
Liam masih sangat berduka. Dia terus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada papanya. Niatnya untuk meminta haknya ternyata justru mengantarkan papanya meninggal. Tentu saja ini pukulan berat untuknya.
Saat sedang berada dalam pikirannya itu, tiba-tiba suara ponsel Liam berdering. Dilihatnya jika itu adalah Leo. Dengan segera Liam mengangkat sambungan telepon tersebut.
“Kamu di mana?” tanya Leo tanpa basa-basi.
“Di apartemen.”
“Apartemen mana?”
“Apartemen milik Cinta.”
Leo langsung mematikan sambungan telepon.
Mendengar sambungan telepon terhenti membuat Liam melihat ke layar ponselnya. Memastikan jika Leo mematikan sambungan telepon.
Setengah jam berlalu, suara bel terdengar. Liam yakin sekali jika itu adalah Leo. Jadi dia segera membuka pintu. Benar saja. Ternyata itu adalah Leo.
“Masuklah.” Liam mempersilakan Leo untuk masuk.
Leo langsung masuk. Dia baru tahu jika yang menyewa apartemen Loveta adalah Liam. Banyak hal yang tidak diceritakan Loveta. Namun, Leo tidak mau ambil pusing dengan semua itu.
Leo duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Berhadapan dengan Liam yang juga duduk. Kali ini melihat Liam, Leo tidak terbawa amarah. Apalagi setelah membaca surat sang papa. Dia merasa memang harus berdamai dengan keadaaan. Karena seperti yang dikatakan sang papa. Liam yang berhak atas restoran itu.
Melihat Leo yang tidak asal pukul seperti kemarin-kemarin membuat Liam bersyukur. Paling tidak, adik tirinya itu lebih menahan diri untuk tidak memukulnya.
__ADS_1
Tak membuang waktu, Leo mengeluarkan amplop yang diberikan pengacara kemarin padanya. Kemudian menaruhnya di atas meja.
“Ini dari papa.” Leo memberikan amplop berisi surat itu pada Liam. “Papa memberikan surat ini pada pengacara dan baru diberikan kemarin pada kami. Pengacara bilang ini untukmu. Jadi aku ke sini untuk memberikannya.” Leo menjelaskan kedatangannya.
Melihat surat yang berada di atas meja membuat Liam merasa sedih. Ternyata ada surat yang ditulis papanya untuknya. Artinya papanya masih ingat dengannya di saat terakhirnya.
“Aku hanya datang untuk hal itu. Kalau begitu aku permisi.” Leo berdiri kembali. Tak mau berlama-lama bersama Liam. Sekalinya dia sudah berdamai dengan keadaan, tetap dia tidak bisa berlama-lama dengan Liam.
“Tunggu.” Liam memanggil Leo.
Langkah Leo terhenti. Dia menoleh ke arah Liam.
“Apa kamu tidur dengan wanita lain?” Liam masih penasaran dengan yang terjadi antara Leo dan Loveta.
“Jika kamu pikir aku mengkhianati Lolo, kamu salah. Karena aku mencintainya. Semua itu terjadi karena sebuah kesalahan. Tapi, aku tidak akan memaksakan Lolo tetap bersamaku.” Leo menjelaskan sedikit kejadian yang terjadi. Mau Liam percaya atau tidak bukan urusannya. “Jika dia datang padamu, kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan. Jagalah dia.” Dia tahu jika Liam sangat mencintai Lovea. Jadi merelakan Loveta untuk Liam adalah pilihan tepat.
Leo kembali melanjutkan langkahnya. Dia sadar jika yang terjadi padanya adalah kesalahannya. Peribahasa sudah jatuh, tertimpa tangga, mungkin sangat pas untuk Leo. Karena di saat kehilangan restoran, dia justru membuat kesalahan menyakiti Loveta. Dan kini lebih parah lagi papanya meninggal. Seolah lengkap sudah penderitaan Leo.
Liam hanya bisa melihat Leo yang perlahan pergi. Saat adik tirinya itu pergi, Liam beralih pada surat yang diberikan oleh Leo.
Liam segera meraihnya. Membuka surat tersebut dan membacanya.
^^^Untuk Wiliam,^^^
^^^Harusnya aku memelukmu saat pertama kali bertemu. Sayangnya, aku terlalu malu dengan apa yang terjadi di masa lalu. ^^^
__ADS_1
^^^Mungkin harusnya aku berbicara baik dan bercerita banyak hal denganmu. Namun, aku justru menabuh genderang perang denganmu. Membuat keadaan kita semakin buruk. ^^^
^^^Wiliam, maafkan aku sudah melukai mamamu dan juga menelantarkan kamu. Aku tahu mungkin kesalahan itu tidak bisa dimaafkan. Namun, tetap izinkan aku meminta maaf. ^^^
^^^Surat ini aku buat sebelum sidang keputusan dibuat. Aku yakin kamu pasti akan mendapatkan restoran itu. Karena memang itu adalah hakmu. Aku tidak marah ketika kamu mendapatkan restoran itu. Karena memang kamu adalah pemiliknya. Seperti yang kamu bilang, aku hanya petani yang menanam padi. Bukan pemilik lahan dan tidak bisa memiliki lahan itu. ^^^
^^^Wiliam, aku tahu kamu sangat hebat. Mamamu mendidikmu dengan sangat baik. Jadi aku tidak takut restoran saat berada di tanganmu. Aku yakin kamu bisa mengembangkan restoran jauh lebih besar dibanding aku. ^^^
^^^Jika sesuatu terjadi padaku. Jangan menyalahkan dirimu. Semua adalah takdir. Aku memang sudah sakit sejak lama. Jadi jika terjadi apa-apa. Memang itu karena kesehatanku saja. ^^^
^^^Wiliam, teruslah menjadi orang baik seperti mamamu. Papa yakin kamu akan jauh lebih sukses lagi. ^^^
^^^Terima kasih sudah hadir di saat-saat terakhir papa. Membuat papa menyadari kesalahan masa lalu. ^^^
^^^Jaga dirimu baik-baik, Nak. Semoga kebahagiaan selalu ada bersamamu.^^^
^^^Josep^^^
Liam langsung menangis. “Kenapa kamu tidak meminta maaf langsung padaku. Aku ingin sekali saja memelukmu.” Liam benar-benar merasa papanya begitu jahat. Tidak memberikan kesempatan sama sekali merasakan kasih sayang seorang papa.
Sebagai seorang anak, dia memang merindukan kasih sayang seorang ayah. Namun, dia tak mendapatkan sampai papanya meninggal.
“Aku akan menjaga restoran itu demi papa dan mama. Aku janji.” Liam hanya bisa terus menangis.
__ADS_1