Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 79


__ADS_3

“Kak, cincinnya masih ada padaku. Apa Kak Liam bisa ambil?” Loveta menghubungi Liam ketika mendapati jika cincin lamaran Liam ada padanya.


“Astaga, aku lupa memintanya.” Liam di seberang sana sedikit panik. “Tapi, aku tidak bisa kembali ke toko. Aku sedang ada urusan mendadak dan penting. Jadi aku harus menyelesaikannya sebelum malam nanti.” Liam mencoba menjelaskan pada Loveta.


“Lalu bagaimana?” tanya Loveta. Dia juga bingung harus berbuat apa.


“Maukah kamu mengantarkannya nanti malam. Aku akan menunggu di restoran.” Liam memberikan ide pada Loveta.


Sejujurnya Loveta malas sekali. Apalagi harus melihat Liam melamar wanita lain. Namun, jika tidak datang mengantarkan cincin, pasti Liam akan sangat kecewa. Apalagi dia sudah mempersiapkan dengan matang rencana lamarannya itu.


“Baiklah, aku akan ke restoran nanti malam.” Akhirnya Loveta setuju untuk datang ke restoran nanti malam.


...****************...


Loveta bersiap untuk pergi ke restoran. Dia memandangi wajahnya dari pantulan cermin. Hari ini entah kenapa dia ingin tampil cantik. Padahal jelas-jelas ini bukan acaranya.


“Paling tidak aku harus lebih cantik dari calon istri Kak Liam.” Rasa tidak terima di hati Loveta ingin lebih unggul. Walaupun pada akhirnya Liam tidak melihatnya.


Loveta segera bersiap untuk ke restoran. Saat turun ke lantai bawah, dia melihat orang tuanya yang sedang di ruang keluarga.

__ADS_1


“Kamu mau ke mana, cantik sekali?” Mami Neta melihat sang anak yang tampak berdandan cantik malam ini.


“Kamu ada kencan?” Papi Dathan menebak.


Loveta bingung menjawab apa. Dia hanya akan mengantarkan cincin. Bukan akan berkencan.


“Tidak.” Loveta menggeleng.


“Lalu kamu mau ke mana secantik ini?” Mami Neta begitu penasaran sekali.


“Aku hanya mengantarkan cincin untuk Kak Liam.” Dengan berat hati Loveta menjelaskan.


“Aku berangkat dulu.” Loveta langsung bergegas berangkat. Tak mau membuat Liam menunggu.


Perjalanan ke restoran memakan waktu setengah jam. Saat sampai karyawan meminta Loveta untuk naik ke lantai atas menemui Liam.


Saat sampai di lantai paling atas, Loveta melihat dekorasi bunga yang begitu indah. Tadi memang Liam memesan bunga, tetapi tidak menyangka jika akan didekor secantik itu. Lampu yang temaram membuat suasana begitu romantis sekali. Sebagai wanita, Loveta tentu terpukau. Iri sekali ketika melihat ada wanita yang mendapatkan cinta sebesar itu. Sejak menjalin hubungan dengan Leo, memang Loveta tidak pernah mendapatkan kejutan apa-apa. Jadi ketika melihat seperti ini, dia merasa kagum.


Ketika melihat dekorasi, Loveta tidak mendapatkan keberadaan Laia di lantai atas. Padahal tadi pramusaji mengatakan Liam di lantai atas.  

__ADS_1


Loveta pun berinisiatif untuk menghubungi Liam. Menanyakan keberadaan Liam.


“Halo, Cinta.” Suara Liam terdengar di sambungan telepon.


“Kak, aku sudah di restoran. Kak Liam di mana?” Loveta bertanya seraya mengedarkan pandangan mencari Liam.


“Aku sedang menuju ke sana. Kamu bisa taruh cincinnya di atas meja yang berada di tengah-tengah itu saja.”


Mendapatkan instruksi dari Liam, Loveta mengalihkan pandangan pada meja yang berada di tengah ruangan. Meja itu rapi dengan lilin di tengahnya. Tampak indah sekali.


“Baiklah, aku akan taruh di sana.” Loveta segera mematikan sambungan telepon. Kemudian menuju ke meja tersebut.


Sebelum meletakkan kotak cincin tersebut, Loveta melihat apa saja yang ada di atas meja dan sekitarnya. Loveta baru menyadari jika bunga berbentuk love.


“Kak Liam romantis sekali.” Loveta mengomentari apa yang dilakukan Liam.


Loveta segera meletakkan kotak cincin di atas meja. Kemudian berbalik untuk meninggalkan tempat romantis yang disiapkan Liam untuk calon istrinya.


Baru saja langkah Loveta diayunkan satu langkah, tiba-tiba lampu mati. Loveta langsung menghentikan langkahnya karena jalanan tak terlihat.  

__ADS_1


“Halo, ada orang ....” Loveta berusaha memanggil siapa pun yang ada. Sayangnya, tidak ada siapa pun yang datang.


__ADS_2