Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 116


__ADS_3

Loveta dan Liam memutuskan untuk ke rumah Mama Arriel. Kebetulan sang mama sedang ada di rumah.


“Kalian dari apartemen?” tanya Mama Arriel ketika  menautkan pipi pada sang anak.


“Kami dari rumah papi. Semalam menginap di sana.” Loveta menjelaskan pada sang mami.


“Kalian menginap di sana terus. Lalu kapan menginap di sini?” Mama Arriel merasa sedikit iri. Karena memang Loveta lebih dekat ke mantan suaminya.


Papa Adriel hanya tersenyum melihat aksi sang istri yang cemburu. Wajar saja sang istri cemburu, mengingat Loveta anak perempuan satu-satu.


Loveta menoleh ke arah Liam. Sebuah anggukan dari Liam membuat Loveta paham. “Aku janji akan menginap minggu depan, Ma.” Loveta meraih tangan sang mama. Meyakinkan sang mama.


“Baiklah.” Mama Arriel langsung berbinar.


Mereka masuk ke rumah. Mengobrol di ruang keluarga.  Mama Arriel juga menyajikan makanan ringan. Saat Loveta mengatakan jika mau datang, Mama Arriel langsung membuatkan makanan untuk anaknya.


“Jadi kami ke sini untuk meminta Mama dan Papa datang besok ke acara pembukaan kantor.” Liam menyampaikan apa yang membuatnya datang ke rumah mertuanya itu.


“Kantor sudah jadi?” tanya Papa Adriel memastikan.


“Sudah, Pa.” Liam mengangguk.


“Aku turut senang akhirnya kantor sudah jadi. Jadi kamu bisa bekerja dengan tenang di sini.” Sebagai orang yang mengenal Liam sejak kecil Adriel cukup bangga. Liam tumbuh baik dan pandai sekali.

__ADS_1


“Akhirnya kamu punya kantor juga di sini. Artinya kamu akan lebih banyak menetap di sini.” Mama Arriel jauh lebih tenang saat Liam memiliki kantor di sini. Sebenarnya sejak anaknya menikah dengan Liam, ada perasaan takut di hatinya. Bukan tanpa alasan perasaan takut itu hadir. Ketakutan itu disebabkan karena berpikir Liam akan membawa anaknya ke luar negeri. Mama Arriel tidak bisa jauh dari anaknya.


“Iya, Ma. Nanti kami tinggal akan cari rumah saja.” Loveta tersenyum.


“Rumah nenekmu kosong. Jika kamu mau menempati, tempati saja.” Mama Arriel menawarkan rumah peninggalan mamanya. Sejak mamanya meninggal rumah itu kosong.


“Rumah itu terlalu besar, Ma. Aku mau yang ukurannya lebih kecil.” Loveta merasa jika rumah tersebut tidak pas untuknya. Ukuran yang luas membuat rumah begitu besar. Untuk keluarga kecil sepertinya, rumah  seperti itu tidak cocok sama sekali.


“Kamu benar. Apalagi kalian hanya masih berdua. Rumah itu terlalu besar.” Mama Arriel membenarkan ucapan sang anak.  “Kalau begitu carilah rumah yang ukurannya pas untuk kalian. Nanti Mama akan bantu isi di dalamnya.” Sebagai orang tua, Mama Arriel ingin turut andil dalam kebahagiaan anaknya.


“Tentu saja.” Loveta langsung mengangguk. Mempersilakan mamanya untuk memberikan apa yang akan dibutuhkan di rumah baru.


Mereka mengobrol bersama. Menceritakan bisnis yang sedang dijalani Liam. Tentang restoran yang sedang dikelola Liam.


Liam mengerti kode yang diberikan oleh Liam karena itu dia langsung memberanikan diri untuk berbicara.


“Ma, aku ingin mengajak kerja sama Malya Jawelry untuk berkolaborasi dengan Marlene Shoes.” Liam mengungkapkan niatnya itu pada ibu mertuanya.


Loveta membulatkan matanya. Alih-alih bicara masalah izin ke luar negeri, sang suami justru mengatakan jika akan bekerja sama.


“Kerja sama apa?” Mama Arriel bingung dengan ucapan menantunya.


“Sepatu pernikahan yang dipakai Cinta waktu itu cantik sekali. Jadi aku dan Cinta berencana membuat sepatu seperti itu. Agar para wanita yang mau menikah dapat memakai sepatu yang cantik.” Liam mencoba menjelaskan pada mertuanya itu apa yang ingin dikerjakan.

__ADS_1


Mama Arriel mengingat bagaimana sepatu Loveta yang cantik itu dibuat. Dulu dia sempat berpikir hal itu. Namun, ternyata Liam dan Loveta sudah memikirkannya.


“Itu ide bagus.” Mama Arriel langsung setuju. Ini akan jadi kolaborasi besar. Marlene Shoes sudah merupakan toko internasional. Jadi paling tidak Malya Jawelry akan ikut terkenal.


Liam merasa senang karena akhirnya mama mertuanya setuju dengan idenya.


“Karena itu aku ingin membawa Cinta ke Italia selama sebulan sekalian untuk Cinta mempelajari sepatu buatan Marlene. Jadi Cinta bisa menentukan seperti apa sepatu yang pas untuk dipakai wanita Indonesia.” Liam memang sengaja menyelipkan kerja sama agar lebih mudah mendapatkan izin. Sekalian selama dua minggu bekerja, istrinya tidak akan bosan karena akan ada kegiatan sendiri.


“Apa selama itu?” Tidak bertemu anaknya selama sebulan pasti sangat berat untuk Mama Arriel. Apalagi sekarang di toko Loveta sudah bisa diandalkan.


“Iya, Ma. Sebulan itu sekalian kami akan bulan madu. Karena kemarin kami hanya pergi ke Bali tempo hari, jadi masih kurang.” Loveta menambahkan agar mamanya mengizinkan.


Mama Arriel menimbang apa yang dikatakan anaknya. Sebagai orang tua, dia harus paham dengan kebutuhan pengantin baru. Mama Arriel juga menimbang jika anaknya ke sana juga demi kerja sama yang akan dibuat. Tentu saja itu akan menguntungkan tokonya.


“Baiklah, Mama izinkan kamu sebulan ke Italia, tapi kamu harus pelajari juga sepatu dari Marlene agar kita bisa bekerja sama dengan baik.” Akhirnya Mama  Arriel memberikan izin.


“Iya, Ma. Aku akan pelajari sepatu dan mencari sepatu yang pas untuk kita kolaborasi.” Loveta pun memberikan janjinya.


Mama Arriel mengangguk. Mempercayakan pada anaknya.


Loveta dan Liam begitu senang sekali. Akhirnya Mama Arriel mengizinkan juga. Dengan begini, mereka akan jauh lebih tenang pergi.


 

__ADS_1


 


__ADS_2