Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 98


__ADS_3

Seminggu sudah Liam dan Loveta bulan madu.  Mereka benar-benar puas sekali menikmati waktu bersama.


Sesuai dengan kesepakatan Liam dan Loveta, mereka pulang ke rumah keluarga Fabrizio.


Saat sampai di rumah ternyata semua orang ada di rumah.


“Pengantin baru akhirnya pulang juga.” Mami Neta begitu heboh ketika melihat anaknya pulang.


Liam dan Loveta saling pandang. Rasanya canggung sekali ketika mendapati dipanggil seperti itu.


“Wah ... apa adik kecilnya sudah jadi?” Nessia langsung menghampiri sang kakak.


“Mana bisa langsung jadi. Makanya saat pelajaran biologi kamu jangan tidur terus.” Danish menyindir saudara kembarnya itu. Tangannya yang iseng memukul pelan kepala Nessia.


“Aku tidak tidur. Hanya aku tidak suka saja pelajaran biologi.” Nessia memegangi kepala yang dipukul Danish.


“Kenapa tidak suka?” tanya Danish penasaran.


“Tidak ada praktiknya.” Seketika Nessia tertawa.


Mendengar jawaban anaknya itu membuat Dathan langsung menjewer telinga anaknya.


“Anak nakal. Sejak kapan pelajaran biologi harus pakai praktik?” Papi Dathan takut anak perempuannya macam-macam. Sebagai orang tua, dia menjaga dengan baik anaknya. Namun apa jadinya jika anaknya nanti lepas kendali.


“Papi, aku hanya bercanda.” Nessia tidak benar-benar ingin melakukan itu. Papi dan maminya selalu menasihatinya untuk menjaga diri. Jadi dia tidak akan melalukannya.

__ADS_1


“Awas saja jika kamu nakal. Papi tidak rela anak perempuan papi disentuh sebelum menikah.” Papi Dathan melepaskan tangannya yang berada di telinga Nessia.


“Iya, Papi. Aku tidak akan melakukannya.” Nessia memegangi telinganya. Padahal papinya tidak kencang menjewernya.


“Rasakan itu.” Danish meledek Nessia.


“Kamu juga. Jangan sampai melalukan hal di luar norma. Jaga wanita dengan baik. Kamu punya saudara perempuan. Jadi menjaga gadis lain sama seperti menjaga saudara perempuanmu.” Papi Dathan memberitahu Danish.


“Iya, Pi. Aku tahu.” Danish selalu mengingat ucapan Papi Dathan.


“Rasakan itu.” Nessia balas meledek.


Liam langsung tertawa melihat perdebatan itu. Terasa lucu sekali.


“Hal seperti ini biasa di rumah ini. Jadi kamu akan melihatnya sering-sering.” Loveta berbisik pada Liam.


“Lihatlah, kalian menyambut anggota baru dengan perdebatan.” Mami Neta menegur anak dan suaminya.


“Tidak apa-apa, Kak.” Liam tersenyum.


“Kak?” Nessia, Danish, Loveta, dan Mami Neta bersamaan mengucapkan kata itu.


Seketika Liam tersadar. Dia lupa panggilannya pada Mami Neta. “Mami maksudku.” Dengan polosnya dia tersenyum.


Mami Neta tersenyum. Selalu saja lucu mendengar Liam yang belum terbiasa memanggilnya mami.

__ADS_1


“Sudah, kalian istirahat dulu saja.” Papi Dathan menghentikan aksi dari istri dan anak-anaknya.


“Iya, kalian pasti sangat lelah. Jadi kalian istirahat dulu saja.” Mami Neta ikut menimpali.


Loveta dan Liam saling pandang. Jika ditanya lelah, sebenarnya tidak terlalu lelah. Namun, memang mereka butuh istirahat.


“Baiklah, kami istirahat dulu, Pa, Mi.” Loveta berpamitan. Kemudian memberikan isyarat mata pada Liam untuk ikut dengannya.


“Permisi.” Liam dengan sopan berpamitan. Kemudian ikut Loveta ke kamarnya yang berada di lantai atas.


Loveta dan Liam masuk ke kamar. Kamar dengan nuansa coklat dan putih mendominasi kamar. Warna-warna itu terlihat begitu hangat.


Liam memerhatikan kamar Loveta. Di sudut kamar. Tepatnya di atas nakas, ternyata ada fotonya sewaktu kecil.


“Itu fotoku?” tanya Liam.


“Aku pasang setelah kamu menyatakan cinta.” Loveta malu-malu menjawab. Berbeda dengan Liam yang memasang sejak lama, dia baru memasangnya sekarang.


“Tidak masalah dipasangnya sekarang. Yang penting kamu menyimpan fotoku sejak lama.” Liam menyelipkan rambut Loveta di balik telinganya.


“Sebenarnya mami yang menyimpan.” Loveta semakin malu. Karena bukan dirinya yang menyimpan.


Liam tampak kecewa.


“Tapi, setelah ini aku akan menyimpan tidak hanya fotomu. Tapi, aku akan menyimpan namamu di hatiku. Aku tempatkan di tempat yang paling dalam. Hingga tidak akan pernah kamu bisa keluar.” Loveta melingkarkan tangannya di leher sang suami. Tatapan penuh damba tertuju pada Liam.

__ADS_1


“Aku tidak akan pernah pergi dari dalam hatimu.” Liam mengkis jarak. Berniat mendaratkan kecupan di bibir sang istri.


“Kak ....” Belum sempat bibir Liam sampai di bibir sang istri, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.


__ADS_2