
Gedung sudah didapatkan oleh Liam. Liam mulai merenovasi bagian di dalamnya. Membagi ruangan untuk digunakan sesuai dengan fungsinya.
Kebetulan Liam menggunakan jasa dari Adion sekaligus. Karena merasa percaya dengan Adion.
Selama dua minggu pembangunan kantor berlangsung. Selama itu juga Liam disibukkan dengan kegiatan kantor baru. Liam memang mulai memindahkan karyawannya ke gedung tersebut. Walaupun belum mulai bekerja, karyawannya pun mulai membantu merapikan ruangan yang akan dipakai mereka.
Ada lima lantai yang terdapat di gedung tersebut. Lantai pertama adalah lobi. Lantai dua dan tiga dipakai untuk kantor Marlene Shoes, lantai empat dipakai untuk Marlene Restoran. Liam sudah memutuskan untuk mengganti nama restoran dengan nama kembali dengan nama ibunya. Dia juga sedang mengurus pergantian nama itu.
Untuk lantai lima adalah ruangan khusus untuk Liam ada ruang rapat dan juga ruang untuk menerima tamu. Sengaja Liam menyiapkan ruangan itu di lantai atas agar dapat nyaman bekerja sambil melihat pemandangan indah dari ketinggian.
Selama sibuk dua minggu ini waktunya bersama sang istri sangat berkurang. Namun, Loveta selalu saja mengerti keadaan sang suami. Jadi tidak pernah melayangkan protes.
Mengingat hari ini Liam pulang lebih awal, Liam menjemput sang istri dan mengajaknya untuk pergi makan malam bersama. Memesan restoran di rooftop untuk menikmati suasana malam.
“Maaf beberapa hari ini aku sibuk sekali.” Selama dua minggu ini setelah pulang ke apartemen, Liam selalu langsung bekerja kembali. Membiarkan sang istri sendiri.
“Tidak apa-apa. Aku mengerti sekali.” Loveta memang tidak mau mengganggu sang suami bekerja. Jika tidak mengganggu, pastinya pekerjaan sang suami akan jauh lebih cepat selesai.
Lagi pula selama sang suami bekerja, Loveta justru ikut bekerja. Dia menggambar beberapa desain. Sekarang dia sedang ajukan ke mamanya. Untuk dicek apakah layak untuk diproduksi di toko.
“Tapi, setelah ini pekerjaanku sudah berkurang. Jadi aku janji akan menemanimu.” Liam meraih tangan sang istri. Meyakinkan sang istri.
__ADS_1
“Apa gedung sudah siap?” tanya Loveta berbinar. Dia sangat berharap pekerjaan sang suami dapat selesai dengan baik.
“Iya, gedung sudah bisa beroperasi Senin besok.” Liam bersyukur sekali. Karena pekerjaan sudah mulai berkurang.
“Wah ... pasti akan sangat seru bekerja di gedung baru.” Loveta tak kalah bahagianya. Dia ingin melihat Liam sukses di sini. Membangun usahanya di sini.
“Iya, aku mau kamu ,papi, mami, dan Bu Kania datang. Menemani aku pembukaan gedung.” Liam mau keluarga sang istri ikut andil dalam proses kariernya. Apalagi keluarga Fabrizio sangat berperan dalam hidupnya.
“Sebaiknya kita ke datang ke panti asuhan dan rumah mami dan papi untuk mengatakannya.” Loveta pun memberikan ide pada Liam.
Liam merasa jika ide sang istri cukup baik. Besok mereka libur. Jadi paling tidak merek dapat ke rumah mami dan papinya.
“Baiklah, besok pagi kita ke panti asuhan, lalu setelah itu kita baru menginap di rumah mami dan papi.” Loveta memberikan ide pada sang suami.
Mereka berdua menikmati makan malam. Makan malam kali ini begitu hangat. Apalagi mereka berdua sudah lama tidak makan malam di luar seperti ini.
Saat mereka sudah selesai makan, mereka langsung bergegas untuk pulang. Apalagi suda larut malam. Mereka baru pulang kerja. Jadinya pasti sangat lelah sekali.
“Bolehkah nanti kita mampir ke apotek sebentar?” Baru saja Liam hendak melajukan mobilnya, tiba-tiba Loveta sudah mengatakan hal itu.
Liam langsung mengalihkan pandangan pada Loveta.
__ADS_1
“Kamu sakit dan mau membeli obat?” tanya Liam.
“Tidak, aku tidak sakit.” Loveta mencoba menjelaskan pada sang suami yang tampak panik.
“Lalu kenapa meminta untuk ke apotek?” tanya Liam kembali.
Loveta ragu sebenarnya. Namun, dia memikirkan jika pastinya Liam sangat khawatir padanya jika tidak menjelaskan.
“Aku ingin membeli alat tes kehamilan.” Ragu-ragu Loveta menjelaskan.
Liam membulatkan matanya. Tidak menyangka jika Loveta ingin membeli alat tersebut.
“Apa kamu sudah terlambat datang bulan?” Liam begitu penasaran sekali.
“Iya, aku terlambat datang bulan sudah tiga hari. Jadi aku penasaran sekali ingin mengeceknya. Sebenarnya aku tidak mau memberitahu kamu, takut kamu kecewa jika ternyata hasilnya negatif. ” Loveta menjelaskan apa yang ingin dilakukannya. Sebenarnya dia ingin diam-diam saja.
Liam tersenyum. “Cobalah besok. Agar mengurangi rasa penasaranmu. Jika masih negatif. Kita bisa mencoba lagi.” Liam tidak mempermasalahkan hal itu. Dia mengerti bagaimana sang istri yang penasaran. Jadi dia merasa tidak ada salahnya jika istrinya melakukannya.
“Terima kasih.” Loveta senang sang suami mengerti dirinya.
“Aku ingin kamu bahagia. Jadi jika pun besok hasilnya masih belum sesuai. Jangan sedih.” Liam justru meyakinkan sang istri. Mendaratkan kecupan di punggung tangan sang istri.
__ADS_1
Loveta tak bisa berkata-kata. Dia memilih suami yang luar biasa baiknya. Mengerti dirinya dan selalu menenangkan. Terkadang Loveta masih bersyukur dengan gagalnya pernikahannya. Paling tidak, Loveta bisa bersama dengan Liam saat ini.