Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 110


__ADS_3

“Kamu duduk saja.”  Loveta mendorong tubuh Liam untuk keluar dari dapur.


“Tidak mau.” Liam mau melihat sang istri. Jadinya tetap mau melakukannya.


Loveta merasa sedikit kesal. Karena ternyata suaminya memaksa untuk tetap tinggal.


“Baiklah, tapi jangan ganggu aku.” Loveta memberikan peringatan pada Liam.


“Iya.” Liam mengangguk.


Loveta memasak. Kali ini dia ingin membuat sop daging. Membayangkan kuah bening tentu saja sangat menyegarkan sekali.


Liam memerhatikan sang istri yang sedang memotong-motong sayur. Tampak berkonsentrasi sekali.


“Kamu cantik sekali jika sedang berkonsentrasi seperti ini.” Liam mendaratkan kecupan di pipi sang istri.


“Aku bilang jangan ganggu aku sedang memasak.” Loveta memberikan protesnya.


Liam justru hanya tertawa ketika sang istri melayangkan protesnya.


Loveta terus memasak. Sup daging yang sudah masuk ke dalam panci tampak menggiurkan sekali. Apalagi aromanya yang menyeruak. Membuat siapa saja yang mencium aroma itu merasa ingin segera makan.


“Sepertinya enak sekali.” Liam memeluk sang istri yang sedang mengaduk masakkannya di depan kompor.


Sudah beberapa kali Liam diingatkan untuk jangan mengganggu. Namun, tetap saja dia tidak mendengarkannya. Mulai mencium, sampai memeluk terus dilakukan. Sampai akhirnya Loveta pasrah.


“Tentu saja enak. Kamu terbiasa makan western food. Jadi kamu harus coba melokal.” Loveta tersenyum.

__ADS_1


“Sejak aku tinggal di luar negeri memang aku terlalu sering makan roti. Kadang aku rindu makan masakan di sini.” Liam tersenyum kecut. Liam memang lebih nyaman tinggal di Indonesia. Namun, memang keadaan memaksa untuk tinggal di luar negeri.


Loveta tahu jika Liam pastinya waktu itu berat untuk meninggalkan Indonesia. Namun, dia harus ikut sang mama.


“Makanan apa yang kamu rindukan?” Loveta menoleh sejenak pada Liam.  Kepala Liam yang bersandar di bahunya, membuatnya dapat melihat wajah sang suami.


Liam tampak berpikir. Makanan apa yang sangat dirindukannya.


“Kamu.” Liam menjawab dengan percaya dirinya.


“Aku?” Dahi Loveta berkerut dalam. Merasa jawaban Liam itu aneh.


“Iya, memakanmu.” Liam langsung menggigit pipi Loveta. Seolah akan memakannya.


“Sayang, aku bukan makanan.” Loveta berteriak. Sayangnya, Liam tidak mendengarkan sama sekali. Masih terus menggigitnya


Suasana di dapur jadi ramai. Dua orang tersebut tampak asyik menikmati waktunya. Bagi keduanya waktu berdua memang begitu sangat berarti.


 


...****************...


“Ini surat perjanjian kontrak. Silakan dibaca dulu.” Lean menyerahkan berkas pada Liam.


Siang ini Liam bertemu dengan Liam untuk melanjutkan perjanjian sewa gedung milik Adion itu. Liam yang sudah sangat suka dengan gedung itu merasa jika harus menyewa gedung itu.


“Baiklah.” Liam meraih berkas surat perjanjian. Membacanya dengan saksama. Memastikan jika perjanjian tidak merugikannya.

__ADS_1


Lean menunggu Liam untuk membaca surat perjanjian. Sambil menunggu, dia menyesap secangkir kopi yang dipesannya tadi.


“Saya setuju dengan semua syarat yang diberikan.” Setelah membaca isi surat perjanjian, akhirnya Liam setuju dengan semua isi surat perjanjian.


Lean cukup senang. “Kalau begitu silakan di tanda tangani.” Lean mempersilakan Liam.


“Baiklah.” Liam segera menandatangani surat perjanjian.


“Sepertinya ini akan jadi awal yang baik. Senang Adion bisa jadi bagian dari Marlene Company untuk membangun bisnis di sini.” Lean menjabat tangan Liam. Simbol jika dua perusahaan saling bekerja sama meskipun hanya sewa gedung saja.


“Terima kasih sudah mempercayakan gedung pada kami. Pastinya kami akan menjaganya.” Liam tersenyum.


Liam dan Lean akhirnya menyelesaikan urusan mereka. Melanjutkan dengan menikmati makan siang.


“Apa kamu sudah menentukan mau ke mana? Aku dengar kalian akan memilih salah satu perusahaan milik keluarga.” Di tengah-tengah makan, Liam bertanya.


“Iya, aku dan Kean sedang memilih perusahaan yang kami inginkan. Dan, sepertinya aku memilih Adion.” Lean menjelaskan ke mana dia akan bekerja setelah ini. Memilih perusahaan kakek atau daddy-nya.


“Apa yang membuatmu tertarik ke Adion?” Liam penasaran sekali.


“Ada sesuatu yang sangat menarik di sana. Jadi aku memilih ke sana.” Lean memang sengaja memilih Adion. Karena ada wanita yang dicarinya. Jadi dia akan memilih Adion, dan meminta Kean ke JA Company.


“Sepertinya akan ada kisah menarik.” Liam tertawa. Dari sorot mata Lean sesuatu yang menarik itu adalah hal yang berharga.


“Tentu saja.” Lean ikut tersenyum. Kisahnya baru dimulai, dan tentu saja ada banyak hal yang menarik di dalamnya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2