Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 117


__ADS_3

Sepanjang jalan Loveta diam saja. Saat diajak bicara pun tetap saja tidak ada tanggapan sama sekali. Hal itu membuat Liam bingung kenapa istrinya seperti itu.


Sampai di rumah Loveta tetap tidak mau bicara sama sekali.


“Sayang, kenapa kamu diam saja sejak tadi?” Liam melemparkan protesnya ketika sang istri tak kunjung bicara sama sekali. Dia merasa benar-benar sedih melihat sang istri yang diam saja seperti itu.


“Kamu pikir saja sendiri kenapa aku diam!” Loveta mengayunkan langkahnya dan mendudukkan  tubuhnya di atas sofa.


Liam masih berdiri di depan pintu. Dia memikirkan apa yang membuat sang istri kesal seperti itu.


“Sayang, aku tidak tahu.” Liam menghampiri sang istri. Ikut duduk di kursi tersebut.


Loveta menatap malas pada sang suami. Memang sang suami menyebalkan sekali.


“Bukankah kamu sudah bilang jika akan memberitahu aku dulu jika ada apa-apa. Lalu tadi, kamu mengatakan pada mama perihal kerja sama tanpa mengatakan pada aku dulu.” Loveta meluapkan kekesalannya. Menjelaskan apa yang membuatnya marah pada Liam.


Liam menelan salivanya. Tidak menyangka jika ternyata istrinya marah masalah itu. Sejenak Liam tersadar jika sudah berjanji pada istrinya untuk mengatakan apa pun sebelumnya. Namun, dia melanggarnya.


“Sayang, maaf. Bukan mau melakukan itu lagi. Hanya saya tiba-tiba saja terpikir olehku tadi.” Liam mencoba meyakinkan sang istri.


Loveta masih tidak mau menerima alasan sang suami. Dia masih merasa sang suami salah.


“Jangan marah, Sayang. Lagi pula ini demi izin dari mama. Jika tidak alasan kamu mempelajari kerja sama kita. Pastinya mama tidak akan mengizinkan kamu lama.” Liam meyakinkan sang istri.


Loveta merasa yang dikatakan sang suami ada benarnya. Namun, tetap saja dia masih kesal.


“Baiklah, kali ini aku maafkan lagi, tapi jika sekali lagi kamu seperti itu jangan tidur sekamar denganku!” Loveta mengancam sang suami.

__ADS_1


Liam merasa ancaman sang istri benar-benar menakutkan. “Sayang, kenapa ancamannya seperti itu?” Liam tidak terima jika ancamannya seperti itu.  


“Biar saja. Jika tidak seperti itu kamu akan mengulangnya lagi.” Loveta puas sekali dengan ancaman tersebut.


Liam pasrah. Jika ancaman seperti itu, tentu saja dia tidak berani.  


“Baiklah, aku tidak akan ulangi.” Liam langsung setuju.


Mendapati jawaban sang suami, Loveta segera beranjak dari sofa.


“Mau ke mana?” Liam menarik tangan Loveta.


“Ke kamar,” jawab Loveta.


Liam langsung menarik tangan Loveta. Membuat tubuh sang istri jatuh ke dalam pelukannya.


“Mau apa?” tanya Loveta menatap sang suami siaga. Berjaga-jaga siapa tahu sang suami akan menyerangnya.


Loveta langsung menghentikan aksi Liam dengan menutup bibir sang suami.


“Kenapa?” tanya Liam mendapati penolakan Loveta.


“Kamu mau melakukan di sini?” tanya Loveta.


“Memang kenapa?” Liam menatap sang istri.  


“Iya, tidak apa-apa, tapi—“

__ADS_1


“Kita harus menjajal beberapa tempat selain kamar. Biar mendapatkan sensasi baru.” Liam menyeringai. Tanpa aba-aba Liam membenarkan bibirnya ke bibir sang istri.


Loveta pasrah saja. Lagi pula tempat ini tertutup. Jadi tidak masalah jika melakukannya.


 


...****************...


Acara pembukaan kantor dihadiri oleh keluarga. Semua mendukung Liam yang sedang akan membuka kantor baru tersebut.


Liam memotong pita di depan lobi kantor. Simbol jika kantor kini telah dibuka.


Di lobi kantor sudah tersedia stand makanan. Di mana semua makanan berasal dari restoran Liam. Karyawan dan para undangan masuk ke kantor melihat kantor baru milik Liam.


“Selamat atas pembukaan kantormu. Semoga semua bisnismu lancar.” Papa Dathan mengulurkan tangan. Menjabat tangan Liam.


“Terima kasih, Pi.” Liam senang sekali ketika mendapatkan ucapan selamat.


“Terus bekerja keras. Jangan merasa puas.” Papa Adriel ikut menimpali.


“Tentu, Pa. Aku akan terus berusaha.” Liam mengangguk. “Ayo aku tunjukan ruangan-ruangan di sini.” Liam mengajak sang mertua berkeliling.


Loveta memilih untuk menemani tamu yang ada. Terutama keluarganya.


Karyawan-karyawan juga beberapa menikmati makanan yang tersaji. Sambil menikmati berkenalan satu dengan yang lain.


Di saat sedang asyik menemani tamu undangan, Loveta melihat seseorang yang tak asing baginya. Rasa penasaran itu membuatnya untuk memastikan jika yang dilihatnya benar adanya.

__ADS_1


“Aku permisi dulu.” Loveta berpamitan pada keluarganya dan segera mengayunkan langkahnya keluar.  


 


__ADS_2