
Loveta menunggu Liam yang menjemputnya. Saat melihat mobil Liam datang, Loveta segera keluar. Menghampiri mobil Liam.
Liam yang melihat Loveta segera membuka pintu mobilnya. Mempersilakan Loveta masuk.
Tak menunggu lama, Liam segera melajukan mobilnya. Menuju ke restoran yang Loveta mau. Kebetulan restoran tak jauh dari toko perhiasan.
Di restoran, mereka memilih menu makanan. Makan siang kali ini tentu saja membuat Loveta senang. Apalagi baru saja dia mendapati bunga dari Liam.
“Aku sudah memajangnya di ruanganku.” Dengan semangatnya Loveta menceritakan.
“Pasti menambah indah ruanganmu.” Liam tersenyum.
Loveta mengangguk. “Ini bunga pertama yang aku dapat.” Karena bahagianya, dia menceritakan hal itu.
“Apa kekasihmu tidak pernah memberikanmu bunga?” tanya Liam memastikan.
“Tidak. Dia tidak pernah melakukan hal-hal romantis seperti itu.” Loveta merasa Leo memang begitu dingin dan kaku. Hingga membuatnya merasa jika kadang tidak ada bedanya antara pacar dan teman.
Liam menemukan celah. Dia bisa mengisi kekosongan keromantisan itu.
“Aku akan mengirimi bunga setiap waktu jika kamu mau.” Liam tertawa.
__ADS_1
Loveta ikut tertawa. “Yang ada nanti toko perhiasan akan jadi toko bunga.” Loveta tertawa.
Makanan yang dipesan mereka akhirnya datang. Obrolan itu harus terjeda sejenak.
“Mami tadi bilang jika akhir pekan ini kita akan makan bersama.” Di tengah-tengah makan Loveta teringat dengan rencana sang mami.
“Iya, Kak Neta sudah mengabari aku. Nanti aku akan jemput Bu Kania untuk makan malam bersama. Aku juga sudah pesankan hotel di sana. Jadi Bu Kania tidak perlu pulang malam-malam. Apa kamu mau dipesankan juga?” Liam memasukkan makanan sambil menatap Loveta.
“Emm ... aku lihat dulu, kalau mami dan papi ikut menginap, aku akan ikut menginap. Jika tidak, aku juga tidak.”
Liam mengangguk-anggukkan kepalanya. Tidak mau memaksa Loveta untuk ikut menginap di hotel.
Mereka berdua membahas bagaimana nanti berangkatnya. Rencananya, Liam akan menjemput Loveta dulu. Setelah itu barulah menjemput Bu Kania. Papi Dathan akan membawa satu mobil, itu pun sudah terisi dengan Mami Neta, Danish, Nessia. Jadi Loveta harus berangkat dengan Liam agar Loveta tidak membawa mobil sendiri.
...****************...
Sejak dua hari pertengkaran dengan Loveta, Leo tidak menghubungi Loveta. Namun, kini dia menunggu Loveta menghubunginya. Beberapa kali dia melihat ponselnya. Sayangnya, tidak ada kabar apa pun dari Loveta. Padahal ini akhir pekan. Biasanya, Loveta akan sibuk mengajaknya keluar seperti layaknya orang berpacaran.
“Kamu tidak pergi jalan dengan Lolo?” Bella ikut duduk di sofa. Tepat di samping anaknya.
“Tidak, aku tidak pergi dengan Lolo.” Leo mengganti saluran televisi. Seharian tadi Leo memilih di rumah. Sabtu waktunya istirahat baginya. Jadi seharian tadi dia di rumah.
__ADS_1
“Kalian bertengkar?” tanya Bella pada sang anak.
“Tidak.” Leo menjawab singkat.
Bella tahu jika pasti ada masalah antara anaknya dan Loveta, tetapi dia yakin jika bukan masalah sepele.
“Jika Lolo marah, coba bujuklah dengan mengajaknya pergi. Mungkin makan malam atau menonton film.” Bella memberikan ide.
Sejenak Leo berpikir. Jika itu yang biasa dilakukan Loveta ketika mereka bertengkar. Loveta akan langsung mengajak keluar dan setelah itu mereka akan berbaikan.
Apa aku harus melakukan seperti yang Lolo lakukan? tanya Leo dalam hatinya.
Setelah memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya Leo merasa jika mungkin dia bisa melakukannya.
Dengan segera Leo berdiri. Dia berpikir akan melakukan yang dilakukan oleh Loveta.
“Mau ke mana?” tanya Bella yang melihat anaknya berdiri.
“Mau menemui Loveta dan mengajaknya pergi.” Leo segera menuju ke kamarnya. Mengambil kunci mobil serta jaketnya.
Bella senang anaknya inisiatif. Anaknya memang terlalu kaku sekali. Seperti papanya. Jadi harus banyak wanita yang bertindak. Karena pengalaman itu, tentu saja dia harus membuat anaknya bersikap manis pada Loveta. Bella tidak mau sampai kehilangan calon mantu dari keluarga terhormat.
__ADS_1