Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Baab 172


__ADS_3

“Kamu sudah buat janji dengan Kean?” Loveta menatap sang suami. Kemarin dia meminta sang suami untuk membuat janji dengan Kean. Untuk bertanya tentang perumahan yang akan mereka pesan. Rencananya Liam dan Loveta akan mencari rumah untuk mereka tinggal. Mereka memilih rumah karena agar lebih aman untuk anak-anak bermain.


“Sudah, hari ini kita bertemu dengan Kean di rumah yang akan ditunjukkan pada kita.” Liam menjelaskan sambil meraih kaos di dalam lemari. Dia baru saja selesai mandi. Jadi ingin segera memakai baju.


“Aku akan lihat-lihat nanti.” Loveta membayangkan akan memilih rumah untuknya.


“Apa tidak salah jika meminta bantuan Kean. Padahal dia pun team marketing-nya sendiri.” Liam masih merasa jika sang istri salah karena meminta pada Kean. Karena mengingat Kean bukan team marketing.


“Kean sendiri yang menawarkan waktu itu. Mungkin karena dia teman, dia ingin memberikan yang terbaik untuk kita.” Loveta tersenyum. Yang dikatakan sang suami ada benarnya. Memang benar harusnya bukan Kean yang melayani mereka untuk memilih rumah.


Liam hanya bisa menggeleng saja. Mengikuti apa yang diinginkan sang istri. Yang penting istrinya senang saja.


 


...****************...


Liam dan Loveta sampai di lokasi perumahan. Perumahan tampak bersih dan teratur sekali. Hal itu membuat Loveta berbinar. Baru masuk lingkungan rumah sudah senang sekali. Apalagi tinggal di sana.


Saat sampai di salah satu rumah, mobil berhenti. Liam dan Loveta segera turun dari mobil. Tampak Kean sudah menyambut mereka.


“Hai, apa kabar?” Kean mengulurkan tangan pada Kean dan Liam.


“Baik.” Liam menerima uluran tangan Kean.

__ADS_1


Kean beralih pada Loveta. Mengulurkan tangan pada Loveta. “Perutmu sudah besar sekali.” Terakhir bertemu Loveta adalah saat peluncuran produk baru. Tentu saja itu sudah lama sekali, dan perut Loveta belum sebesar itu. “Sudah berapa bulan?” tanyanya.


“Sudah jalan lima bulan.” Liam menerima uluran tangan Kean.


Kean tersenyum. Ternyata usia kandungan Loveta sudah besar sekali. “Ayo masuk.” Kean segera mengajak Liam dan Loveta melihat rumah yang akan mereka pilih.


Loveta dan Liam mengikuti Kean masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah mereka melihat rumah yang cantik dengan desain minimalis.


“Ini salah satu rumah yang dijual beserta isinya. Gaya minimalis modern. Rumah ini dengan atap yang tinggi. Semua ruangan berfungsi dengan baik. Untuk pasangan muda dan baru memiliki anak kecil ini pas sekali. Karena tidak terlalu besar.” Kean mencoba menjelaskan semua.


Liam dan Loveta tampak senang. Terutama Loveta. Karena memang dia tidak mau rumah terlalu besar. Karena takut jika terlalu besar. Apalagi kelak hanya ditinggali beberapa orang saja.


“Jadi aku tinggal bawa badan saja ke sini?” Loveta menggoda Kean.


Loveta merasa desain yang diberikan JA Company cukup bagus. Jadi dia merasa tidak ada yang dirubah. Apalagi setelah melihat desain kamar. Kebetulan kamar terhubung dengan kamar sebelah.


“Kami mendesain kamar memiliki pintu akses ke kamar anak. Agar memudahkan para orang tua untuk memantau anak mereka.” Kean menjelaskan desain tersebut. Karena pengalaman sang papa yang memiliki anak, mereka memilih untuk mengawasi anak lewat pintu penghubung.


“Wah … lucu sekali.” Loveta merasa jika memang desain itu multifungsi sekali. Apalagi untuk mereka yang memiliki anak kecil. Jadi akan lebih enak.


Mereka kembali melihat desain rumah. Setiap sudut rumah tampak fungsional. Hal itu pasti akan memudahkan penghuni rumah.


“Aku suka rumah ini dan isinya.” Loveta langsung suka dengan rumah yang ditunjukkan Kean. Padahal baru satu yang ditunjukkan oleh Kean. “Bagaimana?” tanyanya menatap sang suami.

__ADS_1


Liam tersenyum, kemudian mengangguk. Dia tentu saja setuju dengan yang diminta sang istri. Lagi pula dia juga suka sekali dengan rumah ini. Karena pas untuk keluarga kecilnya.


“Jika kalian setuju dengan rumah ini, aku akan menyiapkan berkas. Aku akan meminta team marketing datang.” Kean tentu saja ingin semua segera diselesaikan. Jadi urusannya pun cepat selesai.


“Bagaimana jika kita menunggu sambil makan siang saja?” Liam memberikan ide. Rasanya tidak enak jika hanya menunggu saja tanpa melakukan apa pun.


“Baiklah.” Kean setuju.


Akhirnya mereka pindah ke restoran milik Liam yang berada tak jauh dari perumahan. Kebetulan memang rumah tersebut dengan salah satu restoran milik Liam. Jadi tentu saja akan lebih enak jika menunggu di sana.


“Baiklah.” Kean mengangguk.


Akhirnya mereka menunggu di restoran. Menunggu team marketing Kean untuk datang ke restoran mereka. Di restoran tentu saja mereka menikmati makanan seraya saling bercerita. Apalagi yang diceritakan jika bukan tentang pekerjaan. Apalagi Liam dan Kean sama-sama suka membahas bisnis.


Saat team marketing datang, Liam menandatangani surat jual beli. Pembayaran langsung dilakukan Liam. Karena pihak Kean yang akan mengurus sampai surat selesai, Liam menyerahkan semua pada Kean.


“Jadi kapan rumah akan ditempati?” tanya Kean menatap Liam dan Loveta.


“Sepertinya segera. Karena rumah ini jauh lebih dekat dengan Maxton Hospital, sepertinya kami akan pindah.” Liam merasa apartemen sudah tidak pas untuk mereka. Karena jaraknya yang cukup jauh.


“Baiklah, aku akan siapkan semua agar kalian bisa segera pindah.” Kean tentu saja akan membantu temannya itu sampai tuntas.


Loveta senang ketika Kean akan membantunya sampai tuntas. Apalagi kandungannya sudah lima bulan. Artinya sisa waktu untuk melahirkan tinggal empat bulan. Jika rumah dekat, pasti akan lebih nyaman ketika hendak melahirkan nanti.

__ADS_1


 


__ADS_2