
Malam-malam membuat rujak jelas susah mendapatkan buah-buah tersebut. Terpaksa Liam mencarinya keluar. Loveta yang diminta menunggu di apartemen pun tidak mau. Akhirnya dia ikut juga ke mencari buah. Di supermarket Liam tidak menemukan mangga muda. Alhasil dia mencari di toko buah di pinggir jalan . Beruntung dia dapat buah tersebut.
Sampai di apartemen, Liam segera mengupas buah yang didapatnya. Ada mangga, pepaya, kedongdong, jambu air, bengkuang. Untuk mengupas itu semua dia butuh waktu satu jam. Namun, melihat sang istri yang begitu antusias menunggu, membuatnya semakin bersemangat.
Setelah mengupas buah, Liam segera membuat bumbu yang sudah dicarinya di internet. Walaupun dia tidak yakin akan bisa membuatnya, tetapi Liam mencobanya. Demi sang istri dia akan melakukannya.
“Ini tidak bisa pakai chopper saja?” Liam belum pernah menghaluskan manual. Jadi dia bingung. Tadi di supermarket Loveta sampai minta beli cobek karena katanya sambal rujaknya harus dibuat manual.
“Kalau dihaluskan pakai chopper rasanya pasti berbeda.” Loveta mencoba menjelaskan pada suaminya.
Liam pasrah. Dia tidak mau membuat sang istri kecewa karena makan tidak sesuai dengan keinginannya. Dengan segera Liam membuat bumbunya. Menggoreng kacang tanah, kemudian menghaluskan secara manual dengan tambahan bumbu dan juga gula merah. Dia berusaha keras sekali sampai bumbu tercampur.
“Coba rasakan ini?” Liam meminta sang istri mencoba sambal rujak yang dibuatnya.
Loveta mencoba bumbu rujak dengan potongan buah. Untuk sesaat dia merasakan bumbunya. Walaupun bumbunya tidak seenak sewaktu Papi Dathan beli, tetapi rasanya tidak terlalu mengecewakan.
“Enak.” Satu pujian yang diberikan Loveta pada sambal buatan Liam.
“Enak saja?” tanya Liam memastikan. Dia pikir sang istri akan bilang enak sekali atau mungkin dia tidak bisa berkata-kata karena rasa enak tersebut.
“Iya, enak saja. Karena yang dibeli papi lebih enak.” Loveta tersenyum. Dia merasa pujian itu sudah pas untuk sambal buatan sang suami. Tidak terlalu mengecewakan.
Liam sebenarnya sedikit kecewa, tetapi penjual pastinya sudah sangat ahli sekali dalam hal ini. Jadi dia sadar diri.
__ADS_1
“Tapi, tetap enak.” Loveta memeluk sang suami. Tak mau sang suami kecewa dengan ucapannya. Dia segera memakan dengan lahap rujak buatan sang suami.
Liam tersenyum. Walaupun tidak bisa seenak penjual aslinya, tetapi yang penting istrinya tetap memujinya. Apalagi melihat sang istri yang makan dengan lahapnya.
...****************...
Seminggu berada di rumah membuat Loveta jauh lebih baik. Dia mulai tahu pola tubuhnya yang sedang beradaptasi dengan kehamilan. Setiap pagi Loveta akan mual dan muntah. Namun, setelah itu dia akan jauh lebih baik. Bisa beraktivitas seperti biasanya. Jadi jika sudah mulai bekerja. Dia akan mengambil waktu siang saja, dan istirahat saat pagi hari.
Setelah seminggu soft launching, akhirnya launching resmi dari kolaborasi Malya dan Marlene diadakan hari ini. Loveta datang ke acara launching di Malya Jawelry ditemani suami dan keluarganya. Sejak soft launching kemarin, sudah mendapatkan puluhan orderan. Semua tidak menyangka jika ternyata penjualan akan sebanyak itu. Hari ini selain launching di Malya Jawelry. Hari ini pemesanan juga bisa melalui web Marlene Shoes. Tentu saja ini akan memberikan peluang pemasaran lebih luas lagi.
Tamu undangan cukup banyak yang datang. Apalagi mereka yang belum bisa datang ke Marlene Shoes kemarin. Tamu kali ini adalah member VIP Malya Jawerly. Jadi tentu saja mereka adalah kalangan atas. Tentu saja peluang penjualan akan jauh lebih banyak.
Loveta menjelaskan produk baru mereka. Menunjukan kecantikan dalam setiap sentuhan. Tentu saja pernikahannya kala itu menjadi contoh iklan yang luar biasa menarik perhatian semuanya.
Acara berlangsung begitu meriah sekali. Beberapa orderan pun mulai masuk. Termasuk di dari web. Ternyata sudah banyak yang menunggu sepatu dibeli secara online.
Banyaknya orderan tentu saja membuat Loveta bersemangat. Tak sabar mengerjakan semua orderan itu. Tentu saja saat keadaan tubuhnya sehat.
“Selamat untuk produk barunya.” Kean mengulurkan tangan. Dia hadir untuk mengantarkan para wanita yang datang.
“Terima kasih atas kedatangannya.” Loveta tidak menyangka jika Kean akan datang ke peluncuran ini juga.
“Kak Loveta, sepatu cantik sekali.” Anka begitu terpukau. Sebagai vlogger dia mereview sepatu itu di sosial medianya. Apalagi dia adalah vlogger kecantikan. Tentu saja sepatu masih menjadi bagian dari kecantikan.
__ADS_1
“Terima kasih. Aku tunggu videonya.” Loveta tersenyum.
“Aku pastikan aku akan pesan.” Gemma ikut menambahkan. Dia juga ikut terpukau dengan sepatu buatan Loveta.
“Cari jodohnya dulu, baru pesan sepatunya.” Lean menyindir sepupunya itu.
“Kak Gemma mau sepatunya agar dapat menarik jodoh datang.” Rigel tersenyum. Ikut menimpali.
“Betul sekali. Siapa tahu aku beli sepatunya dulu, setelah itu jodohku datang.” Gemma senang ketika mendengar pembelaan Rigel.
Keluarga Adion dan Maxton memang turut hadir. Jadi tentu saja menambah suasana ramai. Loveta ikut senang melihat banyak yang datang. Loveta juga mengenalkan tamu yang datang pada sang suami. Terutama anggota keluarga Adion dan Maxton. Karena baru Kean dan Lean yang dikenalnya.
Liam dengan ramah berkenalan dengan yang lain dari keluarga Adion dan Maxton. Berterima kasih juga karena mereka mau hadir.
Acara berlangsung meriah. Banyak sepatu yang telah terjual. Beberapa memilih memesan. Karena memang list order cukup panjang. Jadi perlu antrian panjang untuk mendapatkan sepatu tersebut.
Setelah acara selesai, Loveta memutuskan untuk segera pulang. Dia sudah sangat lelah sekali. Apalagi melayani banyak pelanggan VIP yang bertanya tentang produk barunya.
“Aku mandi dulu.” Loveta menatap sang suami. Dia sudah sangat lelah. Jadi ingin segera mandi dan segera beristirahat.
“Mandilah dulu.” Liam menjawab seraya melepaskan dasi yang melingkar di kerah kemejanya.
Loveta segera masuk ke kamar mandi. Membuka satu per satu bajunya. Dia ingin segera menikmati air hangat di bawah kucuran air. Namun, baru saja dia membuka pakaian dalamnya, dia menemukan bercak merah di sana. Loveta membulatkan matanya. Dia takut terjadi apa-apa dengan kandungannya.
__ADS_1
“Sayang … Sayang ….” Loveta memanggil sang suami.