
Suara bel terdengar, Liam langsung segera membuka pintu. Dia yakin sekali jika itu adalah Mami Neta. Benar saja, saat membuka pintu, Mami Neta berada di depan pintu. Namun, ternyata Mami Neta tidak sendirian. Ada Papi Dathan, Nessia, dan juga Danish.
“Hai, Kak.” Nessia menyapa Liam.
“Hai, kalian ikut juga?” tanya Liam.
“Iya, kami ingin bertemu Kak Cinta. Mau mengucapkan selamat atas kehamilannya.” Nessia memang berniat bertemu kakaknya dulu sebelum pergi ke kampus. Dia ingin ikut bagian dari kebahagiaan sang kakak.
“Ayo, masuk.” Liam melebarkan pintu untuk mempersilakan keluarganya masuk.
Mami Neta langsung menuju ke dapur. Tadi dia membawa masakannya dari rumah. Berniat menikmati sarapan di apartemen. Nessia membantu sang mami yang sibuk di dapur, sedangkan Danish membuatkan kopi untuk sang papi yang duduk manis di ruang keluarga bersama Liam.
“Apa Loveta tadi muntah?” Papi Dathan penasaran dengan keadaan anaknya.
“Iya, Pi. Tadi dia muntah. Aku sudah buatkan teh hangat dan dia kembali tidur lagi.” Liam menjelaskan hal itu. “Aku sedikit khawatir dengan keadaannya.” Liam masih belum tega dengan keadaan sang istri.
“Tenanglah, para wanita itu adalah mahkluk yang kuat. Mereka pasti akan baik-baik saja.” Papi Dathan tersenyum. Mengingat bagaimana sang istri dulu, membuatnya merasa jika semua wanita pasti juga sama. Sama kuatnya dengan sang istri.
Liam berharap apa yang dikatakan mertuanya benar. Karena dia benar-benar tidak tega melihat sang istri yang mual dan muntah sepanjang waktu.
“Kalian sudah datang.” Loveta yang keluar melihat keluarganya di sana.
__ADS_1
“Sayang.” Liam segera berdiri ketika melihat sang istri yang keluar dari kamarnya.
“Kak Cinta.” Nessia begitu senang melihat kakaknya. Orang yang sedari tadi ditunggunya.
Liam memapah Loveta ke ruang keluarga. Bergabung dengan Papi Dathan. Loveta duduk di sofa berhadapan dengan Papi Dathan. Nessia yang tidak sabar langsung menghampiri kakaknya.
“Selamat Kak Cinta.” Nessia memeluk sang kakak. “Akhirnya Kak Cinta hamil juga. Aku akan punya keponakan.” Dia meluapkan kebahagiaannya.
“Selamat, Kak. Atas kehamilan Kak Cinta.”
Loveta tersenyum. Ternyata adiknya khusus datang untuk memberikan ucapan selamat atas kehamilannya. Loveta jadi terharu sekali.
“Terima kasih.”
“Dasar, menyebalkan.” Tidak ada satu hari pun Danish tidak meledeknya. Membuat Nessia kesal pada saudara kembarnya.
“Sudah jangan bertengkar seperti itu. Ayo makan saja. Kakakmu juga harus makan.”
Mami Neta menghentikan aksi sepasang anak kembarnya itu. Karena makanan sudah selesai dipindahkan, mereka segera makan bersama.
Liam segera mengajak Loveta ke ruang makan. Disusul oleh Papi Dathan, Nessia, dan Danish. Di meja makan sudah tersedia nasi goreng buatan Mami Neta. Ada beberapa salad buah segar untuk yang tidak mau makan nasi pagi-pagi.
__ADS_1
“Nasi goreng.” Loveta selalu suka nasi goreng buatan sang mami sejak kecil. Ketika melihat hal itu, dia pun bersemangat sekali.
“Cepat makanlah.” Mami Neta ikut senang ketika anaknya tampak senang makan makanan yang dibuatnya.
Loveta segera makan. Saat tidak merasa mual, dia pun makan dengan lahap. Keluarga merasa senang sekali ketika Loveta mau makan. Liam juga mengambilkan salad buah untuk sang istri. Agar ada tambahan vitamin.
Mereka menikmati makan bersama-sama. Suasana sarapan kali ini sangat hangat. Sesekali mereka mengobrol. Mengisi keheningan ketika makan.
Beruntung sampai saat makan selesai, Loveta dapat makan dengan lancar. Tidak ada drama mual dan memuntahkan isi perutnya.
Selesai makan, Liam berpamitan pada istrinya. “Aku berangkat dulu. Jika ada apa-apa kabari aku.” Sebuah kecupan mendarat di dahi sang istri.
“Iya.” Loveta mengangguk.
“Ma … Pi … Titip Cinta.” Liam juga menitipkan Loveta pada mertuanya. “Nanti aku akan usahakan untuk pulang lebih cepat.” Dia menatap Papi Dathan dan Mami Neta.
“Tenanglah, kamu kerja saja dengan tenang.” Papi Dathan tersenyum. Tahu bagaimana perasaan suami meninggalkan istrinya di rumah dengan keadaan hamil.
Liam mengangguk. Segera dia keluar dari apartemen untuk ke kantor.
Kini di rumah tinggal Loveta dan keluarganya. Nessia dan Danish masih ada di sana juga karena mereka akan ada kelas di siang hari.
__ADS_1
“Kamu mau apa, Cinta? Mau makan sesuatu?” Papi Dathan menawari Loveta.