Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 82


__ADS_3

Makan malam begitu romantis. Mereka berdua larut dalam suasana itu. Sampai akhirnya mereka mengakhiri makan malam itu. Liam mengantarkan Loveta untuk pulang.


“Kenapa Kak Liam waktu itu berbohong bilang sudah punya calon istri?” Loveta mengingat apa yang dikatakan  Liam kala itu.


“Aku tidak berbohong. Memang aku punya calon istri, hanya saja masih di sedang dalam perjalanan ke arahku.” Liam menyeringai.


Loveta hanya bisa tersenyum tipis. “Apa dulu Kak Liam berdoa aku akan putus dengan Leo?” tanya Loveta.


“Tentu saja. Setiap hari aku berdoa agar kalian putus, dan ternyata doaku didengar juga.” Liam puas sekali karena doanya didengar oleh Tuhan.


Loveta ikut tersenyum. Jika waktu itu masih menjalin hubungan dengan Leo, pasti dia merasa doa itu sangat merugikannya. Namun, saat ini doa itu menguntungkannya. Karena dapat bersama dengan Liam.


“Apa yang akan Kak Liam katakan pada papi nanti?” Loveta penasaran sekali.


“Aku akan bilang jika aku mau menikah denganmu.” Liam tentu akan langsung mengatakan niatnya.


“Kira-kira apa mereka akan menerima?” Loveta begitu takut jika orang tuanya tidak menyetujuinya. Karena baru saja pernikahannya dengan Leo gagal, tetapi justru dirinya sudah menerima Liam.


“Tanggapan mereka mungkin bingung. Karena mereka bingung menganggap aku apa nanti, adik atau menantu.” Di saat Loveta sedang serius, Liam justru menggoda Loveta.  


“Kak.” Loveta sedikit kesal. Karena Liam justru menanggapi lelucon ucapannya.

__ADS_1


“Jangan terlalu serius. Mereka pasti akan menerima aku.” Liam mencoba meyakinkan Loveta.


Loveta berharap hal itu. Berharap papinya akan menerima Liam.


Akhirnya mobil sampai di rumah juga. Liam dan Loveta langsung masuk ke rumah.


Saat sampai, mereka disambut oleh Papi Dathan.


“Dapat bunga dari mana kamu?” Papi Dathan justru fokus pada bunga yang dibawa Loveta.


“Dari Kak Liam.” Loveta tersenyum manis menjelaskan pada papinya.


Setelah sekian lama akhirnya Papi Dathan melihat senyum sang anak. Padahal sebelumnya senyum itu sirna.


“Pak, ada yang mau saya katakan.” Liam memberanikan diri langsung mengatakan pada Papi Dathan.


Papi Dathan merasa penasaran. Apa yang ingin dikatakan Liam.


“Ayo, masuk.” Papi Dathan mengajak Liam untuk masuk ke rumah.


“Wah ... bunganya cantik sekali.” Mama Neta yang melihat anaknya membawa bunga merasa terkagum. “Sayang, aku sudah lama tidak diberikan bunga.” Mami Neta mengalihkan pandangan pada suaminya.

__ADS_1


“Aku selalu memberikannya setiap bulan.” Papi Dathan memberitahu.


“Mana?” Mami Neta merasa tidak pernah mendapatkannya.


“Bunga deposito. Aku selalu memberikannya.” Papi Dathan tersenyum.


“Itu lain.” Mami Neta menekuk bibirnya.


“Apa yang lain? Sama saja. Yang penting sama-sama bunga.” Papi Dathan masih membela diri.


Mendengar obrolan Papi Dathan dan Mami Dathan membuat Liam dan Loveta tersenyum. Mereka berdua begitu bahagia sekali. Berharap kelak mereka akan merasakan hal yang sama juga.


Papi Dathan segera duduk dan diikuti oleh yang lain. Liam dan Loveta duduk bersebelahan dan berhadapan dengan Papi Dathan dan Mami Neta.


“Apa yang ingin kamu katakan?” tanya Papi Dathan pada Liam.


Mami Neta langsung mengalihkan pandangan pada Liam ketika adiknya itu mau bicara.


Liam menatap Loveta sejenak. Sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengatakan pada kedua orang tua Loveta.


“Saya ingin menikahi Loveta, Pak.” Liam mengatakan apa yang dia ingin katakan.

__ADS_1


 


__ADS_2