Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 115


__ADS_3

Liam mengobrol dengan mertuanya di taman belakang. Cuaca pagi yang cerah membuatnya melihat ke taman belakang yang indah. Sambil menikmati secangkir teh hangat.


“Sudah sebulan menikah, apa yang kamu rasakan?” Papi Dathan menatap Liam yang duduk tepat di depannya.


“Sangat bahagia. Apalagi menikah dengan orang yang kita cintai.” Liam mengulas senyumnya.


Papi Dathan ikut tersenyum. “Terkadang hidup memang adalah pilihan. Jika bisa memilih menikah dengan orang yang kita cintai kenapa tidak. Bagus kamu berjuang untuk menikah dengan orang yang kamu cintai. Karena menikah bukan perjalanan satu atau dua hari. Lalu jika tidak mencintai orang yang kita nikahi, pastinya pernikahan akan sangat sulit.” Papi Dathan berbagi sedikit pengalaman hidupnya. Menikah dengan orang yang kita cintai membuat hidup lebih berwarna.


Liam mengangguk. Membenarkan ucapan sang mertua. Pernikahan adalah perjalanan panjang. Jadi wajar jika harus memilih yang dicintai.


“Kalian buru-buru memiliki momongan?” tanya Papi Dathan seraya menyeruput teh manis miliknya.


“Kami tidak buru-buru juga tidak menunda, Pi. Kapan pun Tuhan memberikan pastinya kami akan siap.” Liam memang santai. Lagi pula dia masih menikmati indahnya berpacaran dengan sang istri.


“Iya, benar. Nikmati dulu waktu bersama sambil menunggu.” Papi Dathan mendukung keputusan anak-anaknya. 


Di dapur, Loveta sedang membantu sang mami untuk memasak sarapan. Sudah cukup lama Loveta tidak menikmati waktu bersama sang mama seperti ini.


“Kemarin aku cek kehamilan memakai alat tes kehamilan, Mi.” Loveta menceritakan apa yang dilakukannya kemarin.


Mami Neta yang sedang memotong sayur, menoleh ke arah Loveta. “Lalu hasilnya?” tanyanya penasaran.

__ADS_1


“Negatif.” Loveta menjawab lemas.


Mami Neta melihat raut wajah kecewa pada anaknya. “Jangan bersedih. Jika belum diberikan anak, artinya kalian masih diberikan waktu berdua dulu.” Mami Neta mencoba mendukung sang anak.


“Kak Liam juga bilang begitu, tapi aku merasa tetap sedih.” Loveta meluapkan kesedihannya itu.


“Sudah jangan bersedih. Kalian mau ke Italia. Siapa tahu anakmu memang mau dibuat di sana. Jadi dia belum hadir sekarang.” Mami Neta menggoda sang anak. “Made in Italia. Keren ‘kan?” tanya Mami Neta lagi.


Loveta yang sedih langsung tertawa. “Seperti merk sepatu Liam saja.”


Mami Neta juga langsung tertawa mendengar ucapan anaknya. Merasa lucu sekali.


Dua wanita itu asyik sekali tertawa. Mengisi keheningan di dapur.


“Mau tahu saja.” Mami Neta menggoda anaknya tersebut.


“Kita sedang membicarakan pernikahanmu.” Loveta menggoda adiknya.


“Kenapa membahas pernikahanku.” Nessia melirik sang kakak kesal.


“Iya, karena kamu terlalu banyak menonton film romantis. Takut-takut kamu tergoda untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.” Loveta menyindir sang adik.

__ADS_1


“Enak saja, aku tidak akan melakukan hal seperti itu.” Loveta tidak terima dengan tuduhan sang kakak.


“Bagus kalau begitu. Jika tidak, aku akan segera meminta papi dan mami menikahkan kamu dengan kakek-kakek.” Loveta langsung tertawa menggoda adiknya.


“Tidak apa-apa jika kakek-kakek masih tampan dan memesona.” Nessia balik menggoda kakaknya.


Loveta langsung membulatkan matanya. Adiknya memang pencinta pria dewasa. Sampai kakek-kakek pun mau.


Nessia tersenyum. Kakaknya kena juga dikerjai.


“Sudah-sudah jangan berdebat.” Mami Neta langsung menghentikan aksi dua putrinya yang sedang bertengkar.


Nessia pun menjulurkan lidahnya menggoda sang kakak. Loveta juga membalasnya. Di hadapan sang adik, memang kadang Loveta tegas, tetapi kadang tidak. Tergantung dengan situasi.  


Tak mau membuat maminya kesal, Loveta dan Nessia langsung melakukan apa yang diminta sang mami. Mereka berdua membantu Mami Neta.


Loveta dan Nessia langsung menghentikan aksinya. Melanjutkan membantu sang mami.


“ Jadi kalian akan ke rumah Mama Arriel?” tanya Mami Neta di tengah-tengah memasak.


“Iya, Mi. Setelah sarapan kami akan ke sana. Kebetulan mama juga sedang ada di rumah.” Tadi Loveta sudah menghubungi mamanya untuk datang ke sana.

__ADS_1


“Titip salam pada mamamu.” Mami Neta tersentuh.


 Loveta langsung mengangguk


__ADS_2