
Papi Dathan langsung membuka internet banking miliknya. Kemudian mengirim uang untuk anaknya.
Loveta mengintip ponsel sang papi. Dilihatnya sang papi mengetik angka dua. Kemudian angka nol di belakangnya.
Loveta menghitung angka nol di belakang angka dua tanpa suara. Membaca berapa kira-kira papinya akan memberikan uang padanya.
“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.” Loveta menghitung tanpa mengeluarkan suara. Namun, hitungannya terjeda. Karena Papi Dathan tiba-tiba menjeda ketika menulis. “Ayo, tambah lagi,” gumam Loveta.
Papi Dathan melirik putrinya yang sedang menghitung. Senang sekali menggodanya dengan menjeda. Namun, beberapa saat kemudian dia menabahkan satu angka lagi.
“Delapan.” Kali ini suara Loveta terdengar. Dia benar-benar senang sekali ketika papinya memberikan dua ratus juta untuk uang sakunya ke luar negeri.
Papi Dathan melanjutkan kembali mengirim uang untuk anaknya.
Saat proses pengiriman selesai, Loveta langsung memeluk sang papi.
“Terima kasih, Papi.” Satu kecupan mendarat di pipi Loveta. Dia benar-benar merasa senang mendapatkan uang dari papinya.
“Pakailah untuk membeli apa yang kamu suka.” Bagi Papi Dathan walaupun anaknya sudah menikah, tetap saja di matanya dia adalah anak-anak.
“Tentu saja. Aku akan membeli apa pun di sana.” Loveta begitu senang sekali.
Mami Neta hanya tersenyum ketika melihat sang anak yang mendapatkan uang dari papinya. Mereka memang tidak pernah membiasakan memberikan kartu kredit pada anak-anak. Agar apa yang dibeli anak-anak bisa dipantau. Lagi pula, dia tidak mau anak-anak seenaknya saja jika diberikan kartu kredit, dan membuat mereka berfoya-foya.
Papi Dathan dan Mami Dathan memang sengaja mendidik anak-anak secara sederhana. Membeli apa yang mereka butuhkan bukan yang mereka inginkan.
“Karena aku sudah dapat uang jajan. Kalau begitu aku pamit dulu. Karena aku harus berkemas.” Loveta tersenyum puas. Keinginannya sudah tercapai. Jadi harus segera pulang.
Papi Dathan dan Mami Neta hanya bisa menggeleng. Anaknya sudah besar dan menikah, tetapi mereka melihat masih seperti anak-anak.
“Besok kabari Papi jam berapa kamu akan berangkat.” Sebelum pulang, Papi Dathan memberikan pesan.
__ADS_1
“Iya, Pi. Aku akan mengabari.”
Loveta segera berpamitan. Menautkan pipi pada kedua orang tuanya secara bergantian.
Alca juga ikut berpamitan. Dia akan mengantarkan kakaknya terlebih dahulu sebelum pulang.
“Tadi kata mami, Danish ke mana?” Saat perjalanan pulang, Loveta ingat ucapan sang mami saat hendak naik ke lantai atas.
“Dia ikut penggalangan dana untuk korban bencana.” Alca menoleh pada kakaknya sejenak sebelum kembali fokus ke jalanan.
Loveta mengangguk-anggukan kepalanya. Danish dan Nessia memang punya jiwa sosial tinggi.
“Pantas aku tidak melihatnya.”Seingatnya adik-adiknya satu kelas. Jadi pasti jika satu libur, semua akan libur. Jika Alca libur, artinya Danish dan Nessia juga libur.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya Loveta sampai di apartemen. Alca menurunkan kakaknya itu di lobi apartemen.
“Aku tidak mampir, karena ingin segera pulang.” Alca menatap kakaknya sebelum kakaknya pulang.
“Baiklah, aku tunggu oleh-olehnya.”
Loveta segera turun dari mobil. Dia masih berdiri di depan lobi. Menunggu adiknya itu pergi.
Saat mobil Alca hilang dari pandangan, barulah Loveta masuk. Sambil berjalan ke lift apartemen, Loveta memberikan kabar pada suaminya jika dia sudah pulang.
...****************...
Dua jam sudah Loveta berkutat dengan pakaian dan beberapa barang yang akan dibawanya. Walaupun Liam sudah mengatakan akan membeli baju di sana. Tetap saja dia harus membawa baju minimal untuk dua hari sebelum beli baju. Tidak mungkin dia pergi membeli baju tanpa memakai baju ‘kan.
__ADS_1
“Baju sudah, alat make up, alat mandi.” Loveta memastikan kembali apa yang harus dibawanya.
Saat sedang asyik memastikan barang apa yang akan dibawa, dia mendengar suara pintu apartemen berbunyi. Dia segera keluar untuk melihat siapa yang datang. Walaupun sebenarnya dia tahu siapa yang datang.
“Kamu sudah pulang.” Loveta tersenyum. Siapa lagi yang datang jika bukan suaminya.
“Iya.” Liam segera masuk dan mendaratkan kecupan di kening sang istri.
Liam segera menuju ke sofa untuk duduk dan beristirahat sebentar, sedangkan Loveta mengambil segelas air ke dapur.
Sambil membawa segelas air, Loveta memerhatikan suaminya. Tampak sang suami tidak bersemangat.
“Ini.” Loveta memberikan segelas air putih pada Liam.
Liam segera meraih gelas yang diberikan istrinya. Kemudian meminumnya. Dalam satu tengak, air langsung habis.
Loveta meminta gelas kosong yang air telah dihabiskan suamnya. Menaruhnya di atas meja kaca di depannya.
“Apa ada masalah?” tanya Loveta memastikan.
“Pengacara Leo, tidak tahu di mana Leo berada. Leo benar-benar menyembunyikan keberadaannya.” Liam menjelaskan pada Loveta.
Loveta cukup terkejut. Dia pikir mencari Leo akan sangat mudah, tetapi ternyata tidak semudah itu.
“Lalu bagaimana kita akan bilang pada Lavelle jika tidak menemukan Leo?” Loveta justru khawatir pada Lavelle. Karena wanita itu sedang hamil.
__ADS_1