
Liam dan Loveta memandangi makam bertuliskan nama mama Liam. Ada kerinduan yang terlintas di hati Liam ketika melihat makam mamanya.
Sebuket bunga dibawa oleh Liam dan Loveta dan diletakkannya di dekat makam.
Makam kali ini berbeda dengan makam yang biasa Loveta lihat. Makam tidak perlu berjongkok karena batu nisannya tinggi.
“Ma, apa kabar?” Liam memegangi nisan sang mama. Selalu ada rasa sedih ketika melihat orang yang disayang pergi begitu saja. “Ma, aku bawa wanita cantik yang selalu aku ceritakan padamu. Aku pernah bermimpi akan menikahinya kelak. Kini aku benar-benar melakukannya.” Liam berbicara seolah berbicara pada mamanya.
“Akhirnya aku bertemu dengan mama di sini. Semoga mama tenang di sana. Jangan khawatirkan Liam. Karena aku akan menjaga dan menyayanginya.” Loveta ikut bicara juga sambil memandangi makam.
Loveta meraih tangan Liam. Menggenggamnya erat. Menguatkan Liam yang tampak bersedih.
Liam dan Loveta menyempatkan berdoa sebentar di makam. Mendoakan sang mama yang telah tiada.
Dari makam mereka langsung menuju ke pabrik sepatu milik Liam. Pabrik tak jauh dari makam di mana mama Liam berada.
Pabrik sepatu miliki Liam berada di lahan yang cukup besar. Pabrik juga cukup besar.
Loveta cukup terpukau karena pabrik cukup besar. Pantas pemasarannya susah sampai ke luar negeri.
Liam mengajak Loveta untuk melihat cara pembuatan sepatu dari awal. Bagaimana memilih kulit yang bagus dan memastikan bahan tersebut berkualitas baik.
Loveta mendengarkan penjelasan Liam dari mana asal bahan yang didapatkannya. Seperti apa kualitas yang baik untuk pembuatan sepatu.
Sepatu masih dijahit manual. Ini dipertahankan agar kualitas sepatu tetap terjadi. Mereka para penjahit rata-rata sudah bekerja cukup lama. Jadi mereka cukup ahli.
__ADS_1
Loveta melihat jika para penjahit tampak profesional. Jadi wajar jika sepatu yang dihasilkan sempurna.
Tahap demi tahap dilihat Loveta. Liam terus saja menjelaskan secara detail pada Loveta. Sesekali Loveta mencatatnya. Ini akan jadi bahan untuk mengajukan kerja sama dengan Malya Jawelry nanti.
Setelah melihat semua proses, mereka segera ke kantor.
“Jika kita ingin membuat desain sepatu dengan perhiasan bagaimana?” tanya Loveta masih bingung dengan prosesnya.
“Karena kamu berada di sana, artinya sepatu dikirim. Lalu bisa didesain di sana. Baru setelah itu sepatu diproses lagi sebelum siap untuk dijual.” Liam mencoba menjelaskan.
Loveta mengerti yang dijelaskan oleh Liam.
“Untuk sementara kita hanya akan produksi di Indonesia dulu. Sambil melihat progresnya seperti apa baru bisa sepatu dibuat untuk toko-toko seluruh dunia.” Liam mencoba menjelaskan pada istrinya.
“Cantik sekali.” Liam memuji gambar yang dibuat Loveta.
“Ini masih gambar kasar. Aku harus perbaiki beberapa lagi.” Loveta tersenyum.
“Lakukan yang terbaik.” Liam mendukung sang istri.
...****************...
“Ma, aku tadi baru lihat pabrik sepatu. Semua benar-benar dikerjakan secara manual. Kulit yang digunakan pun juga kualitas bagus. Jika kita bekerja sama sepertinya akan ada beberapa team yang harus disiapkan.” Loveta menjelaskan pada sang mama lewat sambungan telepon.
“Baiklah, kamu buat saja proposal kerja samanya agar semua lebih jelas.” Mama Arriel memang lepaskan Loveta untuk menangani ini. Proyek ini memang khusus untuk Loveta. Jadi Mama Arriel mempercayakan pada Loveta.
__ADS_1
“Baik, Ma.” Loveta mengangguk
“Bagaimana keadaanmu di sana? Apa kamu betah di sana?” tanya Mama Arriel mengalihkan pembicaraannya.
“Aku betah, Ma. Ada sepupu Liam di sini. Dia sangat baik sekali.” Loveta bercerita dengan semangat.
“Baguslah, Mama sudah rindu sekali. Membayangkan sebulan tidak bertemu denganmu membuat mama sedih.” Sebagai orang tua, Mama Arriel tentu mau anaknya selalu di sisinya.
“Aku akan segera pulang jika semua urusanku sudah selesai. Bukankah Mama mau dibuatkan cucu. Aku khusus akan buatkan untuk Mama.” Loveta tertawa menggoda sang mama. “Made in Italia.” Loveta menambahkan.
Mama Arriel ikut tertawa. “Dasar! Baiklah, Mama akan menunggu cucu buatan Italia.”
“Baiklah, nanti aku akan menghubungi Mama lagi.”
“Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Salam untuk Liam.”
“Iya, Ma. Akan aku sampaikan.”
Loveta mengakhiri sambungan telepon. Kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas.
“Apa yang made in Italia?” Tiba-tiba suara bass terdengar.
__ADS_1