
Seminggu ini Liam sangat sibuk. Memiliki kantor justru membuatnya lebih sibuk. Terpaksa, Loveta pulang dengan Mama Arriel dan Papa Adriel. Karena Liam terus saja pulang terlambat.
“Hari ini aku akan menjemputmu pulang. Jadi tidak perlu pulang dengan mama dan papa.” Liam mendaratkan kecupan di dahi sang istri.
Loveta merasa lega, akhirnya Liam tidak pulang malam lagi. Rasanya rindu pulang bersama sang suami.
“Iya.” Loveta mengangguk. “Besok kita akan menginap di rumah Mama Arriel dan Papa Adriel. Kamu ingat ‘kan?” tanya Loveta.
Sejenak Liam mengingat jika minggu lalu mereka berjanji akan menginap di rumah Mama Arriel. Jadi kali ini harus dipenuhi.
“Iya, aku ingat, tapi bisakah kita berangkat siang saja?” Liam membelai lembut pipi sang istri.
“Kenapa?” tanya Loveta penasaran.
“Aku ingin menghabiskan waktu denganmu malam ini. Jadi aku tidak yakin bisa bangun pagi-pagi.” Liam menyeringai.
Loveta tersipu malu. Dia juga merindukan berdua bersama suaminya. Jadi rasanya tidak masalah jika berangkat siang.
“Baiklah.” Loveta setuju dengan ide sang suami.
“Ayo kalau begitu kita sarapan dulu.” Liam menarik tangan sang istri dan membawanya ke ruang makan. Tadi dia menyiapkan roti dengan selai coklat untuk sang istri. Waktu berdua seperti ini memang sangat berharga sekali. Apalagi di tengah kesibukan.
...****************...
Sore ini Liam menjemput Loveta ke toko. Dia sengaja pulang lebih awal. Agar bisa menjemput sang istri tepat waktu. Liam ingin menghabiskan akhir pekan bersama sang istri. Jadi dia tidak mau membuang waktu begitu saja.
“Kamu sudah datang?” tanya Loveta.
“Iya.” Liam mengangguk.
“Tunggu sebentar.” Loveta tersenyum. Dia segera masuk ke ruangannya untuk mengambil tas.
“Kamu menjemput Lolo?” Mama Arriel melihat sang menantu.
__ADS_1
“Iya, Ma. Terima kasih sudah mengantarkan Cinta seminggu ini.” Liam merasa terbantu sekali ketika mertuanya mau mengantarkan sang istri pulang.
“Sama-sama. Lagi pula kami tidak terlalu sibuk.” Mama Arriel tersenyum.
“Ayo.” Loveta yang selesai mengambil tasnya segera menghampiri sang istri.
“Ayo.” Liam mengangguk.
“Aku pulang dulu, Ma.” Loveta menautkan pipinya pada pipi sang mama.
“Hati-hati dijalan.” Mama Arriel menitipkan pesannya.
“Iya.” Loveta mengangguk. “Besok aku akan menginap di rumah.” Loveta mengingatkan sang mama kembali.
“Iya, Mama tunggu.” Mama Arriel mengangguk.
Loveta dan Liam segera pergi. Liam melajukan mobilnya meninggalkan toko perhiasan Malya.
“Bagaimana jika kita pergi menonton film?” Liam memberikan ide pada sang istri. Masih terlalu sore untuk pulang.
“Ide bagus.” Loveta mengangguk.
Mendapati persetujuan dari sang istri, Liam segera melajukan mobilnya ke mal yang dekat apartemen.
Sesampainya di bioskop mereka memilih film yang ingin dilihat. Ada beberapa pilihan film. Dari romantis, action, dan horor.
“Kamu mau menonton apa?” Liam menatap sang istri.
“Bagaimana jika kita menonton film horor? Sepertinya seru.” Loveta mengulas senyum ketika memilih film mana yang dipilihnya.
“Kamu yakin?” Liam memastikan lebih dulu. Mengingat yang ditonton adalah film horor.
“Yakin.” Loveta mengangguk dengan percaya diri.
__ADS_1
Saat melihat sang istri yang begitu yakin, tentu saja membuat Liam yakin istrinya itu berani. Karena itu, dia pun setuju dengan yang dipilih sang istri.
Liam segera membeli tiket bioskop sesuai dengan film yang dipilih sang istri, sedangkan Loveta memilih membeli popcorn untuk teman menonton film.
Tak butuh waktu lama film yang dipesan mereka mulai. Liam dab Loveta segera masuk ke dalam bioskop dan mencari kursi mereka berdua. Ketika mendapatkannya, mereka berdua langsung duduk manis. Menunggu film dimulai.
Film dimulai dengan tokoh utama yang keluar. Masih tenang karena hantunya belum muncul.
“Achhh ....” Loveta berteriak ketika hantunya muncul. Dia langsung bersembunyi di balik bahu sang suami.
Liam langsung tertawa. “Katanya tidak takut?” Dia menggoda sang istri.
“Aku tidak takut. Hanya kaget saja.” Loveta kembali menegakkan kepalanya sambil melihat layar bioskop lagi.
Liam hanya tersenyum melihat aksi sok berani sang istri.
Mereka kembali fokus pada film. Sayangnya, hantu di dalam film kembali keluar. Membuat Loveta bersembunyi.
“Aku benar-benar takut.” Loveta akhirnya mengakui jika dia takut.
Seketika Liam langsung menutup telinga Loveta agar tidak mendengar suara hantu.
Loveta jauh lebih tenang. Karena tidak mendengar dan melihat hantu tersebut. Setelah ini dia janji tidak akan menonton lagi film horor.
Film dengan durasi dua jam itu memang menyajikan ketegangan. Jadi wajar jika Loveta tak sedikit pun membuka matanya.
Saat mata terus tertutup, justru itu membuat Loveta mengantuk. Perlahan dia memejamkan mata dan tertidur.
Dengkuran halus yang terdengar tepat di dekat telinga Liam membuatnya menoleh. Memastikan apakah sang istri benar-benar tidur.
Saat menjauhkan tangannya, ternyata benar sang istri tidur.
“Bisa-bisanya dia tidur.” Liam tersenyum. Dia memilih membiarkan sang istri tidur.
__ADS_1