Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 125


__ADS_3

Liam membuat janji dengan Lavelle. Sebelum kerja sama ditandatangani, Liam ingin melihat gudang tempat penyimpanan dari Fresh-Fresh Shop. Lavelle meminta Liam datang ke gudang. Dia mengirimkan pesan pada Liam alamat gudang milik perusahaannya. Bersama asistennya, Liam datang ke gudang terseb


Saat sampai, Liam melihat area gudang penyimpanan yang begitu luas sekali. Liam tidak menyangka akan seluas ini.


Ada beberapa gedung. Di depan gedung ditulis masing-masing nama produk apa saja yang ada di dalamnya.


“Selamat datang, Pak Wiliam.” Lavelle menyambut kedatangan Liam.


“Ternyata gudangnya besar sekali.” Liam memuji.


“Karena toko kami sudah tersebar di beberapa daerah dan juga kami sudah bekerja sama dengan swalayan dan restoran, tentu saja kami perlu gudang besar.” Lavelle tersenyum.


Liam menyadari jika semakin luas jaringan, tentu saja itu membuat perusahaan semakin besar.


“Mari saya tunjukan.” Lavelle segera mengajak Liam untuk berkeliling.


Mengingat lokasi yang cukup luas, jadi mereka naik mobil golf yang biasa dipakai di lapangan golf. Lavelle sendiri yang menyetir. Mengantarkan Liam berkeliling.


Mereka berhenti di salah satu gedung. Lavelle mengajak Liam untuk masuk. Melihat isi dari gedung tersebut.


“Ini adalah area buah. Buah-buah memiliki penanganan berbeda-beda dengan suhu udara yang berbeda. Jadi kami memiliki ruangan yang berbeda untuk buah.” Lavelle menjelaskan ruangan yang ditunjukkan itu


Liam melihat suhu ruang berbeda-beda setiap ruangan. Dia cukup terkesan. Ternyata perlakuan pada buah pun lain-lain. Pantas saja mereka masih segar saat sampai pada konsumen.  


Mereka melanjutkan ke bagian sayur. Beberapa sayur yang disimpan di gudang juga begitu segar sekali.


“Kami mendapatkan  sayuran ini lebih banyak dari petani kita. Rata-rata semua organik. Beberapa juga diekspor.” Lavelle mencoba menjelaskan.


“Jadi kalian juga membantu perekonomian petani lokal?” tanya Liam.


“Iya, kami juga memberikan pelatihan penanaman yang baik.”


Liam cukup terpukau. Ternyata masih banyak perusahaan yang masih peduli dengan kesejahteraan penduduk.

__ADS_1


Mereka melanjutkan kembali ke gedung daging. Lavelle menunjukkan daging-daging yang dijual. Liam memilih beberapa daging pilihan yang diminta chef-chef restorsnnya.


Usai berkeliling, Lavelle meminta Liam ke kantornya. Mereka menandatangani kontrak kerja sama. Pihak Fresh-Fresh Shop akan menyuplai bahan-bahan yang dibutuhkan restoran.


“Senang sekali akhirnya bisa bekerja sama.” Liam menjabat tangan Lavelle.


“Perusahaan kami juga senang bisa bekerja sama dengan restoran Pak Wiliam.” Lavelle menerima uluran tangan Liam.


Usai penandatanganan kontrak kerja sama, Lavelle mengajak Liam memakan beberapa produk dari perusahaannya. Sudah ada chef yang diudang khusus menyajikan makanan.


“Silakan, semoga sajian ini seenak makanan di restoran Pak Wiliam.” Lavelle mempersilakan Liam.


“Tentu saja jika dimasak chef handal akan membuat masakan enak.” Liam langsung menikmati makanan yang disajikan. Sambil mengobrol ringan dengan Lavelle.


“Pak Wiliam sejak dulu berjambang?” tanya Lavelle di tengah-tengah menikmati makanan bersama Liam dan asistennya.


Liam yang mendapati pertanyaan itu langsung tersedak. Dia benar-benar tidak menyangka mendapati pertanyaan itu.


Liam buru-buru minum. Melegakan tenggorokannya. Kemudian menjawab pertanyaan Lavelle.


Jika dia berjambang terus, artinya bukan pria itu.


“Maaf saya menanyakan pertanyaan itu.” Lavelle tersenyum malu.


“Tidak apa-apa.” Liam memaksakan senyum.


“Apa Pak Wiliam suka minum?” tanya Lavelle memastikan kembali.


“Jika dibilang suka, tidak terlalu.” Liam menjawab kembali.


“Tapi, pernah minum?” tanya Lavelle lagi.


“Iya.” Liam mengangguk.

__ADS_1


Dia suka minum. Pria itu juga suka minum. Aku jadi bingung Wiliam ini pria itu apa bukan.


Liam benar-benar bingung dengan pertanyaan Lavelle. Namun, dia tidak enak jika tidak menjawab.


“Berapa lama Pak Wiliam sudah menikah?” Lavelle sudah seperti wartawan yang bertanya terus.


“Sudah hampir dua bulan.” Ketika pertanyaan mengarah pribadi memang terasa tidak nyaman sekali. Namun, mau bagaimana lagi. Liam harus bersikap baik.


Hampir dua bulan artinya, setelah hari itu pria ini menikah. Apa dengan wanita yang menangis datang ke apartemen kala itu?


Lavelle bertanya-tanya terus tentang siapa wanita yang menikah dengan Liam.


“Seperti apa istri Pak Wiliam? Apa ada fotonya?” tanya Lavelle.


Untuk sesaat Liam terdiam. Dia masih mencerna ucapan Lavelle.


“Untuk apa Anda ingin melihat foto istri saya?” tanya Liam memastikan.


“Aku hanya ingin memastikan sesuatu saja.” Lavelle begitu penasaran sekali. Jika istri Liam adalah wanita yang kala itu, bisa jadi Liam memang benar-benar pria yang tidur dengannya.


Liam sebenarnya ragu untuk menunjukkan foto Loveta, tetapi Lavelle tampak begitu ingin sekali melihat.


Dengan segera Liam mengambil ponselnya. Kemudian menunjukkan foto Loveta pada Lavelle.


“Wanita itu.” Lavelle membulatkan matanya. Ternyata benar. Wanita itu adalah wanita yang kala itu dilihatnya di apartemen. Lavelle kemudian mengalihkan pandangan pada Liam.


Jadi dia pria yang tidur denganku.


Lavelle sudah mendapatkan beberapa petunjuk. Jadi dia yakin jika Liam adalah pria itu.


“Kamu kenal istriku?” tanya Liam memastikan ketika melihat Lavelle tampak mengenal Loveta.


“Apa kamu adalah pria yang waktu itu tidur di apartemen denganku?” Lavelle tanpa berbasa-basi langsung bertanya.

__ADS_1


Pertanyaan itu sontak membuat Liam terkejut. Bagaimana bisa dirinya tidur dengan Lavelle jika dia baru pertama kali bertemu dengan Lavelle. Dan lagi, seumur hidupnya, dia baru tidur dengan sang istri. Lalu bagaimana bisa dia tidur dengan wanita lain.


 


__ADS_2