Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 85


__ADS_3

“Kak Liam yang buat sepatunya. Aku yang hiasi sepatunya.” Loveta memberitahu maksudnya.


“Ide yang bagus.” Liam setuju dengan ide Loveta.


Liam melanjutkan mengukur sepatu. Kemudian dia menggambar sepatu untuk Loveta.


Mereka merebahkan tubuh di lantai berlapis karpet. Posisi mereka berdua tengkurap. Menghadap ke buku gambar.


Liam menggambar lebih dulu sepatu yang dibuat.


“Aku mau yang jangan terlalu runcing. Agar tidak terlalu sakit.” Loveta mengungkapkan seperti apa sepatu yang diinginkannya.


“Baiklah, aku akan buat tidak runcing.” Liam menggambar sesuai dengan keinginan Loveta.


Tak hanya tinggal diam, Loveta ikut menggambar. “Nanti aku akan berikan berlian di bagian ini.” Loveta menggambar berlian di atas sepatu.


“Sepertinya akan sangat cantik.” Liam melihat begitu cantik sekali gambar yang dibuat Loveta.


“Apa akan bisa jadi dalam dua minggu?” tanya Loveta menoleh ke arah Liam.


“Tentu saja bisa. Aku akan membuat sepatunya setelah ini dan kita bisa menghiasnya segera.” Liam tentu akan berusaha untuk dapat membuat sepatu untuk pernikahan sang istri.


“Aku tak sabar untuk memakainya.” Loveta begitu bersemangat sekali.


Melihat Loveta yang begitu senang membuat Liam terus memandangi Loveta.


“Kenapa Kak Liam memandangi aku seperti itu?” Loveta salah tingkah ketika Liam memandanginya.

__ADS_1


“Sejak kecil kamu selalu ceria sekali. Saat melihatmu menangis aku merasa sedih sekali.” Liam membelai lembut wajah Loveta.


“Apa Kak Liam tidak akan membuat aku menangis?” tanya Loveta.


“Tidak. Aku janji tidak akan pernah membuatmu menangis.” Liam sangat mencintai Loveta. Jadi tentu saja dia tidak akan membiarkan Loveta bersedih.


Liam memiringkan tubuhnya ke arah Loveta. Membelai lembut wajah Loveta. Pandangannya tertuju pada bibir menggoda milik calon istrinya itu. Perlahan, dia mendekatkan bibirnya. Mendarat tepat di bibir calon istrinya itu.


Pagutan lembut yang dilakukan Liam membuat Loveta memejamkan matanya. Merasakan gerakkan lembut yang dilakukan oleh Liam.


Ini adalah ciuman pertama mereka sejak memutuskan menikah. Rasa cinta yang menggebu membuat keduanya larut dalam tautan bibir itu.


Saat Liam melepaskan bibirnya Loveta, dia tersenyum manis pada gadis cantik di depannya itu.


Mendapati tatapan Liam jelas membuat Loveta malu. Dia segera menyembunyikan wajahnya di dalam dada Liam.


“Apa kamu juga akan malu nanti saat malam pertama?” tanya Liam polos.


Liam hanya tertawa melihat aksi malu-malu Loveta. Dia senang sekali melihat hal itu.


 


...****************...


Malam ini, Liam dan Loveta pergi ke rumah Mama Ariel dan Papa Adiel. Liam sudah melamar Loveta langsung pada Papa Dathan, tetapi belum mengatakannya pada Mama Arriel langsung.


“Kak, aku mau menikah dengan Cinta.” Liam menjelaskan pada Papa Adriel.

__ADS_1


Papa Adriel dan Mama Arriel saling pandang. Mereka sudah mendapat kabar dari Mami Neta. Karena itu mereka tidak terkejut.


“Tentu saja kami merestui kalian.” Papa Adriel langsung setuju.


Mama Arriel langsung memeluk anaknya. “Mama senang kamu cepat bangkit. Tidak bersedih terlalu lama.” Dia melihat sendiri bagaimana kemarin-kemarin anaknya bersedih.


“Iya, Ma. Kak Liam hadir di saat yang tepat.” Loveta menatap Liam. Dia merasa memang Liam hadir di waktu yang tepat.


“Yang terpenting kalian bahagia.” Sebagai seorang ibu, Mama Arriel ikut bahagia jika anaknya bahagia.


“Kapan kalian akan menikah?” tanya Papa Adriel.


“Waktu pernikahannya sama, Pa. Hanya pengantinnya yang berbeda.” Malu-malu Loveta menjelaskan.


Papa Adriel tertawa. “Aku pikir rencana kemarin akan sia-sia. Ternyata tidak juga.”


“Benar. Rencana itu hanya menunggu orang yang tepat saja.” Mama Arriel menambahkan.


“Jika kamu menikah dengan Lolo, artinya kamu tidak menjadi adikku lagi?” Papa Adriel menggoda Liam.


“Sepertinya begitu. Karena aku akan menjadi menantu Kak Adriel.” Liam tersenyum.


“Jika kamu jadi menantuku, artinya kamu harus memanggilku papa.” Papa Adriel tertawa. Terasa lucu ketika terbiasa melihat Liam sebagai adiknya dan kini jadi menantunya.


“Iya, Papa Adriel.” Walaupun masih canggung, Liam mencoba memanggil itu.


“Astaga, masih terdengar canggung sekali.” Papa Adriel tertawa.

__ADS_1


Liam, Loveta, dan Mama Arriel pun juga ikut tertawa. Mereka merasa lucu ketika mengubah panggilan.


 


__ADS_2