Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 163


__ADS_3

Setelah soft launching di toko Marlene, Liam meminta Loveta untuk beristirahat di rumah agar pas launching resmi di Malya Jawelry keadaan Loveta baik. Liam tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan istrinya.


“Seminggu ini saja. Aku mohon jangan bekerja dulu. Nikmati waktu di rumah agar nanti kamu bisa hadir di hari perilisan.” Liam menatap sang istri dari pantulan cermin ketika sedang memasang dasinya.


“Iya.” Loveta mengangguk. Sang suami sudah mengatakan hal itu berkali-kali. Jadi tentu saja hal itu membuatnya merasa sedikit bosan sekali. Namun, dia tahu jika sang suami melakukannya karena khawatir padanya.


Liam yang sudah selesai memasang dasi, segera beralih menghampiri sang istri yang sedang duduk di tempat tidur bersandar pada headboard tempat tidur. Sebuah kecupan mendarat di dahi Loveta.


“Apa kamu tidak ingin sesuatu?” tanya Liam.


Loveta merasa jika sang suami sama saja dengan papinya. Selalu bertanya mau apa.


“Sejauh ini aku belum mau apa-apa.” Dia merasa memang tidak sedang ingin apa-apa.


“Padahal aku ingin sekali mencarikan makanan yang kamu inginkan. Agar aku seperti apa yang diceritakan papa dan papi.” Liam sudah banyak dengar cerita tentang bagaimana mereka mencari makanan yang diinginkan ibu hamil. Jadi tentu saja dia ingin melakukan itu juga.


Loveta tersenyum. Ternyata sang suami menanti hal itu. Namun, sayangnya, Loveta belum ingin apa pun. Jadi dia belum meminta apa pun.


“Nanti jika aku ingin sesuatu, pasti aku akan katakan padamu.” Loveta tersenyum.


“Baiklah.” Liam tak sabar menunggu hari itu tiba. Di mana dia akan menuruti apa yang diinginkan oleh Loveta.


***

__ADS_1


Kali ini Loveta hanya berada di apartemen dengan Mami Neta saja. Papi Dathan harus ke kantor dulu. Nanti dia akan pulang pada jam makan siang. Danish dan Nessia sedang kuliah karena ada kelas pagi. Mami Neta dan Loveta menggunakan waktu untuk memasak. Lebih tepatnya Mami Neta yang memasak dan Loveta hanya melihat saja.


“Liam selalu melarang aku melakukan ini itu. Aku sedikit sebal, Mi. Aku bosan di rumah.” Loveta mengeluhkan apa yang dilakukan oleh suaminya.


Mami Neta tersenyum. Dia tahu jika sang anak pasti kesal karena selalu dilarang. “Liam hanya menjagamu saja. Agar kamu tidak kenapa-kenapa. Lagi pula, keadaanmu belum baik. Masih mual-mual dan muntah. Jadi wajar jika Liam masih melarangmu.” Mami Neta untuk menjelaskan dari sudut pandang Liam. Sekali pun Loveta anaknya, bukan berarti dia membela anaknya.


Loveta menekuk bibirnya. Memang alasan Liam adalah dirinya yang masih lemas. Jadi Loveta memahami. Namun, tetap saja dia merasa bosan sekali berada di rumah.


“Ada Mami masih membosankan?” tanya Mami Neta menggoda.


“Bukan begitu, Mi.” Loveta merasa tidak enak ketika ucapannya menyinggung sang mami.


Mami Neta tidak benar-benar mengambil hati ucapan anaknya. Memang dia senang saja menggoda sang anak. Mami Neta melanjutkan memasak. Dia membuat beberapa masakan untuk makan siang nanti.


Loveta bergegas membuka pintu apartemen. Melihat siapa yang datang. Benar saja tebakannya. Yang datang adalah sang papi. Namun, saat melihat papinya datang, Loveta tertarik dengan sesuatu yang dibawa oleh Papi Dathan.


“Papi bawa apa?” tanya Loveta.


“Papi bawa rujak. Tadi waktu ke sini, Papi lihat buah-buahnya segar-segar. Jadi Papi langsung beli.” Di mana pun orang tua berada, anak selalu diingat oleh mereka.


“Rujak.” Loveta berbinar.


“Ayo kita masuk.” Papi Dathan dengan semangat masuk ke apartemen.

__ADS_1


Loveta mengekor di belakang sang papi. Saat Papi Dathan membuka rujak yang dibeli, Loveta merasakan air liurnya teras lebih banyak. Membayangkan buah-buah segar dengan bumbunya masuk ke mulut, rasanya pasti sangat enak sekali. Dengan segera Loveta duduk manis di ruang makan. Menunggu sang papi yang membuka plastik di dalamnya.


Mami Neta yang melihat suaminya mengeluarkan buah, yakin jika sang suami membeli rujak untuk sang anak. Dengan segera dia mengambilkan piring dan mangkuk.


“Ini rujak potong dan ini rujak serut.” Papi Dathan menjelaskan pada sang anak.


“Sepertinya enak.” Loveta berbinar melihat hal itu.


“Sabar, Mami akan tuangkan dulu.” Mami Neta membuka bungkus yang berisi rujak serut. Menaruhnya ke dalam mangkuk. Kemudian memberikan pada anaknya. “Makanlah.”


Loveta yang tak sabar segera memakannya. Rasanya benar-benar nikmat sekali. Perpaduan buah yang segar dengan rasa manis, asam, dan pedas pas sekali di lidah.


“Em … enak sekali.” Loveta tak bisa menolak kenikmatan ini.


Papi Dathan memindahkan buah ke dalam piring dan sambal ke mangkuk kecil yang dibawa sang istri. Kemudian memberikan pada anaknya.


Dengan segera Loveta beralih ke buah yang diberikan oleh sang papi. Loveta mengambil buah mangga dan memakannya dengan sambal. Rasa asam dari buah mangga membuat mual Loveta yang dirasakan sejak tadi hilang seketika.


“Ini nikmat sekali.” Loveta terus memakan rujak tersebut. Sampai dua-duanya dimakan secara bersamaan.


Kenikmatan melihat anaknya makan lahap dirasakan Papi Dathan. Baginya kebahagiaan dan keceriaan anaknya adalah segalanya. Sebelum nanti kasih sayang beralih pada cucu tercinta, maka dicurahkan pada anaknya sekarang.


Mami Neta merasa suaminya jauh lebih bersemangat saat anaknya hamil ketimbang waktu dirinya hamil. Karena tanpa diminta suaminya sudah inisiatif membelikan. Mungkin karena akan jadi kakek. Jadi dia mulai memikirkan hal-hal kecil.

__ADS_1


__ADS_2