
“Lolo sedang tidak ingin apa-apa, Pi.” Loveta menggeleng kepalanya ketika ditanya oleh papinya.
“Kenapa tidak mau apa-apa? Biasanya orang hamil selalu ingin sesuatu.” Papi Dathan berusaha untuk membujuk sang anak agar mau sesuatu.
“Tapi, aku sedang tidak mau apa-apa, Pi.” Loveta masih berpikir jika memang dirinya tidak menginginkan sesuatu apa pun.
“Kalau Kak Cinta tidak mau apa-apa, Nessia mau, Pi. Nessia saja yang ditawari.” Nessia memotong pembicaraan kakak dan papinya. Apalagi dia gemas sekali mendengar sang papi yang mendesak kakaknya untuk mau sesuatu.
“Kamu hamil dulu, baru papi akan turuti keinginanmu.” Danish selalu saja tertarik menggoda saudara kembarnya itu.
“Jadi aku harus hamil dulu seperti Kak Cinta agar papi membelikan aku apa pun itu?” Nessia dengan polosnya bertanya. Memastikan pada saudaranya.
Danish kadang kesal juga. Kadang saudaranya itu pintar, tetapi kadang saudaranya itu bodoh. “Kamu nikah dulu, baru hamil,” sindirnya.
“Memangnya tidak boleh hamil dulu.” Nessia hanya tertarik ketika papinya menawari kakaknya. Jadi dia mau hal yang sama.
“Tidak!” Mami Neta, Papi Dathan, Danish, dan Loveta seketika langsung menjawab.
Nessia langsung terperangah. Satu keluarga kompak sekali menjawab, dan jawabannya sama.
__ADS_1
“Nessia, awas jika kamu berpikir hamil duluan itu lebih bagus dibanding nikah dulu!” Mami Neta langsung memperingatkan anaknya itu. Sebagai seorang ibu, tentu saja dia was-was.
“Jangan sampai kamu hamil duluan! Di mana-mana laki-laki itu berengsek. Jadi jangan mau sampai disentuh sebelum menikah.” Loveta ikut memberikan peringatan pada adiknya.
Saat mendengar kata berengsek yang diucapkan Loveta, Papi Dathan dan Danish langsung menatap tajam. Mereka tidak terima ketika dikatakan dalam golongan pria brengsek.
Loveta yang melihat papi dan adiknya menatap tajam, langsung tersenyum polos. “Kalian tidak termasuk,” ucapnya.
Papi Dathan dan Danish langsung tersenyum. Karena mereka ternyata tidak termasuk dalam pria-pria berengsek itu.
“Nessia, kamu harus menjaga diri. Laki-laki yang menyentuh wanita sebelum menikah, artinya tidak menghargai wanita.” Papi Dathan ikut menasehati.
“Bagus kalau kamu punya mimpi. Jadi jangan biarkan orang menghancurkan mimpimu.” Danish ikut menasehati. Sekali pun kadang mulutnya pedas, tetapi dia sangat perhatian. Dia selalu menjaga Nessia.
“Iya.” Nessia melirik malas.
Acara Papi Dathan yang menawari Loveta justru berujung pada acara menasehati Nessia. Apalagi Loveta tidak menginginkan apa pun. Mungkin karena masih awal kehamilan. Jadi dia belum ngidam seperti layaknya ibu hamil pada umumnya.
Tepat jam sepuluh, Danish dan Nessia berpamitan. Mereka harus segera ke kampus karena jadwal kuliah mereka siang ini. Kini di apartemen tinggal Mami Neta dan Papi Dathan.
__ADS_1
Seharian Mami Neta dan Papi Dathan menemani Loveta. Di sela-sela istirahat Loveta, mereka mengobrol banyak. Terutama tentang kehamilan. Mami Neta berbagi cerita bagaimana kehamilan dulu. Tentu saja Loveta sangat bersemangat mendengar cerita itu. Karena dengan begitu dia punya pelajaran yang harus diambil.
Liam memilih untuk pulang lebih awal. Karena itu tepat jam tiga dia sudah pulang ke rumah. Selain pekerjaan yang sudah selesai, dia tidak tega meninggalkan istrinya terlalu lama.
Saat Liam sudah pulang, Mami Neta dan Papi Dathan memilih untuk pulang. Karena kini sudah ada Liam yang menjaga Loveta.
“Terima kasih, Pi, Mi, sudah menjaga Cinta.” Liam bersyukur sekali ada keluarga yang membantunya. Tentu saja itu membuatnya merasa senang.
“Sama-sama. Besok Mami dan Papi akan ke sini lagi.” Papi Dathan menepuk bahu menantunya. Dia justru senang ketika mengambil bagian menjaga anaknya.
“Iya, Pi.” Liam mengangguk. Memang besok dia masih butuh mertuanya menjaga Loveta. Barulah lusa dia bisa menjaga Loveta sendiri. Karena itu adalah hari peluncuran sepatu baru koleksi mereka.
“Mami sudah siapkan makan malam. Jadi kamu tinggal hangatkan.” Mami Neta tadi sengaja memasak sewaktu di apartemen Loveta. Selain agar ada kegiatan, tentu saja agar bisa memastikan anaknya makan dengan baik. Apalagi tadi Loveta lahap memakan makanan yang dibuat untuknya.
“Terima kasih, Mi.” Memiliki ibu memang adalah hal yang luar biasa, dan itu kembali dirasakan Liam sejak menikah dengan Loveta. Mami Neta menyayanginya seperti anaknya sendiri.
“Kami pulang dulu.” Papi Dathan dan Mami Neta segera pergi.
Liam segera masuk ke kamar. Istrinya sedang tidur. Kata mertuanya tadi, sepanjang siang dia mendengarkan cerita tentang kehamilan, jadi tidak tidur saat siang. Akhirnya menjelang sore Loveta baru mengantuk.
__ADS_1
Liam ke kamarnya. Melihat sang istri begitu pulas membuatnya merasa senang. Wajah Loveta begitu tenang sekali ketika tidur. Baginya, Loveta adalah anugerah terindah. Dia akan menjaga istri dan anaknya itu.