
Mendapati pertanyaan itu Lavelle terdiam sejenak. Bingung menata kata.
“Aku sudah terlambat datang dua bulan ini.” Lavelle menjawab lirih.
Sebenarnya alasan Lavelle mencari Leo adalah untuk meminta pertanggung jawaban Leo. Sayangnya, Leo justru tidak diketahui keberadaannya.
Sejak seminggu lalu dia mengetahui kehamilannya, dia berusaha untuk mencari keberadaan pria yang tidur dengannya.
Hanya saya informasi yang didapat sedikit. Sampai akhirnya, dia justru menuduh Liam adalah pria tersebut.
Loveta dan Liam langsung membulatkan matanya ketika mendengar kabar ini. Tidak menyangka jika kejadian itu membuahkan hasil di rahim Lavelle.
Jika Lavelle sekarang hamil, pastinya wanita di depan mereka sedang kesulitan mencari ayah dari anaknya.
“Sayang, jika seperti ini. Kamu harus cari Leo.” Loveta menatap Liam. Dia tidak bisa biarkan Lavelle hamil tanpa suami.
Liam jadi bingung. Mencari Leo pastinya sangat sulit. Mengingat Leo benar-benar menyembunyikan di mana keberadaannya.
“Aku akan coba tanya pengacara Leo. Mungkin dia tahu di mana keberadaannya.” Liam langsung berniat mencari Leo. Tidak tega juga melihat Lavelle.
Loveta langsung berpindah tempat ke arah Lavelle. Dia berusaha untuk menenangkan Lavelle. Dari nada bicara Lavelle terdengar sekali jika Lavelle ketakutan dengan keadaannya sekarang.
“Apa orang tuamu tahu?” Loveta meraih tangan Lavelle. Memastikan keadaan Lavelle.
“Tidak.” Lavelle langsung menggeleng. “Mereka tidak boleh tahu perihal ini. Mereka pasti akan sangat marah jika tahu semua ini.” Lavelle tahu bagaimana kerasnya papanya. Dia yakin sang papa akan murka jika sampai tahu dirinya hamil di luar nikah.
__ADS_1
Loveta semakin tidak tega. Dari sorot mata Lavelle, Loveta bisa melihat ketakutan itu. Dia merasa jika Lavelle pasti benar-benar sendiri kali ini. Karena itu, dia akan berusaha mencari Leo untuk Lavelle.
“Kami akan berusaha mencari Leo. Tenanglah.” Loveta meyakinkan Lavelle. Dia memandang suaminya.
Liam langsung mengangguk. Dia akan berusaha untuk mencari Leo.
...****************...
Loveta dan Liam sampai di rumah. Setelah tadi dari restoran. Mereka memutuskan untuk pulang.
Mereka berdua langsung duduk di sofa untuk mengistirahatkan tubuh mereka.
“Dari bagaimana Lavelle mencari Leo sebenarnya jelas jika ada alasan khusus. Tidak mungkin dia mencari pria tanpa alasan.” Loveta merasa jika sejak melihat Lavelle, dia sudah mulai menebak.
Liam mencoba mengingat bagaimana gigihnya Lavelle menuduhnya adalah pria yang tidur dengannya.
“Aku bersyukur kamu tadi datang. Jika tidak mungkin aku juga akan dimintai pertanggungjawaban.” Liam membayangkan saja sudah ngeri. Diminta tanggung jawab atas apa yang tidak diperbuatnya.
Loveta tersenyum. Kemudian memiringkan tubuhnya untuk melihat wajah Liam. “Tadi pasti kamu sangat panik sekali saat dituduh seperti itu?”
“Awalnya aku tidak panik. Hanya aneh. Karena dia menanyakan hal aneh. Mulai sejak kapan aku berjambang, apa aku pernah minum. Lalu dia memintaku menunjukkan fotomu. Dari situ akhirnya dengan percaya diri dia menuduh aku yang menidurinya.” Liam mencoba menjelaskan pada sang istri.
__ADS_1
Sebenarnya bukan bermaksud menertawakan Lavelle yang sedang sedih karena mencari pria yang menghamilinya. Namun, Loveta lucu membayangkan wajah panik suaminya.
“Lalu bagaimana kamu menyangkal?” tanya Loveta penasaran.
“Aku bilang saja, aku hanya tidur dengan istriku. Bagaimana bisa tidur dengannya.” Liam mengingat bagaimana tadi dia benar-benar terkejut dengan tuduhan Lavelle.
Loveta langsung memeluk sang suami. “Jadi aku pun jadi yang pertama mendapatkanmu?” godanya.
“Tentu saja. Aku menjaga kehormatanku.” Liam mengibaskan rambutnya seperti wanita. Padahal rambutnya pendek.
Loveta langsung mendaratkan kecupan karena gemas sekali dengan aksi suaminya itu.
Liam mengangkat tubuh sang istri. Membawanya ke pangkuannya.
“Aku mencintaimu sejak lama. Jadi aku ingin hanya melakukan denganmu. Jadi aku menjaga diriku agar tidak tergoda.” Liam membelai lembut wajah sang istri.
“Terima kasih sudah menjadikan aku yang pertama juga.” Loveta melingkarkan tangannya di leher Liam.
Mereka saling beradu pandang. Perlahan padangan itu mengantarkan mereka semakin mendekat.
Sayangnya, tiba-tiba Loveta menghentikan gerakannya yang hendak mencium suaminya.
“Kapan kamu akan menemui pengacara Leo? Kita akan segera pergi ke Italia. Kamu harus menemuinya sebelum kita pergi ke Italia.” Alasan loveta menghentikan niatnya berciuman adalah untuk bertanya hal itu.
“Tenanglah, aku akan bertanya besok. Kita masih punya dua hari lagi untuk berangkat. Jadi tidak masalah. Jika pengacara Leo besok menjelaskan di mana Leo. Aku akan segera mencarinya. Jadi kita bisa tenang berlibur.” Liam mencoba menenangkan sang istri.
__ADS_1
“Kalau begitu kamu cari Leo, biarkan aku siapkan keperluan kita. Lagi pula tidak banyak yang dibawa.” Loveta langsung membagi tugas dengan suaminya.
“Baiklah, masalah selesai. Jadi mari lanjutkan.” Liam menarik tengkuk sang istri. Melanjutkan kembali berciuman.