
Loveta membulatkan matanya ketika mendapatkan pesan singkat dari Leo. Pesan berisi jika Leo dan keluarganya yang akan datang itu membuat Loveta bingung. Karena Leo begitu tiba-tiba sekali untuk datang melamar.
Dengan segera Loveta menghubungi Leo. Dia ingin memestikan apa yang dilakukan oleh Leo ini.
“Halo, Leo, kenapa kamu tiba-tiba sekali ingin melamarku?” Pertanyaan itu langsung terlontar dari mulut Loveta.
“Kenapa bisa kamu bilang tiba-tiba? Bukankah waktu itu papimu meminta aku melamarmu, dan aku rasa ini saat yang tepat untuk melamarmu.”
Loveta ingat betul setelah ciuman dengan Leo kala itu, papinya memintanya menikah. Namun, dengan waktu seperti ini, dia merasa tidak pas sekali. Urusannya dengan Liam saja belum selesai. Bagaimana bisa dia menikah. Loveta benar-benar dalam dilema. Tidak tahu harus berbuat apa. Hari ini artinya dia tidak punya celah untuk menemui Liam. Meminta penjelasan semuanya.
“Aku akan datang nanti malam untuk melamarmu. Jadi kamu punya waktu sehari untuk mempersiapkannya. Aku rasa ini tidak terburu-buru.” Leo memberitahu Loveta.
Loveta hanya pasrah. Seolah tak bisa lari ke mana-mana.
“Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak senang ketika aku melamarmu?” Leo merasa jika Loveta tidak suka. Apalagi sejak tadi dia seolah menolak.
“Bukan aku tidak suka, tapi kamu tahu ini terlalu mendadak sekali. Tentu saja aku merasa terkejut.” Yang dirasakan Loveta kali ini memang itu. Jadi maklum saja.
__ADS_1
“Baiklah kalau kamu hanya terkejut. Aku pikir kamu tidak suka aku melamarmu. Sampai jumpa nanti malam.” Leo mengakhiri sambungan telepon.
“Sampai jumpa.” Loveta segera mematikan sambungan telepon itu. Tubuhnya terjatuh ke atas tempat tidur. Sungguh ini adalah hal tak pernah terduga sekali. Belum selesai masalahnya dengan Liam, tiba-tiba sekali Leo ingin melamarnya. Padahal Loveta ingin menyelesaikan masalah itu lebih dulu.
Loveta memandangi langit-langit kamar. Dia tidak menyangka jika akan secepat ini dilamar. Dulu dia berharap sekali hari ini, tetapi sekarang dia merasa belum siap untuk ini. Ada keraguan yang terselip.
“Apa yang membuat aku ragu? Aku sudah menjalani hubungan ini cukup lama. Artinya jika naik jenjang lebih tinggi, bukan sebuah permasalahan.”
“Apa ini karena Kak Liam?” Pertanyaan itu langsung terlontar dari mulut Loveta.
Loveta menggelengkan kepalanya. Menyadarkan dirinya. Dia tidak boleh berpikir seperti itu, karena Liam sendiri sudah punya calon istri. Artinya mereka sudah punya pasangan masing-masing.
Loveta turun ke lantai bawah. Mencari maminya. Saat turun, dia melihat sang mami sedang memberikan secangkir kopi pada papinya. Aroma kopi yang semerbak tercium begitu nikmat.
“Mi, Pi, aku mau bicara.” Loveta mengayunkan langkahnya menghampiri orang tuanya itu.
“Ada apa? Kenapa tumben sekali pagi-pagi ingin bicara.” Mami Neta mendudukkan tubuhnya di sofa. Tepat di samping sang suami. Mami Neta merasa aneh anaknya pagi-pagi sudah mengajak bicara. Tampak juga sang anak serius sekali.
__ADS_1
Loveta duduk tepat di depan sang mami dan papinya.
“Pi, Mi. Leo akan datang melamar hari ini.” Loveta menjelaskan apa yang ingin dikatakannya.
Mami Neta dan Papi Dathan saling pandang. Mereka tidak menyangka jika Leo akan mendadak sekali melamar.
“Iya, semalam dia mengabari. Hanya saja aku sudah tidur. Jadi aku baru baca. Mereka akan datang malam nanti.” Loveta tak bisa berkata banyak. Ini memang mendadak.
“Kita masih punya waktu siang ini untuk bersiap artinya.” Papi Dathan tampak tenang. Dia merasa kedatangan keluarga Leo tidak mendadak.
“Tapi, kita pasti akan kewalahan karena mereka akan datang malam ini.” Mami Neta merasa waktu seharian tidak cukup untuk menyambut mereka.
“Jangan terlalu berlebihan. Kamu bisa ke menyiapkan dalam waktu sehari. Jika tidak bisa memasak. Kamu bisa pesan saja. Jangan terlalu dibuat beban. Lagi pula mereka sudah bagus punya niat baik secepatnya.” Papi Dathan menatap sang istri. Mencoba menenangkan.
Mami Neta mengembuskan napasnya. Sang suami selalu bisa menenangkan.
“Baiklah.” Mami Neta mengangguk.
__ADS_1
“Kabari mamamu juga. Dia juga harus datang saat kamu dilamar.” Papi Dathan meminta sang anak untuk mengabari mantan istrinya. Mengingat tidak bisa dia mengambil keputusan sendiri.
“Baiklah, aku akan kabari mama.” Loveta mengangguk.