
“Selamat pagi.” Saat melihat istrinya membuka mata, Liam langsung menyambut sang istri. Senyum manis menghiasi wajah tampan Liam.
Loveta tersenyum. Hal yang indah saat membuka mata adalah melihat sang suami. Tentu saja itu adalah hal menakjubkan yang didapatkannya.
“Selamat pagi.” Loveta membalas sapaan sang suami.
Liam turun ke bawah. Masuk ke dalam selimut. Loveta yang ingin tahu apa yang dilakukan sang suami langsung membuka selimut.
“Selamat pagi, Sayang. Apa anak papa sudah bangun juga?” Sebuah kecupan mendarat di perut Loveta.
Loveta tersenyum. Merasa lucu dengan apa yang dilakukan sang suami. Tampak menggemaskan sekali. Dia pun mengusap kepala sang suami.
“Hari ini mama akan kerja seperti biasa. Jadi kamu harus kuat. Harus pintar temani mama.” Sebuah kecupan lagi mendarat di perut Loveta.
“Iya, Papa.” Loveta menjawab, mewakilkan anaknya.
Liam langsung mengalihkan pandangan pada sang istri. “Kenapa kamu yang jawab?” tanyanya.
“Jika dia yang jawab, bukankah akan seram.” Loveta tertawa. Dia tidak membayangkan bagaimana jika sang anak di dalam kandungan yang menjawab pertanyaan itu.
__ADS_1
“Dasar.” Liam yang gemas langsung kembali pada sang istri. Menangkup wajah sang istri dan bersiap untuk menciumnya.
“Auch ….” Belum juga ciuman diberikan, tiba-tiba Loveta sudah mengaduh kesakitan.
Seketika Liam langsung menghentikan aksinya itu. Takut jika apa yang dilakukannya membuat sang istri merasa sakit.
“Kenapa?” tanya Liam.
Loveta masih terdiam. Dia masih merasakan apa yang membuatnya mengaduh. “Auch ….” Dia memegangi perutnya. Terasa tendangan di perutnya. Itulah yang membuatnya mengaduh.
“Sayang, perutmu sakit?” Seketika Liam panik. Dia takut terjadi apa-apa pada sang istri.
“Dia menendang?” tanya Liam memastikan.
“Iya.” Loveta mengangguk.
Liam tidak menyangka akhirnya bisa merasakan tendangan sang anak untuk pertama kalinya. Dia benar-benar bahagia sekali.
“Sayang, apa kamu tadi mau protes karena papa mau mencium mama?” Liam membelai lembut perut sang istri.
__ADS_1
Satu tendangan pun didapatkan Liam. Hal itu membuat Liam benar-benar girang sekali. Ini adalah keajaiban. Liam yang mendapati tendangan itu langsung mencium perut istrinya. Berharap anaknya merasakan apa yang dirasakanya kali ini.
Loveta yang merasakan tendangan anaknya, tak kalah bahagia. Karena ini adalah kali pertama dia merasakan tendangan anaknya.
“Papa janji akan memperlakukan mama dengan baik. Mencium mama dengan lembut.” Liam merasa bersalah karena tadi hendak memaksa sang istri. Sebenarnya, dia hanya gemas saja pada sang istri.
“Makanya, papa jangan nakal-nakal.” Loveta menggoda sang suami. Anaknya berpihak padanya. Tentu saja dia senang.
“Baiklah, aku akan menciummu dengan lembut.” Liam segera mendaratkan kecupan di bibir sang istri. Sebuah tendangan kembali terasa. Liam segera kembali ke arah anaknya lagi. “Apa kamu suka papa memperlakukan lembut mama?” tanya Liam.
“Iya, papa.” Loveta kembali menjawab lagi.
“Rasanya tak sabar melihat dia lahir.” Liam menatap sang istri.
“Dia akan lahir tepat pada waktunya.” Loveta berusaha untuk menenangkan sang suami. Karena tidak mungkin anaknya lahir lebih awal.
Mereka berdua hanya bisa berdoa jika anak mereka akan lahir dalam waktu yang tepat. Tidak kurang dan tidak lebih. Berharap anaknya sehat-sehat selalu.
__ADS_1