi di tidak ke toilet, mungkin dia bisa bertemu dengan adik tirinya itu. Sampai detik ini saja, tidak ada yang dapat informasi tentang Leo. Masalahnya Leo bukan orang hilang yang bisa dilaporkan ke polisi. Jadi memang susah mendapatkan informasi keberadaan Leo.


Loveta sedikit menyesali. Karena dia tidak bisa mengejar Leo. Namun, percuma disesali, karena itu sudah terjadi.


...****************...

__ADS_1


“Bagaimana keadaan Lavelle sekarang?” Tiba-tiba Loveta teringat dengan Lavelle. Dia menatap sang suami yang sedang menyetir.


“Aku belum bertemu dengannya sejak kita pulang dari luar negeri. Ditambah aku sibuk jadi aku tidak pernah menghubunginya.”


“Coba hubungi dia, tanyakan kabarnya. Apa dia mual selama kehamilan seperti aku? Atua dia lemas seperti aku?” Karena sama-sama hamil, Loveta jadi teringat dengan kehamilan Lavelle.


“Kamu saja yang hubungi. Jika aku yang menghubungi. Jelas itu tidak pas. Jika kamu yang hubungi, kalian sama-sama wanita.” Liam menarik senyum tipis. Permintaan sang istri sedikit menggelitiknya.


Loveta merasa apa yang dikatakan sang suami benar. Jika suaminya yang menghubungi, pasti akan jadi salah paham.


“Baiklah, aku akan hubungi.” Loveta mengambil ponsel Liam. Mencari nomor Lavelle. Kemudian memindahkan nomor itu ke ponselnya. Dengan segera Loveta menghubungi Lavelle. Sayangnya, nomor telepon Lavalle tidak bisa dihubungi. “Nomornya tidak aktif.” Loveta menjelaskan.


Liam sedikit terkejut. Dia merasa heran kenapa bisa nomor Lavelle tidak bisa dihubungi.


“Apa dia baik-baik saja?” Loveta benar-benar khawatir.

__ADS_1


“Besok aku akan suruh orang untuk ke kantornya. Jadi jangan pikirkan itu.” Liam memilih jalan tengah. Karena memang dia cukup khawatir juga. Jika Lavalle hamil, artinya anak yang dikandung adalah keponakannya. Jadi dia harus tahu keadaan Lavelle.


Loveta berharap jika Lavelle baik-baik saja. Pastinya berat dalam keadaan hamil, tidak ada suami di sisinya.


__ADS_2