Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 21


__ADS_3

Loveta dan Liam pergi ke apartemen untuk merapikan. Namun, sebelum ke apartemen, Loveta mengajak ke toko Izio dulu. Karena ada beberapa barang yang harus dibelinya.


“Kita harus beli bed cover untuk kasur.” Loveta memilih bed cover untuk tempat tidur Liam.  “Kamu mau warna apa?” Dia menatap Liam.


“Aku lebih suka warna putih.” Liam memberitahu. Dia suka warna-warna netral saja.


“Baiklah. Kita beli dua untuk ganti juga.” Loveta mengambil bed cover. Jika satu dicuci, paling tidak akan ada satu untuk dipakai.


Melihat Loveta yang kesulitan, Liam segera membantunya. Mengambil alih mengambil bed cover tersebut. Kemudian meletakkan di dalam troli. Karena membeli dua sekaligus,  troli langsung penuh. Loveta langsung memanggil pramuniaga. Meminta untuk menaruh di kasir.


Loveta melanjutkan membeli gorden, handuk, dan juga beberapa kain lap untuk di dapur. Sampai hal-hal yang kecil pun dibeli oleh Loveta.


“Kita cari alat mandi.” Loveta memberikan ide. Mendorong troli baru untuk mencari barang tersebut. Tanpa menunggu lama, Loveta langsung mengambil tempat sabun, tempat sampo, dan alat mandi lainnya.


Troli masih terus didorong Liam. Mengikuti ke mana Loveta pergi. Mereka ke peralatan makan.


Loveta membeli beberapa peralatan makan dan juga alat masak simple. Liam pasti akan membutuhkannya.


Tak lupa pernak-pernik lainnya seperti lampu hias, vas bunga, kristal-kristal lucu. Semua dibeli oleh Loveta.


“Aku rasa orang akan mengira kita pengantin baru yang akan merenovasi rumah.” Liam menggoda Loveta. Barang belanjaan tadi sudah ada sekitar tiga troli. Tentu saja itu akan membuat orang penasaran, dan saat melihat ke arah mereka berdua, orang-orang akan menebak.


“Benarkah?” Loveta mengedarkan pandangan. Kebetulan ini hari kerja. Jadi lebih banyak ibu-ibu yang datang bersama anak-anak mereka. “Biarkan saja mereka pikir apa.” Loveta melingkarkan tangannya di lengan Liam. “Baiklah, suamiku, mari kita beli lagi perabotan untuk rumah kita.” Loveta justru berdrama. Memperlihatkan jika mereka adalah pasangan suami-istri. Senyumnya mengembang di wajah cantiknya.

__ADS_1


“Kamu tidak takut jika aku akan mewujudkannya?” Liam menyeringai.


“Aku hanya bercanda, Kak.” Loveta melepaskan tangannya yang melingkar di lengan Liam. Dia memang tidak benar-benar serius.


Loveta segera melangkahkan kakinya seraya mendorong troli lagi. Menuju ke tempat-tempat lain untuk mencari perabotan untuk apartemen Liam.


“Aku tidak menganggap ucapanmu main-main, Ta. Aku akan wujudkan itu.”


“Kak, ayo.” Loveta memanggil Liam yang masih berdiam di tempat di mana dia meninggalkannya.


“Iya.” Liam segera menghampiri Loveta.  


Setelah berbelanja selama tiga jam, akhirnya mereka selesai juga. Ada sekitar empat troli yang dibeli Loveta. Saat dimasukkan ke mobil justru lebih banyak dibanding barang-barang milik Liam sendiri.


Saat sampai, mereka memilih beristirahat dulu. Karena cukup kelelahan membawa barang-barang yang dibeli Loveta.


“Ini.” Liam memberikan minuman botol untuk Loveta.


“Terima kasih.” Loveta menerima minuman dan segera meminumnya. Dia yang menghabiskan satu botol karena begitu haus sekali.


“Sepertinya kamu benar-benar haus.” Liam tersenyum.


“Ternyata membawa barang-barang tadi begitu melelahkan sekali.” Loveta mengembuskan napasya.

__ADS_1


“Kita istirahat saja dulu.”  Liam tidak mau memaksa.


“Kita istirahat setelah kamar Kak Liam rapi saja.” Loveta langsung berdiri. Mengayunkan langkahnya ke kamar yang ditempati Liam.


Liam tidak punya pilihan ketika Loveta memilih memulai membersihkan kamar.


Melihat Loveta, Liam tidak tinggal diam. Dia segera membuka kancing tangannya dan menggulung bajunya. Liam memilih membersihkan debu dengan vacum cleaner, sedangkan Loveta membuka plastik-plastik yang menutupi barang-barang yang ada di kamar.


Saat kamar sudah bersih, Loveta segera merapikan tempat tidur dengan bed cover yang dibeli tadi. Menaruh lampu tidur serta pernak-pernik lain seperti jam, vas bunga, dan juga hiasan meja lainnya.


“Akhirnya selesai juga. Paling tidak Kak Liam bisa tidur nyenyak dulu di sini. Besok kita lanjutkan lagi untuk merapikan bagian luar sekalian kita ke supermarket.” Loveta tersenyum menatap Liam.


“Terima kasih.” Liam mengusap puncak kepala Loveta.


Mendapati perlakuan manis dari Liam itu membuat Loveta senang. Karena dia tidak pernah mendapatkan perlakuan itu.


“Apa sebaiknya kita makan malam sekalian?” tanya Liam


Loveta melihat jam, dan ternyata sudah jam tujuh malam. Tadi dia menghabiskan waktu di Izio sekitar tiga jam. Belum lagi membawa barang menghabiskan waktu satu jam. Jadi wajar jika sekarang sudah jam tujuh malam.


“Baiklah, sekalian nanti Kak Liam antar aku pulang.”


“Ayo.” Liam mengangguk.  

__ADS_1


__ADS_2