Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 27


__ADS_3

Liam membuat steak salmon. Tadi dia membeli salmon segar di supermarket. Masakan simple yang mudah dibuat.


Saat Liam memasak aroma masakan menguar ke udara. Loveta yang sedang asyik berbenah pun tergoda.


“Wah ... sepertinya enak.” Loveta dari kejauhan mencium aroma itu.


Liam tersenyum. “Kamu harus mencobanya.” Dia memindahkan salmon ke piring saji.


Loveta tak sabar menunggu Liam yang menyajikan makanan untuknya. Aromanya saja sudah enak, tentu saja pastinya rasanya akan enak.


Liam segera menuju ke meja makan membawa serta dua piring makanannya. Kemudian memberikannya pada Loveta.


Aroma yang begitu mengunggah selera membuat Loveta tak sabar untuk memakannya.


Loveta memotong salmon. Kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Saat makanan masuk ke dalam mulut, rasanya benar-benar enak sekali. Salmon segar dan lumer di mulutnya.


“Rasanya tak kalah dengan masakan restoran bintang lima.” Loveta memuji apa yang dimakannya.


Liam tersenyum. Senang ketika Loveta menyukai masakannya.

__ADS_1


“Ke sinilah sering-sering, nanti aku akan memasakkan untukmu.” Liam tentu saja tidak keberatan jika memasak untuk sang pujaan hati. Pastinya dia akan melakukan dengan senang hati.


“Jika aku sering-sering ke sini, orang akan mengira aku istrimu.” Loveta tertawa.


“Kenapa harus mengira jika bisa sungguhan jadi istriku?” Liam tersenyum menatap Loveta.


Mendengar ucapan Liam itu seketika Loveta tersedak. Liam yang melihat hal itu segera menuangkan air minum. Loveta segera melegakan tenggorokannya itu dengan segelas air.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Liam sedikit panik.


“Tidak.” Loveta menggeleng.


“Dulu sewaktu kecil kamu selalu membahas pernikahan denganku. Mengajakku menikah. Kenapa tiba-tiba tersedak ketika membahas menjadi istriku?” Senyum Liam menghiasi wajah tampannya. Senang sekali membuat Loveta semakin salah tingkah.  


Loveta sejenak mencari memori tentang apa yang dikatakan Liam.


Astaga, dulu aku sering sekali mengajak Kak Liam menikah denganku.


Loveta yang mengingat kejadian itu merasa begitu malu. Ternyata dulu sewaktu kecil, dia polos sekali.

__ADS_1


“Jangan terlalu serius. Itu hanya candaan anak kecil, Kak.” Loveta memaksakan senyumnya ketika kecanggungan menghampiri.


Liam melihat jelas wajah Loveta yang canggung. “Terkadang hidup ini penuh canda. Hari ini kita benci, besok kita cinta. Hari ini kita cinta, besok kita benci. Jadi jika kamu berpikir ajakan menikahmu bercanda, mungkin saja besok atau entah kapan akan menjadi kenyataan.” Liam tampak tenang memotong salmon dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


Loveta semakin canggung ketika Liam berbicara seperti itu. “Ach ... itu tidak mungkin. Kak Liam sudah punya calon istri, aku sudah punya Leo. Jadi tidak mungkin ucapanku waktu kecil menjadi kenyataan.” Dia memaksakan senyum di wajahnya. Menghilangkan kecanggungan yang dirasakannya.


“Jika suatu saat kamu tidak punya pasangan. Maka datanglah padaku. Bilanglah jika ucapanmu itu bukan candaan. Maka aku akan ada untukmu.” Liam menatap Loveta penuh damba. Cintanya tidak dapat disembunyikan sama sekali.


Apa yang dikatakan Liam membuat Loveta semakin tidak karuan. Dia bingung merasakan perasaan aneh yang masuk ke dalam hatinya. Namun, kalimat itu justru sedikit mengandung arti jika mungkin saja hubungannya dengan Leo akan berakhir. Sayangnya, Loveta tidak berpikir seperti itu. Dia justru berharap hubungan dengan Leo akan ke jenjang pernikahan.


Loveta memilih tidak menanggapi ucapan Liam. Dia memilih melanjutkan makannya seraya menunduk. Jika pembicaraan dilanjutkan, akan menjadi panjang. Jadi dia memilih menghindar.


Sikap menghindar Loveta tertangkap jelas oleh Liam. Dia tidak mempermasalahkan itu sama sekali. Dia yakin jika akan bisa membuat Loveta menikah dengannya.


Jika suatu saat kamu berpisah dengan Leo. Aku akan ada untukmu.


 


 

__ADS_1


__ADS_2