
Liam segera membawa Loveta ke ruangannya, kemudian menidurkan sang istri di atas sofa. Dia meminta asistennya mencarikan dokter. Siapa tahu ada dokter di dekat sini.
“Sayang.” Liam menepuk pipi sang istri. Berusaha untuk membangunkannya.
“Sayang.” Liam terus berusaha untuk membangunkan sang istri.
Sejak melihat sang istri tadi, Liam memang sudah curiga sekali. Yakin jika ada sesuatu pada sang istri.
“Sayang.” Tadi ada karyawan yang memberikan minyak angin. Meminta Liam untuk mengusapkan ke leher Loveta. Aroma minyak yang kuat membuat Loveta perlahan membuka matanya.
“Sayang.” Melihat sang istri yang membuka mata.
Loveta melihat langit-langit kamar. Dia merasa jika pandangannya masih kabur. Samar-samar dia mendengar suara Liam.
Tubuhnya yang masih terasa lemas membuat Loveta tak kuat menahan tubuhnya. Dia tak kuasa bangun sama sekali.
“Aku kenapa?” Loveta masih merasa berat sekali membuka matanya. Sesekali dia memejamkan matanya.
“Kamu pingsan tadi.” Liam memberitahu sang istri.
Loveta tidak menyangka jika sampai pingsan. Padahal tadi sekuat tenaga dia menjaga agar Liam tidak tahu.
Suara pintu terdengar. Asisten Liam masuk ke ruangannya.
“Maaf, Pak, saya tidak menemukan dokter di sini.” Sang asisten memberitahu.
Liam tentu saja tidak tinggal diam. “Siapkan mobil.” Dia memberikan perintah.
“Baik, Pak.” Asisten langsung berbalik. Segera ke tempat parkir untuk mengambil mobil.
Liam kembali pada sang istri. “Sayang, kita ke rumah sakit dulu. Agar tahu kamu kenapa.” Liam segera menangkup tubuh Loveta.
Loveta cukup lemas. Dia hanya pasrah dengan apa yang dilakukan Liam.
__ADS_1
Liam membawa sang istri dengan lift yang tak jauh dari tokonya. Di lobi juga sudah ada asistennya yang menunggu. Setelah masuk, mobil segera membawa Liam dan Loveta ke rumah sakit.
Lima belas menit mereka sampai di rumah sakit. Memilih rumah sakit yang dekat dari mal.
Kembali Lia membawa sang istri dengan menggendongnya. Kemudian membawa Loveta ke ruang UGD.
Perawat langsung meminta Liam meletakkan Loveta di ranjang. Beberapa perawat langsung melakukan pengecekan dasar. Saat melihat tekanan darah Loveta yang begitu rendah, perawat memasang infus di tangan Loveta.
Loveta masih sadar hanya saja terlalu lemas. Jadi dia pasrah saja dengan apa yang dilakukan padanya.
“Selamat pagi, saya dr. Gesha, dokter umum bertugas di UGD.” Dokter menyapa Loveta. “Apa yang dirasakan?” tanya dokter seraya mengecek keadaan Loveta.
“Sayang, katakan pada dokter apa yang kamu rasakan.” Liam berbisik pada sang istri.
Loveta mendengar ucapan Liam. Dia perlahan membuka matanya. “Lemas, pusing, mual.” Dia akhirnya menjelaskan dengan suara lirih.
“Ibu sudah menikah?” tanya dokter.
“Kapan terakhir datang bulan?” Dokter segera melemparkan pertanyaan itu.
Loveta berpikir keras. Dia datang bulan sebelum berangkat ke Italia.
“Tanggal dua puluh tiga dua bulan lalu.” Loveta menjelaskan.
“Sekarang tanggal tujuh. Artinya sudah terlambat dua minggu. Baiklah, kita cek dulu. Apakah ada kemungkinan hamil atau tidak.” Dokter memberikan prosedur yang harus dilakukan.
Loveta terdiam sejenak ketika mencerna ucapan dokter. Dua telat dua minggu, tapi tidak sadar sama sekali. Mungkin karena terlalu sibuk. Jadi dia lupa.
Dokter meninggalkan Loveta.
Liam langsung menatap sang istri. “Kenapa kamu tidak bilang telat dua minggu?” tanyanya.
“Mungkin karena sibuk aku jadi tidak ingat.” Saat cairan infus mulai masuk ke tubuh, Lovea merasa lemas perlahan berkurang.
__ADS_1
“Apa mungkin kamu hamil?” Liam menebak.
“Jangan terlalu berharap dulu, Sayang. Aku hanya takut terlambat datang bulan karena stres dan pingsan karena kelelahan.” Loveta takut sang suami terlalu berharap. Jika tidak sesuai, takut sang suami kecewa.
Liam kali ini tidak berani mengatakan apa-apa. Dia belum berani membenarkan sang istri hamil. Takut seperti yang dikatakan sang istri jika hanya terlambat datang bulan karena stres saja.
Dokter kembali lagi datang. “Karena Ibu sadar, saya mohon untuk melalukan pengecekan melalui urine. Anda bisa pergi ke toilet untuk mendapatkan urine.” Doker langgung memberikan wadah yang disiapkan untuk Loveta.
“Bolehkah saya menunggu sebentar sampai tubuh saya kuat, Dok?” Loveta masih merasa belum kuat. Jadi belum mau bangun sekarang dari ranjang rumah sakit.
“Tentu saja boleh.” Dokter mengangguk.
Akhirnya Loveta memilih menunggu sebentar. Membiarkan tubuhnya jauh lebih kuat.
Setengah jam berlalu, akhirnya Loveta bangun. Ditemani sang suami, dia ke toilet.
“Apa kamu bisa sendiri?” tanya Liam ketika sang istri hendak masuk ke kamar mandi.
“Bisa.” Loveta mengangguk. Dia jelas malu jika sampai Liam ikut masuk.
“Baiklah, hati-hati.”
Loveta segera masuk ke toilet. Mengambil sample urine untuk dilakukan pemeriksaan selanjutnya.
Loveta yang sudah selesai, langsung kembali ke ranjang. Mengistirahatkan tubuhnya.
Liam meninggalkan Loveta sebentar untuk memberikan sample urine tersebut. Karena sudah tertutup rapat di wadah kecil. Jadi dia tidak merasa keberatan untuk memberikannya.
“Ini, Dok.” Liam memberikan sample urine itu.
“Terima kasih, mohon ditunggu.” Dokter segera menerima sample urine tersebut.
Liam begitu berdebar-debar. Dia penasaran sekali apa hasil dari pemeriksaan urine sang istri.
__ADS_1